Singgah Sebentar di Taman Nasional Wasur

Diposting pada

Di pos ini tersedia berbagai macam suvenir dan oleh-oleh khas Merauke seperti: tas dari bulu kasuari, kalung, sarang semut, dll.

Atau sekadar mengobrol dengan Mama-Mama atau anak-anak sambil makan nanas di tengah teriknya Merauke pun terasa syahdu.

Tentu ingin ke sini bukan?

0 km Merauke-Sabang (Diambil oleh Siti Hudaiyah)
0 km Merauke-Sabang (dokumentasi penulis)

Kami singgah di Kampung Yanggandur, 10 km dari jalan Trans Papua.

Suku yang berdiam di sini yaitu suku Kanuum, mereka bersaudara dengan suku di PNG.

Diketahui satu keluarga trasmigran dari Jawa sudah belasan tahun tinggal di sini.

Sebuah pemandangan toleransi yang harus kita junjung tinggi.

Kampung ini tidak 24 jam teraliri listrik, hanya setengah malam saja.

TV di pos TNI Yanggandur dengan tenaga genset menjadi alternatif hiburan bagi anak-anak setempat.

Tapi jangan khawatir, jaringan Telkomsel tersedia hingga 4G.

Uniknya, ketika kita masuk kampung Yanggandur maka pengaturan zona waktu di ponsel akan mengikuti WIB.

Kok bisa?

Coba saja!

Anak-anak menyaksikan TV di pos TNI Yanggandur (Diambil oleh Siti Hudaiyah)
Anak-anak menyaksikan TV di pos TNI Yanggandur (dokumentasi penulis)

Pemandangan nampak berbeda di SDN Yanggandur karena hari itu pertama sekolah pasca libur akhir semester.

Siswa-siswi diminta membersihkan lingkungan sekolah dengan diawasi guru mereka. Riuh sekali!

Ada yang menyapu halaman, mengepel, membersihkan kaca, hingga memangkas pohon.

Sesekali mereka bermain.

Haru dan bangga melihat semangat anak-anak dan para guru dalam berbagi ilmu.

Siswa-siswi SDN Yanggandur (Diambil oleh Siti Hudaiyah)
Siswa-siswi SDN Yanggandur (dokumentasi penulis)

 

Referensi:

Balai Taman Nasional Wasur. 2020. Profil Taman Nasional Wasur. Diakses dari: www.tamannasionalwasur.com pada tanggal 12 April 2020.

Dewi, F. S. 2013. Potensi Bakteri Selulolitik Pencernaan Rayap Pembangun Musamus Taman Nasional Wasur Merauke sebagai Bio-Toilet dalam Degradasi Tinja Sapi. Skripsi. Surabaya: Universitas Airlangga.

Harbelubun, A. E., Kesaulija, E. M., dan Y. Y. Rahawarin. 2005. Tumbuhan Pewarna Alami dan Pemanfaatannya secara Tradisional oleh Suku Marori Men-Gey di Taman Nasional Wasur Kabupaten Merauke. Biodiversitas 6(4): 281-284.

Hughes, N., dan R. East. 2014. Bird Watching in Wasur National Park, Merauke, Papua. Diakses dari: http://burung-nusantara.org/wp-content/uploads/2014/01/Trip-Report_Wasur_Nicholas-Hughes_Oct-13.pdf  pada tanggal 10 April 2020.

Jerat Papua. 2014. Taman Nasional Wasur, Serengeti Papua. Diakses dari: https://www.jeratpapua.org/2014/05/27/taman-nasional-wasur-serengeti-papua/ pada 10 April 2020.

Kadang, D. N. 2017. Kelimpahan dan Karakter Habitat Burung Elang Siul (Haliastur sphenurus Vieillot, 1818) di Kawasan Taman Nasional Wasur. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Kosmaryandi, N. 2012. Taman Nasional Wasur, Mengelola Kawasan Konservasi di Wilayah Masyarakat Adat. Media Konservasi 7(1): 6-15.

Ririhena, S. W., Nahumury, M., dan D. O. Simatupang. 2018. Strategy for Biodiversity Conservation in Wasur National Park of Merauke in Merauke Regency. ICENIS E3S Web Conferences 73, 04001.

Sigit, R. 2018. Musamus, Rumah Rayap Mahakarya Alam di Merauke. Diakses dari: https://mongabay.co.id/2018/01/14/musamus-rumah-rayap-mahakarya -alam-di-merauke/amp/ pada tanggal 12 April 2020.