Suku di Indonesia: Pengertian, Sebaran, Jumlah, dan Daftar Lengkap

Diposting pada

3.1.4 Kesenian

Selain pakaian adat, Suku Sunda memiliki kesenian yang terkenal di antaranya adalah sisingan, tari merak, wayang golek, pencak silat, tari topeng, bajidoran, cianjuran, kecapi suling, dan tari ketuk pilu.

Sisingan merupakan seni kirab atau arak-arakan yang juga dikenal sebagai Kirab Helaranadalah.

Suku Sunda memiliki alat-alat musik khas daerah yaitu calung, angklung, dan rengkong.

3.2 Suku Jawa

Suku Jawa merupakan suku terbesar yang ada di Indonesia.

Menurut data BPS (2010) Suku Jawa memiliki jumlah populasi sebanyak 95,2 juta jiwa.

Suku Jawa terkenal dengan karakter dan sikapnya yang santun.

Suku Jawa memiliki tata krama dan unggah-ungguh dalam perilakunya sehari-hari.

Dalam kehidupan sehari-hari Suku Jawa berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa.

Bahasa Jawa sendiri memiliki tingkatan untuk setiap golongannya, seperti bahasa krama inggil untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua dan memiliki golongan yang lebih tinggi, bahasa krama alus untuk sesama, dan bahasa ngoko untuk teman sepermainan.

Sebaran penduduk Suku Jawa asli berada di Pulau Jawa bagian tengah hingga Pulau Jawa bagian timur dan menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa sehari-hari (bahasa ibu). Sehingga kebudayaan Suku Jawa pun tersebar dari Jawa Tengah hingga ke Jawa Timur.

3.2.1 Sejarah

Masyarakat Jawa ada karena adanya kerajaan Kling, seperti yang diceritakan dalam buku Babad Tanah Jawa. Buku tersebut mengisahkan awal mula berdirinya kerajaan Kling hingga terpecah-pecah dan sekarang menjadi Suku Jawa.

3.2.2 Kebudayaan

Kebudayaan di masyarakat Jawa banyak dipengaruhi oleh ajaran Hindu, Budha, dan Islam. Pengaruh ajaran hindu dan budha dapat terlihat dari peninggalan-peninggalan candi yang tersebar di sebagian daerah di Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Candi-candi yang terkenal antara lain Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Ratu Boko, dan Candi Mendut. Ajaran islam paling terakhir masuk ke masyarakat Jawa yang dibawa oleh para Wali Songo.

Masyarakat Jawa juga memiliki budaya lain seperti wayang kulit yang dibawa dan dikembangkan oleh para walisongo, Tari Angguk, Tari Ebeg, Tari Emprak, Tari Bambangan Cakil, Tari Gandrung, Tari Kridhajati, Tari Reog, Tari Sintren, Tari Kuda Lumping, musik gamelan, bahasa dan aksara jawa, serta budaya ajaran kejawen.

3.2.3 Agama

Agama mayoritas Suku Jawa adalah Islam, namun sebagian lain juga banyak yang memeluk agama Hindu, Nasrani, Budha, serta Kejawen.

Penganut ajaran kejawen percaya kehidupan dunia harus selaras dengan alam semesta dan segalanya telah diatur oleh alam semesta sehingga segala sesuatu yang terjadi mereka pasrahkan ke alam semesta dengan istilah “Nrima” (pasrah).

Adanya ajaran kejawen membuat banyaknya upacara adat yang dilakukan oleh Suku Jawa.

Upacara adat Suku Jawa di antaranya upacara kenduren, upacara sekaten, upacara grebeg, upacara tingkepan, upacara ruwatan, upacara tedak siten, upacara larung sesaji, dan upacara kebo-keboan.

3.3 Suku Minang

Suku Minang atau yang sering disebut suku minangkabau tergolong ke dalam suku-suku Deutro Melayu (Melayu Muda) yang menetap di Provinsi Sumatera Barat.

Suku Minangkabau adalah garis keturunan dari Sultan Iskandar Zulkarnain. Nenek moyang masyarakat Minangkabau berasal dari Romawi China yaitu Maharaja Diraja dan Maharaja Dipang.

Masyarakat Minangkabau memiliki nilai-nilai yang dianut seperti membangun dan menjaga keutuhan budaya dan adat istiadat.

Masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang demokratis dan egaliter di mana semua urusan masyarakat dimusyawarahkan oleh ketiga unsur tersebut secara mufakat.

Kebudayaan dari Suku Minangkabau sangat beragam mulai dari pencak silat (seni beladiri), pantun, dan tarian.

Pantun atau seni berbicara merupakan suatu bentuk mempertahankan harga diri dan unjuk diri di depan publik.

Tarian khas Suku Minangkabau yaitu tari Pasambahan yang merupakan tarian selamat datang untuk menghormati tamu yang datang. Selain itu, terdapat juga tarian piring yang diiringi dengan talempong dan saluang.

Masyarakat Minangkabau memiliki upacara khusus untuk kematian seperti Kacang Pali, Sakik Basilau, dan Cablek Kapan yang dilakukan di rumah tempat seseorang yang meninggal dan dilakukan selama tiga hari.

Bahasa yang digunakan untuk sehari-hari adalah bahasa Minang dan bahasa Melayu. Rumah adat yang dimiliki oleh Suku Minang adalah rumah gadang yang umumnya berbahan kayu. Rumah gadang mempunyai bentuk atap yang sangat unik dan membentuk seperti sayap.

Ada pula masakan khas Minangkabau yang dikenal dengan cita rasanya yang pedas dan salah satu masakan khas terkenal dari Minangkabau adalah rendang.