Tsunami: Pengertian, Jenis, Dampak, dan Mitigasi

Diposting pada

9.1 Pendekatan Mitigasi Non Fisik

Mitigasi bencana tsunami dengan pendekatan non fisik biasanya dilakukan dengan memetakan tingkat kerawanan daerah tertentu terhadap bencana tsunami selanjutnya diadakan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan berbagai hal yang berkaitan dengan tsunami.

Hal-hal yang disosialisasikan kepada masyarakat biasanya mengenai:

  • Pengertian tsunami
  • Penyebab terjadinya tsunami
  • Ciri-ciri akan terjadinya tsunami
  • Dampak bencana alam tsunami
  • Cara penyelamatan diri dan evakuasi jika terjadi bencana

Sosialisasi ini penting agar masyarakat nantinya paham dan mengerti bagaimana cara mereka untuk menyelamatkan diri, andaikata terjadi bencana alam ini.

Selain dengan sosialisasi, perlu diadakan juga simulasi aksi bencana tsunami. Simulasi ini dimaksudkan agar masyarakat tidak panik saat memperoleh informasi ketika akan terjadi bencana alam tsunami. Dengan adanya simulasi ini juga, masyarakat akan terbiasa dengan keadaan yang genting sehingga ketika saat terjadi bencana masyarakat sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan.

9.2 Pendekatan Mitigasi Fisik

Mitigasi bencana dengan pendekatan fisik dapat dilakukan dengan upaya struktural, non struktural, maupun gabungan antar keduanya. Pemilihan upaya mitigasi fisik ini bergantung pada kondisi fisik pantai, tata ruang, tata guna lahan, serta modal yang tersedia.

Mitigasi fisik tsunami dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya adalah (Ihsan 2017):

9.2.1 Pendekatan non struktural dengan sabuk hijau (green belt)

Pendekatan non struktural dengan sabuk hijau misalnya perlindungan daerah pantai dari bencana tsunami dengan menggunakan vegetasi, seperti cemara laut (Casuarina equisetifolia), bakau, pohon api-api, nipah, dan vegetasi lainnya yang berhabitat di pantai.

Mitigasi dengan cara ini harus memenuhi persyaratan teknis dari vegetasi tersebut dalam meredam gelombang. Salah satu parameter yang paling penting adalah nisbah dari lebar hutan bakau dari pantai sampai ujung hutan mangrove yang menghadap langsung ke laut (B) dengan panjang gelombang tsunami (L), atau dapat dirumuskan dengan B/L. Semakin besar nilai B/L maka semakin efektif metode mitigasi bencana tsunami dengan sabuk hijau.

Hutan mangrove atau hutan bakau juga sangat efektif dalam meredam gelombang air laut atau ombak. Hutan mangrove ini dapat mencegah terjadinya abrasi juga.

9.2.2 Pendekatan struktural dengan peringatan dini

Salah satu upaya struktural dalam mitigasi bencana ini adalah pemberitahuan dini terjadinya tsunami. Penyampaian informasi ini dapat menggunakan sirine, lonceng, bel, dan sebagainya. Pemasangan alat pendeteksi dini mutlak harus dilakukan pada metode ini. Sistem peringatan dini menggunakan alat sensor kenaikan tinggi muka air laut, satelit, dan receiver gelombang yang langsung terhubung dengan alat pemberitahu bahaya bencana tsunami.

9.2.3 Bangunan sipil penahan tsunami

Bangunan sipil yang dikhususkan untuk menahan bencana tsunami di Indonesia belum pernah dibangun. Bangunan sipil ini dapat kita temui di negara Jepang. Meskipun sangat efektif dalam meredam terjangan gelombang air, bangunan ini dinilai merusak nilai estetik dari suatu lansekap di pantai.

9.2.4 Bangunan sipil untuk evakuasi

Lokasi evakuasi harus mudah dijangkau apabila bencana tsunami benar-benar terjadi. Lokasi evakuasi dapat berupa lahan yang memiliki ketinggian tertentu dan bangunan tinggi yang tahan terhadap gelombang dan getaran gempa. Apabila suatu pemukiman jauh dari dataran yang memiliki elevasi yang tinggi maka perlu dibuat suatu bangunan sipil yang dikhususkan untuk evakuasi. Bangunan ini sangat penting untuk mengurangi jumlah korban akibat dari lambatnya proses evakuasi ke daerah yang lebih tinggi.

 

Itulah berbagai informasi mengenai tsunami. Semoga informasi ini menyadarkan kita akan bahayanya bencana ini sehingga kita lebih sadar pentingnya evakuasi dan mitigasi. Silakan berikan kritik dan saran membangun kepada kami di kolom komentar di bawah demi semakin baiknya informasi yang kami berikan kepada sahabat Forester Act.