Virus: Pengertian, Sejarah, Ciri-Ciri, Klasifikasi, Bentuk, dan Cara Hidup

Diposting pada

Bumi sebagai tempat hidup organisme, memiliki sejumlah potensi merugikan yang dapat menyerang kesehatan. Makhluk hidup yang bersifat parasit membutuhkan inang sebagai tempatnya hidup dan tidak jarang akan menyebabkan penyakit hingga kematian makhluk lain. Sementara itu, sebagian besar penyebab penyakit yang ada di bumi berasal dari organisme yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, salah satunya virus.

Penempatan virus sangat berbeda dengan makhluk hidup lainnya karena ia merupakan fase peralihan antara yang hidup dan yang mati.

Kemampuannya untuk bertahan di luar inang menyebabkan ia dapat bertahan dalam kondisi yang ekstrem sekalipun. Hal tersebut menimbulkan kewaspadaan terhadap serangan mikroba ini.

Ilustrasi DNA
Ilustrasi DNA

1. Pengertian Virus

Definisi virus dapat dilihat dari dua bidang keilmuan, yaitu biologi dan ilmu komputer.

Namun secara umum, objek ini merupakan cabang ilmu dari biologi. Istilah ‘virus’ sendiri berasal dari bahasa Yunani ‘venom’ yang berarti racun.

Pengertian virus dalam cabang ilmu biologi adalah parasit mikroskopis yang dapat menginfeksi sel hidup dari organisme.

Advertisement nature photography

Parasit yang bersifat obligat ini bereproduksi di dalam material hidup dengan memanfaatkan sel-sel inang karena tidak memiliki kemampuan untuk reproduksi secara mandiri. Sampai saat ini, sebenarnya definisi virus ini masih menjadi perdebatan antar ilmuwan.

Menurut beberapa ahli dan ilmuwan, virus adalah peralihan antara makhluk hidup dan makhluk tidak hidup.

Ia tidak dapat dikatakan sebagai makhluk hidup karena tidak dapat menjalani fungsi biologisnya secara bebas.

Sementara itu, ia tidak dapat dikatakan makhluk tidak hidup karena memiliki material genetik berupa DNA atau RNA dalam tubuhnya.

2. Sejarah Virus

Sejarah virus berawal sejak zaman sebelum masehi di mana terdapat laporan mengenai penyebab penyakit poliomyelitis.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1400 SM dan tercatat dalam hieroglif di Memphis, ibu kota Mesir kuno.

Jauh sebelum itu, pada tahun 1000 SM terdapat virus yang menyerang masyarakat Tiongkok yaitu smallpox.

Sementara itu pada tahun 1798, Edward Jenner menemukan peristiwa aneh di mana para pemerah susu memiliki kekebalan terhadap smallpox.

Hal ini diduga karena pox pada sapi melindungi manusia.

Penemuan tersebut merupakan pelopor penggunaan vaksin.

Louis Pasteur dan Robert Koch, seorang ahli kimia dan mikrobiologi dari Prancis, mengemukakan “germ theory” pada tahun 1880 yaitu penyakit disebabkan oleh mikroorganisme atau yang biasa dikenal dengan Prostulat Koch.

Perkembangan mengenai penelitian parasit ini berawal dari penelitian penyakit mosaik yang menyebabkan bercak-bercak pada daun tanaman tembakau.

Seorang ilmuwan Jerman, Adolf Mayer, menemukan bahwa penyakit tersebut dapat menular ketika disemprot getah tanaman yang sakit pada tanaman yang sehat.

Namun, ia tidak dapat menemukan adanya mikroba penyebab penyakit di dalam getahnya.

Ia menduga penyakit tersebut disebabkan oleh mikroorganisme yang tidak dapat dilihat melalui mikroskop.

Penelitian tersebut dilanjutkan oleh Dmitri Ivanovsky dari Rusia pada tahun 1892 yang menggunakan penyaring bakteri terhadap getah tanaman sakit tersebut.

Setelah dilakukan penyaringan, getah tersebut masih dapat menyebabkan penyakit pada tanaman sehat.

Ia menduga adanya dua kemungkinan, yaitu penyakit tersebut disebabkan oleh mikroba yang berukuran lebih kecil dari bakteri, atau mikroba tersebut memiliki zat toksin yang menyebabkan dapat menembus jaringan.

Kemungkinan kedua dibantah oleh Martinus Beijerinck pada tahun 1897 karena agen infeksi di getah yang sudah disaring dapat bereproduksi dan menyebabkan penyakit.

Ia menduga yang menyebabkan penyakit ini bukanlah bakteri, namun contagium vivum fluidum, yaitu cairan hidup bersifat patogen.

Wendell Meredith Stanley, seorang ahli dari Amerika, membuktikan pendapat Beijerinck pada tahun 1935 dengan berhasil mengkristalkan partikel penyebab penyakit mosaik yang dikenal sebagai Tobacco Mosaic Virus.

Penemuan ini merupakan penemuan yang pertama divisualisasikan dengan mikroskop elektron pada tahun 1939.

Ia mengemukakan bahwa virus akan tetap aktif meskipun dalam fase kristal.