Yuk, Mengenal Kawasan Konservasi di Daerah Istimewa Yogyakarta!

Diposting pada

Potensi objek wisata alam: panorama alam Gunung Menoreh, Waduk Sermo.

Kawasan hutan Sermo merupakan hutan negara dengan fungsi sebagai hutan produksi yang pengelolaannya dilakukan oleh Pemerintah Daerah Provinsi DIY pelaksananya Dinas Kehutanan 42 Propinsi DIY.

Kemudian fungsi kawasan hutan hutan dirubah menjadi fungsi lindung (hutan lindung) Kawasan hutan Sermo merupakan hutan tanaman, di mana jenis-jenis vegetasinya ditanam mulai pada tahun empat puluhan hingga tahun sembilan puluhan. Sejak hutan Sermo mempunyai fungsi produksi dan lindung, upaya pengelolaan dan pengamanan terus dilakukan oleh Pemerintah Daerah, utamanya telah dibentuk institusi terendah yaitu Resort Polisi Hutan Sermo, dengan dibangun sarana kerja berupa kantor.

Potensi kawasan :

1. Flora

Ada 35 jenis di antaranya: jati (Tectona grandis), mahoni (Swietenia mahagoni), akasia, kayu putih (Melaluca leucadendron), sono keling (Dalbergia latifolia), secang (Caesalpinia boducella), kesambi (Schleichera oleosa), mindi (Melia azedarach), pulai (Alstonia scholaris), wedusan (Ageratum conyzoides), tapak liman (Elephantopus scaber), sambiloto (Andrographis panculata), putri malu (Mimosa pudica), kerinyu (Eupatorium odoratum), dan telekan (Lantana camara).

2. Fauna

Aves tercatat ± 30 jenis di antaranya: kepodang kuduk hitam (Oriolus chinensis), burung madu sriganti (Nectarinia jugularis), cikrak kutub (Phylloscopus borealis), cekakak jawa (Halcyon cianoventris), elang ular bido (Spilornis cheela), gelatik batu kelabu (Parus major), tekukur biasa (Streptopelia chinensis), merbah cerucuk (Pyconotus goaiver), ayam hutan (Gallus gallus), gemak loreng (Turnix suscitator), cekakak sungai (Todirhampus chloris), dan pelanduk semak (Malacocicla sepiarium).

Mamalia: monyet ekor panjang (Macaca fasicularis), musang luwak (Paradoxus hermaphrodites), babi hutan (Sus scrofa), dan garangan (Herpetes javanicus).

Insect: belum teridentifikasi.

 

5. Taman Nasional Gunung Merapi

Taman Nasional Gunung Merapi

Gunung Merapi merupakan kawasan berupa Taman Nasional yang memiliki ekosistem asli berupa perpaduan antara ekosistem gunung berapi dengan hutan dataran tinggi dan pegunungan. Kawasan ini  dikelola berdasarkan sistem zonasi dan dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, pendidikan, budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

Kawasan Hutan Gunung Merapi ditetapkan sebagai Taman Nasional Gunung Merapi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 134/Menhut-II/2004 pada tanggal 4 Mei 2004 tentang perubahan Fungsi Kawasan Hutan Lindung, Cagar Alam dan Taman Wisata Alam pada kelompok Hutan Gunung Merapi seluas ± 6.410 ha, terletak di Kabupaten Magelang, Boyolali dan Klaten, Provinsi Jawa Tengah serta Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (TNGM, 2009).

Kawasan hutan Gunung Merapi merupakan salah satu ekosistem pegunungan di Pulau Jawa bagian tengah. Secara administratif kawasan ini terletak di dua provinsi yaitu Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengelolaan kawasan Merapi terbagi menjadi beberapa fungsi konservasi sebagai Hutan Lindung, Cagar Alam, dan Taman Wisata Alam.

Pemerintah menggagas perubahan status kawasan menjadi taman nasional pada tahun 2001. Gagasan perubahan ini menimbulkan polemik. Di tengah suasana pro-kontra, pemerintah mengeluarkan SK Menhut No. 134/2004 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Lindung, Cagar Alam dan Taman Wisata Alam pada Kelompok Hutan Gunung Merapi seluas ± 6410 ha yang terletak di Kabupaten Magelang, Boyolali, Klaten, Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Sleman, Provinsi DIY menjadi Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).

Sebanyak 26 Organisasi non-pemerintah di bidang Lingkungan (Ornop-L) dan Organisasi akar rumput di kawasan Merapi menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap TNGM melalui Aliansi Masyarakat Peduli Merapi (AMPM) dan mendesak agar pemerintah mencabut kembali SK penetapan tersebut dengan alasan mengabaikan partisipasi masyarakat.

Upaya hukum yang ditempuh Walhi gagal. Sidang Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Jakarta tanggal 24 Januari 2005 dimenangkan oleh pemerintah. Proses persiapan menjadi TNGM selanjutnya terus dilakukan pemerintah. Sementara itu, Ornop-L yang masih kontra TNGM terus melakukan upaya penguatan jaringan. Suasana pro-kontra yang tak berkesudahan ini akan mempengaruhi upaya konservasi di kawasan Merapi. Penetapan kawasan konservasi Merapi menjadi TNGM berarti mengubah perolehan mekanisme akses dan hak terhadap sumberdaya alam di sana. Perubahan inilah yang memicu konflik pro-kontra TNGM.

Kawasan hutan Gunung Merapi merupakan salah satu ekosistem pegunungan di Pulau Jawa bagian tengah yang mempunyai nilai tinggi bagi kehidupan manusia di sekitar kawasan ini baik dari kajian ekologis, ekonomis, sosial dan budaya. Dari kajian ekologis, komponen biologis ekosistem hutan Gunung Merapi mempunyai keanekaragaman yang tinggi.

Di samping itu, gunung ini telah menciptakan ekosistem yang spesifik yaitu hutan tropika pegunungan dan pola suksesi vegetasi yang berkembang secara dinamis. Dari kajian ekonomis, sumberdaya lama Gunung Merapi telah lama dimanfaatkan masyarakat baik berupa material maupun jasa lingkungan. Material yang dimanfaatkan masyarakat antara lain pasir dan batu, hijauan pakan ternak, dan kayu bakar.

Jasa lingkungan yang dinikmati masyarakat sekitarnya adalah keindahan alam yang dikelola sebagai bisnis pariwisata, tata air yang menyediakan air bersih dan air pertanian sepanjang tahun melalui sejumlah mata air yang berada di kawasan ini, dari kajian sosial budaya, masyarakat di lereng-lereng kawasan hutan Gunung Merapi telah berinteraksi dalam jangka waktu ratusan tahun, interaksi-interaksi tersebut memunculkan beragam budaya hasil dari olah rasa antara manusia dan alam sekitarnya. Interaksi ini telah menciptakan sistem sosial dan budaya yang khas.

 

6. Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder

Taman Hutan Raya Bunder

Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder yang terletak di Desa Bunder, Kecamatan Playen Gunungkidul merupakan kawasan konservasi dengan ekosistem unik yaitu lokasi yang merupakan pertemuan tiga ekosistem. Ketiga ekosistem tersebut yaitu ekosistem gunung tua purba/ Gunung Nglanggeran (sebelah Utara), ekosistem Pegunungan Seribu Karst (sebelah timur) dan ekosistem/ lembah Wonosari (sebelah selatan).

Ketiga ekosistem ini telah ditetapkan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menjadi kawasan taman geologi, untuk dikembangkan sebagai Konservasi Paleoekosistem (Anonim, 2015).

Tahura Bunder mempunyai sejarah proses alam yang besar dan menarik untuk dijadikan bahan pelajaran peristiwa ekosistem masa lalu yang perlu diabadikan dan diketahui oleh masyarakat luas. Rencana pengembangan wisata untuk konservasi paleoekosistem kawasan Gunungkidul yaitu dengan mengembangan wisata paleologis (paleological). Paleologi adalah ilmu kepurbakalaan (Tamburello, 1957), sehingga Paleologis mempunyai arti bersifat ilmu-ilmu purbakala atau berkaitan dengan Paleologi.

Wisata Paleologis berkaitan dengan ilmu-ilmu masa lalu yang akan dibangun di Tahura Bunder yaitu atraksi arboretum tanaman karst purba (paleobotani), museum zoologi purba (paleozoologi) dan teater ekosistem purba (paleoekosistem). Apabila hal itu terwujud, Tahura Bunder mempunyai kekhasan dan keistimewaan dengan mengangkat tema paleologis, dan hanya satu-satunya di Indonesia (Anonim, 2015).

Tahura Bunder memiliki beberapa potensi fisik yaitu kondisi topografi, variasi kemiringan lereng, variasi jenis tanah, kondisi suhu, kenampakan geologi, kenampakan hidrologi, ragam fauna terutama jenis burung, ragam flora, aksesibilitas, serta sarana dan prasarana dasar penunjang.

Selain itu, kawasan ini memiliki potensi non fisik berupa berbagai instansi yang dapat dijadikan sebagai lokasi pembelajaran geografi, program Eco-Edu Tourism dari pengelola. Faktor yang menjadi pendukung pengembangan kawasan sebagai laboratorium alam geografi adalah (a) Ketersediaan sumber belajar geografi (b) Program Ecoedu Tourism dari pengelola kawasan Tahura Bunder (c) Panorama alam yang indah (d) Aksesibilitas tinggi (e) Tingkat keamanan tinggi.

Keunikan dan potensi dari kawasan Tahura Bunder ini belum banyak dilirik untuk kegiatan pembelajaran. Kondisi fisik kawasan Tahura Bunder ini menunjang untuk dijadikan kawasan penelitian dan pendidikan. Tahura Bunder memiliki unit persemaian tanaman hutan milik Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi DIY terletak di blok 19 RPH Bunder, BDH Playen Kabupaten Gunungkidul, Areal penangkaran satwa berada di blok 22 seluas kurang lebih 6,2 hektar yang berbatasan dengan lokasi persemaian.

Industri yang terdapat di kawasan Tahura Bunder adalah industri pengolahan minyak kayu putih yang terletak pada blok 22E bagian selatan, di mana industri tersebut dikelola oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Rest Area Bunder yang digunakan sebagai lokasi peristirahatan transportasi dari dan menuju Kota Wonosari (Khairun Nisa, 2007: 112-114).

Kawasan Tahura Bunder mempunyai berbagai jenis hewan dilindungi seperti Burung Madu Sriganti (Nectarinia juularis), Elang Ular Bido (Spizaetus cheela), Elang Alpa Cina (Accipiter soloensis), Raja Udang Meninting (Alcedo meninting), Alap-Alap Sapi (Falco sylvatica), Burung Madu Kelapa (Anthreptes malacensis).

Selain enam spesies hewan yang dilindungi ini kawasan Tahura Bunder juga memiliki kurang lebih 37 jenis satwa liar. Kawasan Tahura Bunder juga menyimpan kekayaan spesies tumbuhan, sekitar 39 jenis spesies tumbuhan teridentifikasi ada dalam kawasan Tahura Bunder, contohnya adalah Kayu Putih (Melaleuca leucadendron), Jati (Tectona grandis), Kemiri (Aleurites moluccensis), Cemara (Casuarina equisetifolia), Akasia (Accacia auriculiformis), Mahoni (Swietina macrophyta) dan lain-lain (BKSDA DIY: 2007).

 

7. Ekosistem

7.1 Kabupaten Bantul

Lokasi: Pantai Selatan