Terumbu Karang: Pengertian, Jenis, Sebaran, dan Masalah

Diposting pada

6. Terumbu Karang di Indonesia

Perhitungan luas terumbu karang Indonesia dilakukan melalui citra satelit yang dikompilasi berdasarkan institusi terkait yang diverifikasi oleh kelompok kerja (POKJA) Nasional Informasi Geosspasial Tematik (IGT) pesisir dibawah koordinasi Badan Informasi Geospasial (BIG).

Berdasarkan perhitungan tersebut luas ekosistem ini di Indonesia mencapai 2,5 juta hektare.

Indonesia memiliki keanekaragaman karang sekitar 2/3 jenis karang yang berada di dunia. Kekayaan ekosistem ini Indonesia berada pada 14 ecoregion dari 141 ecoregion sebaran karang dunia dengan kisaran 300 – 500 jenis karang.

Kekayaan paling tinggi berada pada wilayah perairan kepala burung Pulau Papua dan sekitarnya meliputi Raja Ampat dan Halmahera, kemudian semakin berkurang kearah barat dan selatan perairan indonesia.

Hal tersebut disebabkan oleh wilayah perairan kepala burung papua dilewati oleh Samudra Pasifik yang terdapat jalur arlindo.

Kekayaan jenis karang keras (ordo Scleractinia) indonesia diperkirakan mencapai 569 jenis atau sekitar 67% dari total jenis karang keras dunia yaitu 845 jenis. Sebanyak 569 jenis karang tersebut dibagi 82 genus dan 15 famili.

Karang keras tersebut tersebar di tengah dan timur Indonesia meliputi daerah perairan Sulawesi, Maluku, bagian barat Papua, dan Nusa Tenggara. Persebaran tersebut disebabkan sejarah geologis, pola arus yang membawa larva karang, dan proses evolusi serta biogeografi daerah indonesia tengah.

Kondisi geologis yang berbeda antara Indonesia barat dan timur pada saat ini serta sejarah geologis Indonesia menyebabkan terbentuknya pola variasi spesies sehingga terdapat endemisasi biota laut.

Perbedaan geologis dan biologis antara kawasan indonesia barat dan timur yang dipisahkan oleh garis Wallace memungkinkan terjadi spesialisasi dan endemisasi spesies karena berada pada dangkalan yang berbeda. Bagian barat indonesia berada pada dangkalan sunda dengan kondisi flora dan fauna memiliki karakter asia.

Sementara pada bagian timur indonesa berada pada dangkalan sahul dengan kondisi flora dan fauna memiliki karakter Australia. Maka dari itu, Indonesia memiliki karang Endemik yang berhasil diidentifikasi oleh para ahli antara lain Acropora suharsonoi, Indophyllia macassarens, Isopora togianensis, dan Euphyllia baliensis.

Status terumbu karang Indonesia dibedakan atas 4 kategori berdasarkan tutupan karang yaitu karang jelek atau rusak, karang cukup atau sedang, karang baik, dan karang sangat baik.

Karang jelek atau rusak di perairan Indonesia sebesar 35,15%, karang cukup sebesar 35,06%, karang baik 23,4%, dan karang sangat baik 6,39%.

Kondisi tersebut diperoleh dari 1064 stasiun dari 108 lokasi yang menyebar di seluruh perairan indonesia. presentase karang jelek lebih besar jika dibandingkan dengan karang kategori lain karena wilayah perairan indonesia rawan terhadap bencana seperti sunami dan gempa bumi yang berpusat dilaut.

Kedua bencana tersebut diakibatkan oleh pergeseran lempeng bumi sehingga mempengaruhi atau dapat merusak terumbu karang. Selain itu campur tangan manusia dalam merusak karang juga sebagai bagian tingginya presentase karang jelek.

7. Masalah dan Kerusakan

Kerusakan ekosistem ini menyebabkan masalah terkait habitat biota laut. Kerusakan ekosistem ini merupakan masalah paling serius bagi keberlangsungan kehidupan biota laut secara keseluruhan karena ekosistem ini merupakan inti dari ekosistem kehidupan laut.

Kerusakannya dapat disebabkan oleh perubahan iklim atau melalui campur tangan manusia.

Kerusakan ekosistem ini oleh perubahan iklim disebabkan oleh naiknya suhu laut akibat dampak pemanasan global. Peningkatan suhu tersebut dapat memicu kematian ekosistem ini di laut.

Peningkatan karbondioksida di atmosfer juga menyebabkan laut menjadi asam. Dampak-dampak tersebut menyebabkan karang mengalami pemutihan.

Pemutihan karang (coral bleaching) disebabkan oleh meningkatnya suhu air laut diatas atau dibawah normal. Suhu normal untuk terumbu karang tumbuh berkisar antara 28 – 29oC.

Jika terjadi kenaikan suhu sebesar 2 – 3oC dalam kurun waktu 1 –  2 minggu maka karang akan menunjukan tanda-tanda terkena pemutihan. Proses pemutihan karang dimulai dari hilangnya zooxanthellae dari karang akibat perubahan suhu