Sumur Resapan: Pengertian, Manfaat, Jenis dan Pembuatan

Diposting pada

 

4. Sumur Resapan di Pekarangan Rumah

Pembuatan sumur resapan di pekarangan rumah sudah memiliki standar nasional. Standar yang digunakan adalah SNI No. 03-2453-2002. Berdasarkan SNI tersebut berikut adalah persyaratan umum yang harus dipenuhi dalam pembuatan sumur resapan.

  1. Lokasi pembuatan harus pada tanah yang datar, tidak bergelombang, berlereng, curam, atau labil.
  2. Letaknya harus jauh dari tempat penimbunan sampah (baik sampah organik maupun anorganik), jauh dari septic tank (minimum berjarak 5 m dari tepi), dan berjarak minimum 1 m dari pondasi bangunan.
  3. Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan tanah menyerap air) lebih besar atau sama dengan 2 cm/jam (artinya genangan air setinggi 2 cm akan surut dalam kurun waktu satu jam) dengan tiga klasifikasi sebagai berikut:
    1. Permeabilitas sedang (2 – 3.6 cm/jam)
    2. Permeabilitas tanah agak cepat/pasir halus (3.6 – 36 cm/jam)
    3. Permeabilitas tanah cepat/pasir kasar (lebih besar dari 36 cm/jam)

 

5. Perencanaan Pembuatan Sumur Resapan

Menurut Kusnaedi (1996), dalam merencanakan pembuatan sumur resapan perlu diperhitungkan faktor-faktor: iklim, kondisi air tanah, tata guna lahan, dan kondisi sosial masyarakat. Iklim merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan sumur resapan, faktor yang perlu mendapat perhatian adalah besarnya curah hujan. Semakin besar curah hujan di suatu wilayah berarti semakin besar sumur resapan yang diperlukan.

Pada kondisi permukaan air tanah yang dalam, sumur resapan perlu dibuat lebih besar karena tanah benar-benar memerlukan persediaan air. Sebaliknya pada lahan yang muka airnya dangkal, sumur resapan ini kurang efektif dan tidak akan berfungsi dengan baik, terlebih pada daerah rawa dan pasang surut (Mulyana 1998).

Menurut Mulyana (1998), kondisi tanah sangat berpengaruh pada besar kecilnya daya resap tanah terhadap air hujan. Dengan demikian konstruksi dari sumur resapan harus mempertimbangkan sifat fisik tanah. Sifat fisik yang langsung berpengaruh terhadap besarnya infiltrasi adalah tekstur dan pori-pori tanah. Tanah berpasir dan porus lebih mampu menginfiltrasikan air hujan dengan cepat.

Berikut adalah tabel yang menjelaskan mengenai kecepatan infiltrasi dengan tekstur tanah (Kusnaedi 1996).

Tekstur TanahKecepatan Infiltrasi (mm/jam)Kriteria
Pasir berlempung25 – 30sangat cepat
Lempng12.5 – 25cepat
Lempung berdebu7.5 – 15sedang
Lempung berliat0.5 – 2.5lambat
Liat< 0.5sangat lambat

Penutupan lahan pun akan sangat berpengaruh terhadap persentase air yang meresap ke dalam tanah. Tanah yang banyak tertutupi beton bangunan, aliran permukaan akan lebih besar dibandingkan dengan air yang meresap ke dalam tanah (Mulyana 1998).

Selain keempat faktor yang telah disebutkan di atas, menurut Kusnaedi (1996) faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kondisi sosial ekonomi masyarakat. Pada masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi yang baik maka akan membuat sumur resapan jenis permanen; berbeda dengan masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi yang kurang baik, konstruksi yang akan dibuat tidak akan dibuat permanen dan dibuat dari bahan-bahan yang murah.

Desain Bangunan Sumur Resapan

Gambar di atas merupakan contoh desain bangunan sumur resapan berjenis individu yang dapat diterapkan di pekarangan rumah. Gambar tersebut berdasarkan penelitian dari Setiawan (2017).

 

6. Jenis Konstruksi Sumur Resapan

Sumur resapan menurut jenisnya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu sumur resapan individu dan sumur resapan kolektif. Sumur resapan individu adalah sumur resapan yang dibuat secara pribadi untuk masing-masing rumah dengan biaya pembuatan dan pemeliharannya diserahkan kepada pemiliknya, sedangkan sumur resapan kolektif adalah sumur resapan yang dibangun secara bersama-sama dalam satu kawasan tertentu. Sumur resapan ini dapat dibuat persepuluh rumah, per blok, satu RT, atau satu kawasan pemukiman (Mulyana 1998).

Sumur resapan individu sesuai dengan jenis bahan yang digunakan diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu sumur resapan tembok, sumur resapan dari hong, sumur resapan dari fiberglass, dan sumur resapan dari bambu (Kusnaedi 1996).

Sumur individu ini harus diperhatikan tata letaknya, maka dari itu harus memperhatikan lokasi relatif terhadap septic tank, sumur air minum, jalan, rumah, dan jalan umum. Berikut adalah jarak minimal sumur resapan dengan bangunan lainnya (Kusnaedi 1996).