Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu

Diposting pada

3.4 Zona Pemanfaatan Tradisional

Zona ini digunakan untuk mendukung sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di dalam kawasan taman nasional laut. Kegiatan yang diperbolehkan di kawasan ini misalnya kegiatan perikanan tangkap tradisional, budidaya, dan pembuatan sarana umum.

Berbeda dengan taman nasional biasanya, Taman Nasional Kepulauan Seribu ini memiliki zona-zona maritim sebagai berikut:

3.5 Zona Sublitoral

Zona ini adalah zona bagian pantai yang dari batas air surut terendah hingga dasar terdalam. Umumnya kawasan ini memiliki kedalaman antara 20 sampai dengan 40 meter dan di beberapa tempat kedalamannya mencapai 70 meter.

Biota laut yang mendominasi zona ini di antaranya adalah jenis-jenis karang Acropora sp. dan Porites sp.

3.6 Zona Litoral

Zona litoral adalah bagian pantai yang terletak antara batas air pasang tertinggi dan batas air surut terendah, zona ini meliputi wilayah yang sangat luas dan memiliki berbagai jenis terumbu karang dan ikan hias, seperti Mycedium sp., Echinophyllia sp. Oxypora sp. dan Pachyseris sp.

3.7 Zona Supralitoral

Zona ini adalah bagian pantai yang tidak pernah terendam air laut pada saat pasang tertinggi, tetapi masih terkena percika air laut jika ada ombak atau gelombang besar. Zona ini biasanya terdiri atas batu karang atau pantai berpasir di mana merupakan tempat Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) bertelur.

Jenis tumbuhan yang hidup mendominasi di zona ini merupakan jenis-jenis vegetasi mangrove dan merupakan habitat bagi berbagai jenis burung air.

3.8 Zona Daratan

Zona daratan yaitu bagian daratan pulau setelah zona supralitoral. Artinya zona ini sudah cukup kering dari pengaruh air laut. Zona ini biasanya ditumbuhi oleh spesies kelapa (Cocos nucifera).

 

4. Iklim dan Topografi

Iklim di kawasan ini termasuk ke dalam tipe iklim B dengan curah hujan rata-rata sekitar 3.015 mm/tahun. Jumlah hari hujan rata-rata kawasan ini sekitar 67 hari/tahun dan suhu harian berkisar antara 21,6°C – 32,3°C dengan rata-rata 27°C.

Perubahan pasang surut sekitar 1,5 – 2 meter menurut musim. Kelembaban relatif berkisar antara 67% sampai dengan 98% (rata-rata 80%) dengan kecepatan angin 2-4 knot/ jam. Kekuatan arus laut rata-rata adalah 20-40 cm/detik.

Iklim di taman nasional ini dipengaruhi oleh dua pola cuaca utama, yaitu musim barat/ barat daya yang terjadi pada bulan Desember-Februari dengan curah hujan 100-400 cm dan musim timur/tenggara yang terjadi pada bulan Juni-Agustus dengan curah hujan antara 50-100 cm.

Musim peralihan terjadi pada bulan Maret sampai dengan Mei dan bulan September-November. Curah hujan terbesar terjadi pada bulan November sampai Maret. Antara bulan November-April keadaan laut cukup dinamis dengan ombak besar dan kekuatan arus rata-rata adalah 20-40 cm/detik, sedangkan pada bulan Mei-September keadaan cuaca cerah dan kondisi perairan cenderung lebih tenang dengan air yang sangat jernih.

Bulan Mei-September merupakan waktu terbaik untuk mengunjungi Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNLKS) karena pada saat itu air laut sangat jernih, angin tidak begitu kencang berhembus, ombak tidak terlalu besar, dan sangat cocok untuk melakukan kegiatan wisata air.

Kepulauan Seribu berada pada ketinggian 0 sampai dengan 7 mdpl saja sehingga termasuk dalam perairan laut dangkal dengan pulau-pulau karang, rataan terumbu karang (reef flat), dan lereng terumbu karang (reef slope).

Permukaan dasar laut di kepulauan ini umumnya cukup landai beraturan. Namun pada beberapa gugusan pulau terdapat jurang-jurang laut yang dalam, seperti di perairan Pulau Congkok, Pulau Sempit, Karang Bongko, Pulau Opak Kecil, Pulau Kotak Besar, dan Gugusan Pulau Bira Kecil. Beberapa pulau pun memiliki permukaan yang hampir rata dengan permukaan laut, seperti Pulau Air Kecil, Pulau Payung Kecil, Pulau Ubi Besar, dan Pulau Gosong.

Pulau-pulau di kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu merupakan tanah karang yang terdiri atas puing-puing dan hasil erosi terumbu karang yag dihempaskan ombak pada dataran terumbu rataan, dan ditandai oleh lahan yang rendah dan pasir yang menyusuri pantai.

Semua terumbu karang merupakan bercak karang yang memiliki kekhasan Paparan Sunda dengan kedalaman antara 15-20 meter di atas substrat pasir dan lumpur.

 

5. Sejarah Kawasan

Secara umum sejarah kawasan di TNLKS adalah sebagai berikut:

WaktuKeterangan
21 Juli 1982Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 527/Kpts/Um/7/1982 sebagian wilayah di kepulauan Seribu ditetapkan sebagai kawasan Cagar Alam Laut dengan luas 108.000 ha
14 Oktober 1982Berdasarkan Surat Pernyataan Menteri Pertanian No. 736/Kpts/Mentan/X/1982 wilayah Kepulauan Seribu diumumkan sebagai calon Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu
21 Maret 1995Barulah pada tahun 1995 kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu ditetapkan dengan luas 108.000 ha melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 162/Kpts-II/95

 

6. Keanekaragaman Hayati

Bintang Laut di Taman Nasional Kepulauan Seribu

Keanekaragaman hayati di taman nasional ini sangat kaya dan perlu untuk dijaga oleh semua orang yang mengunjungi taman nasional ini.