Taman Nasional Kerinci Seblat: Luas, Sejarah, dan Wisata Alam

Diposting pada

2.2 Topografi

Topografi umumnya berupa lereng yang cukup terjal dengan ketinggian antara 200 hingga 3 805 m dpl. Di kawasan ini banyak dijumpai pegunungan tinggi (lebih kurang terdapat 30 gunung atau bukit), seperti

  • Gunung Kerinci yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Sumatera (3 805 m dpl)
  • Gunung Tujuh (2 604 m dpl)
  • Gunung Seblat (2 383 m dpl)
  • Gunung Raya (2 543 m dpl)
  • Gunung Nilo (2 400 m dpl)
  • Gunung Masurai (2 600 m dpl)
  • Gunung Sumbing ( 2 500 m dpl)

Pegunungan Bukit Barisan membentuk busur gunung berapi besar yang terbentang sepanjang Sumatera, Jawa, dan Kepulauan Nusa Tenggara. Bukit Barisan tengah yang gunung berapinya masih aktif dan menjadi bagian kawasan ini ditandai oleh celah lembah datar yang tertutup dengan luasnya sekitar 140 000 ha dan semua sisinya dikelilingi oleh beberapa bagian dari puncak Gunung Kerinci.

Danau Kerinci Taman Nasional Kerinci Seblat

Pemandangan alam di utara celah lembah bagian tengah didominasi oleh kerucut gunung berapi Kerinci yang masih aktif, sedangkan di bagian utara dan barat daya terdapat danau kawah, yaitu Danau Tujuh dan Danau Kerinci.

Topografi daerah ini umumnya curam dan teriris dengan taji yang nyata menurun ke arah timur dan barat dari punggung utara-selatan Bukit Barisan. Topografi menaik ini pada akhirnya mengarah ke dataran Sumatera tengah di sebelah timur dan ke dataran pantai sebelah barat.

Jenis tanah berkisar dari tanah aluvial yang relatif subur di lembah Kerinci (kecuali serangkaian tanah latosol dan podsolik merah kuning) sampai dangkal yang menyerupai tanah cokelat asam pada ketinggian hingga 1 000 m dpl. Terjadi peluruhan lebih banyak sejalan dengan bertambahnya ketinggian yang menimbulkan podsolisasi sehingga tanahnya menjadi semakin bergambut dan bersifat asam.

Tiga daerah aliran sungai (DAS) yang paling penting adalah sungai-sungai kecil yang mengalir ke arah timur dan tenggara sehingga membentuk Sungai Batanghari dan Sungai Musi (sungai terbesar di Pulau Sumatera).

 

3. Sejarah Kawasan

Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan taman nasional di Indonesia yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Warisan Asia Tenggara (Southeast Asia Heritage Site). Kerinci Seblat dinamakan demikian karena kawasan ini meliputi wilayah Kabupaten Kerinci dan Gunung Seblat. Kawasan ini diapit oleh jalan lintas Sumatera bagian tengah dan jalan lintas Sumatera bagian Barat.

Awalnya kawasan ini terdiri atas

  1. Cagar Alam Bukit Tapan,
  2. Cagar Alam Gunung Indrapura,
  3. Suaka Margasatwa Bukit Gedang Seblat,
  4. Suaka Margasatwa Bukit Kayu Embun,
  5. Suaka Margasatwa Rawas Hulu Lakitan,
  6. Hutan Lindung Bajang Air Tarusan Utara,
  7. Hutan Lindung Batang Maringin Barat/Menjuta Hulu,
  8. Hutan Lindung Bukit Regis/Hulu Sulup,
  9. Hutan Lindung Gunung Sumbing/Masurai,
  10. Hutan Lindung Kambang/Batanghari I/Bayang,
  11. Hutan Lindung Sangir Ulu/Batang Tebo/Batang Tabir,
  12. Hutan Lindung Batang Maringin Timur,
  13. Cagar Alam Danau Gunung Tujuh,
  14. Suaka Margasatwa Sangir Ulu,
  15. Suaka Margasatwa Sangir Ulu/Batang Tebo/Batang Tabir,
  16. Hutan Lindung Bukit Gedang Seblat,
  17. dan Hutan Produksi Terbatas yang memiliki flora dan fauna bernilai tinggi.

Sebagian besar kawasan-kawasan tersebut masih hutan primer. Selain berfungsi sebagai daerah hidroorologis di Sumatera bagian tengah dan selatan, kawasan ini juga merupakan kawasan yang mendapat perhatian dunia. Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan daerah resapan air (cathments area) dari hulu sungai yang banyak mengalir ke Samudera Indonesia di sebelah barat dan menuju Selat Bangka di sebelah timur.

Berikut adalah berbagai peristiwa sejarah mengenai Taman Nasional Kerinci Seblat:

  • Tahun 1921 pemerintah Belanda menyatakan bahwa hutan di daerah Bayang, Batanghari I, Kambang, Sangir I, dan Jujuhan sebagai Hutan Lindung.
  • Tahun 1926 hutan di daerah Sungai Ulu, Batang Tebo, dan Batang Tabir juga dijadikan sebagai kawasan Hutan Lindung.
  • Tahun 1929 daerah Gunung Indrapura dijadikan sebagai Cagar Alam.
  • Tahun 1978 ditetapkan Cagar Alam Bukit Tapan.
  • Tahun 1979 ditetapkan Suaka Margasatwa Rawas Hulu Lakitan.
  • Tahun 1980 ditetapkan Cagar Alam Kambang.
  • 14 Oktober 1982 berdasarkan Surat Pernyataan Menteri Pertanian No. 736/Mentan/X/1982 seluruh kawasan tersebut di atas digabung dan dinyatakan sebagai Taman Nasional Kerinci Seblat.
  • 5 Januari 1996 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 192/Kpts-II/96 wilayah Gunung Nilo (2 400 m dpl), Gunung Masurai (2 600 m dpl), dan Gunung Sumbing (2 500 m dpl) dimasukkan ke dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat sehingga luasnya menjadi 1 368 000 ha.
  • 27 Februari 1998 dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 280/Kpts-II/1998 tentang penetapan kelompok hutan Taman Nasional Kerinci Seblat seluas 348 125,1 ha yang terletak di Kabupaten Pesisir Selatan, Solok, Sawahlunto/Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat.
  • Tahun 1999 dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 46/Kpts/VII-3/1999 tentang pengesahan kelompok hutan di Provinsi Sumatera Selatan ke dalam Taman Nasional Kerinci Seblat.
  • 14 April 1999 dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 200/Kpts-II/1999 tentang penetapan kelompok hutan Taman Nasional Kerinci Seblat di provinsi Jambi sebagai kawasan hutan.
  • 14 Oktober 1999 dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 90/Kpts-II/1999 tentang penetapan status kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang terletak di provinsi Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu seluas 1 375 349,867 ha. Dengan adanya keputusan ini maka pengukuhan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat telah diselesaikan sesuai dengan persyaratan dalam Covenant Grant.

 

4. Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem

Hutan Hujan Tropis

Terdapat tidak kurang dari 4 000 jenis tumbuhan di Taman Nasional Kerinci Seblat di mana 60% dari jenis tersebut terdapat di hutan dataran rendah. Tumbuhan yang mendominasi adalah suku Dipterocarpaceae, Leguminosae, Lauraceae, Myrtaceae, dan Bombacaceae. Tercatat juga sebesar 300 jenis anggrek, berbagai spesies bambu, kayu manis, rotan, dan edelweis yang langka (Anaphalis sp.). Selain itu, terdapat bunga terbesar, Rafflesia arnoldii, Rafflesia hasseltii, dan bunga tertinggi di dunia Amorphophallus titanium, serta flora langka kantong semar (Nepenthes sp.).

Tipe vegetasi yang paling penting adalah hutan hujan tropis Dipterocarpaceae yang terdapat di dataran rendah dan bukit-bukit hingga ketinggian lebih dari 1 000 m dpl. Jenis pohon tersebut antara lain adalah Shorea parvifolia, Dipterocarpus sp., Parashorea sp., Koompassia malaccensis, dan Dialium sp. Lapisan bawahnya ditumbuhi oleh palem Arenga sp., patma raksasa Rafflesia arnoldii, dan bunga bangkai Amorphophallus titanium.

Pada ketinggian antara 1 000 – 1 500 m dpl terdapat hutan hujan tropis pegunungan rendah yang didominasi oleh jenis-jenis Dipterocarpaceae (hingga ketinggian 1 200 mdpl), seperti Hopea sp., dan Shorea platyclados, Litsea sp., Rhodamnia cinere, serta suku Euphorbiaceae dan Leguminosae. Lapisan bawahnya ditumbuhi oleh pelem (Livingstonia altissima dan Areca catechu), epifit (Asplenium sp., Bulbophyllum sp., Dendrobium sp., dan Eria sp.), dan kantong semar (Nepenthes sp.).

Di atas ketinggian 1 500 mdpl terdapat vegetasi hutan pegunungan yang didominasi oleh suku Lauraceae dan Ericaceae, seperti Podocarpus amarus, Castanopsis sp., Ficus variegate, dan Cinnamomum parthenoxylon.

Daerah yang tinggi menunjukan dua tipe vegetasi lain yang menonjol. Suksesi flora di Gunung Kerinci berpangkal dari hutan Schima-Symigtonia (1 800 – 2 250 mdpl) melalui hutan Quercus-Engelhardtia dan Symplocos-Myrsine (2 250 – 3 000 m dpl), menuju belukar Vaccinium-Rhododendron (di atas 3 000 mdpl). Tipe vegetasi lainnya adalah hutan sekunder, terutama pada lereng-lereng di atas Lembah Kerinci yang didominasi oleh alang-alang (Impera cylindrica).

Di Kabupaten Kerinci dikenal dua ekosistem rawa, yaitu Rawa Ladeh dan Rawa Bento yang terletak di ketinggian 1 950 mdpl dengan luasan 150 ha. Kedua rawa tersebut merupakan rawa gambut tertinggi di Pulau Sumatera. Rawa Bento (Sangir Hulu) merupakan rawa air tawar dengan karakteristik jenis rumput Leersia hexandra, Glochidion sp., dan Eugnia spicata.

Jenis tumbuhan khas dengan sebaran terbatas dapat dijumpai di kawasan ini, yaitu pinus strain kerinci (Pinus merkusii strain kerinci), kayu pacet (Harpullia arborea), pakis sunsang (Dyera costulata), dan bunga rafflesia (Rafflesia arnoldii).

Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan rangkaian tidak terputus hutan hujan dataran rendah sampai pegunungan, termasuk hutan pinus tropis alami, hutan rawa gambut,  dan danau air tawar. Kawasan ini merupakan habitat sebagian besar burung-burung Sumatera. Terdapat lebih dari 139 jenis burung (sembilan di antaranya jenis rangkong), lebih dari 150 jenis mamalia (30 jenis merupakan mamalia besar), enam jenis primata, enam jenis amfibi, dan sepuluh jenis reptilia.