Rotan: Morfologi, Jenis, Sebaran, Habitat, dan Manfaat

Diposting pada
  • Calamus ciliaris,
  • C. melanoloma,
  • C. hispidulus,
  • C. impaar,
  • C. karuensis,
  • C. kjelbergii,
  • C. minahassae,
  • C. pandanosmus,
  • C. pygmaeus,
  • C. spectabilis,
  • C. robinsonianus,
  • Ceratolobus pseudoconcolor,
  • Daemonorops acamptostaachys,
  • D. monticola,
  • Korthalsia junghunii,
  • Plectocomia billitonensis,
  • P. longistigma,
  • P. lorzingii,
  • P. pygmaea, dan
  • Plectocomiopsis borneensis.

Berdasarkan jumlah tersebut dievaluasi oleh Budiharta et al. 2011 dalam Kalima 2015 terdapat penambahan rotan langka taitu Calamus manan, sehingga kini terdapat 21 jenis yang langka.

 

6. Pemanenen Rotan

Pemanenan Rotan

Rotan yang siap dipanen memiliki berberapa ciri-ciri khusus di adalah batangnya berwarna kuning, daunnya sudah gugur, durinya berwarna hitam atau kuning kehitaman dan batangnya sudah tidak dibalut pelepah.

Pemanenannya tergolong sangat sulit karena selain tumbuh memanjat di pohon-pohon besar, tumbuhan ini biasanya saling berjalin dengan cabang atau pohon yang lainnya. Kondisi tersebut akan menyulitkan para pemanen untuk menarik batangnya secara keseluruhan.

 

7. Pemanfaatan Rotan

Pembuatan Furniture dari Rotan

Rotan yang dikenal sebagai green product juga dikenal sebagai produk multifungsi karena memiliki banyak manfaat. Batangnya yang sudah tua banyak dimanfaatkan dalam pembuatan kerajinan tangan dan perabotan rumah tangga. Tumbuhan ini juga dapat digunakan sebagi ikat pinggang bagi wanita suku Wemale yang berasal dari Pulai Seram, Provinsi Maluku.

Batangnya juga dapat digunakan untuk membuat tongkat penyangga berjalan bahkan senjata. Beberapa perguruan pencak silat bahkan menggunakan tumbuhan ini sebagai salah satu alat untuk latihan bertarung. Ekstrimnya batangnya juga digunakan sebagai alat pemukul dalam hukuman cambuk bagi pelaku tindak kriminal tertentu di Asia Tenggara.

Batangnya yang masih muda atau berwarna hijau biasa dimanfaatkan sebagai sayuran bagi masyarakat Suku Dayak di Kalimantan Tengah. Masyarakat Suku Mandailing di Sumatra Utara juga memanfaatkan pucuk mudanya sebagai sayuran/lalapan yang mereka sebut pakkat. Selain dapat dikonsumsi manusia, rotan muda juga menjadi makanan favorit satwa liar yaitu badak. Batang muda, buah, dan akarnya juga dapat dimanfaatkan untuk bahan baku obat tradisional. Beberapa jenis tumbuhan ini yang batang mudanya dapat dimanfaatkan meliputi Calamus Hookerianus, Calamus metzianus, dan Calamus thwaitesii.

Batangnya yang menyimpan banyak air dapat ditebas dan mengeluarkan air yang dapat diminum secara langsung. Cara ini pada umumnya digunakan oleh para petualang atau penjelajah untuk bertahan hidup di alam bebas.

Tumbuhan ini juga mengasilkan getah pada bagian tangkai bunganya yang berwarna merah sehingga sering disebut “darah naga”. Getahnya ini bisasanya dimanfaatkan sebagai bahan baku pewarna pada industri keramik dan farmasi. Selain itu, getahnya juga dapat dimanfaatkan sebagai pewarna biola atau gitar.

Rotan memang memiliki manfaat langsung yang sangat banyak, namun selain itu tumbuhan ini juga memiliki manfaat tidak langsung. Manfaat tidak langsung tersebut berupa kontribusi dalam peningkatan pendapatan masyarakat  dan penyerapan tenaga kerja di sekitar hutan dalam bidang usaha-usaha pemanfaatan rotan. Tumbuhan ini juga sangat bermanfaat sebagai habitat atau tempat berlindung bagi semut dalam helaian daun, duri maupun batanganya.

 

8. Rotan di Bidang Furniture

Furniture Mewah dari Rotan

Batangnya merupakan bagian yang paling sering dimanfaatkan karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Batang yang dimanfaatkan adalah batang yang tidak lagi berwarna hijau, melainkan berwarna kuning atau sudah tua. Pemanfaatannya di bidang furniture termasuk pemanfaatan yang sangat potensial karena tumbuhan ini sendiri memiliki beberapa keunggulan dari pada kayu yang umumnya digunakan dalam bidang furniture. Kelebihan tumbuhan ini di antaranya ringan, kuat, elastis, atau mudah dibentuk dan murah.

Selain memiliki kelebihan, tumbuhan ini juga memiliki kelemahan yaitu mudah diserang kutu bubuk pin hole dan jamur Blue Stain. Terdapat dua metode yang digunakan untuk pengawetannya yaitu pemasakan dengan minyak tanah untuk rotan berukuran sedang/besar dan pengasapan dengan belerang untuk yang berukuran kecil.

Tidak semua jenis tumbuhan ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan furniture. Beberapa yang umum dipergunakan dalam industri adalah Manau, Batang, Tohiti, Mandola, Tabu-Tabu, Suti, Sega, Lambang, Blubuk, Jawa, Pahit, Kubu, Lacak, Slimit, Cacing, Semambu, serta Pulut.

Batang tumbuhan ini di bidang furniture banyak dimanfaaatkan sebagai bahan baku pembuatan perabot rumah tangga seperti mebel, kursi, meja, rak, penyekat ruangan, tempat tidur, lemari dan lain sebagainya. Selain dimanfaatkan dalam bahan baku pembuatan perabotan rumah, rotan juga dimanfaatkan dalam pembuatan hiasan-hiasan.

Rotan yang dianyam menjadi tikar merupakan salah satu produk yang bernilai ekonomi tinggi, terlebih jika rotan tipis-tipis dan halus. Produk seperti ini akan sangat diminati oleh pencinta barang antik. Anyaman produk ini sering dimanfaatkan sebagai penahan panas terik matahari yang dipasang di ventilasi rumah maupun perkantoran.

Perkembangan indutsri furniture rotan di Indonesia sangat berpotensi karena tumbuhan ini merupakan komoditi yang secara alami tumbuh dan tersebar di wilayah Indonesia. Pada tahun 1994, Indonesia menjadi negara penghasil rotan terbesar di dunia karena mampu memasok (ekspor) tumbuhan ini dalam jumlah yang besar.

Harga ekspor bahan baku rotan mentah maupun setengah jadi masih jauh lebih rendah jika dibandingakan dengan harga ekspor hasil industri furniture-nya. Selain itu, industri furniture tumbuhan ini termasuk industri yang tidak memerlukan investasi atau modal besar. Industri furniture rotan di Indonesia selain didukung oleh jumah bahan mentah yang melimpah, potensi tenaga kerja yang cukup banyak juga dapat mendukung industri furniture rotan (ahmadhan 2009).

Industri furniture rotan Indonesia juga pernah mengalami penurunan. Pada tahun 2007, beberapa produsen meubel rotan di Cirebon yang menjadi salah satu industri rotan terbesar selain Surabaya mengalami penurunan produksi. Salah satu penyebab terjadinya hal tersebut adalah sulitnya memperoleh bahan baku yang berkualitas, sedangkan negara-negara pesaing dengan mudah memperolehnya. Akibatnya banyak usaha-usaha furniture ini harus gulung tikar.

Penurunan industri pengolahan rotan, baik yang terjadi pada skala nasional maupun di sentra industri Cirebon sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 2005. Diduga penyebabnya adalah dikeluarkannya SK Menteri Perdagangan No. 12/M-DAG/PER/6/2005 tentang Ketentuan Ekspor Rotan, yang memperbolehkan ekspor bahan baku rotan dan rotan setengah jadi mengakibatkan industri pengolahan rotan di dalam negeri sulit mendapatkan bahan baku. Di pihak lain, negara-negara pesaing mudah mendapatkan bahan baku karena diduga adanya ekspor bahan baku rotan ke luar negeri secara ilegal.

Dikutip dalam artikel Biro Umum dan Humas Departemen Perindustrian, untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu dilakukan beberapa tindakan yaitu: