Pohon Mahoni: Taksonomi, Habitat, Budidaya, dan Manfaat

Diposting pada

7.1 Pengadaan Benih

Biji Mahoni

Pengadaan benih mahoni dapat dilakukan secara generatif dengan biji mahoni. Selain itu, pengadaan benih mahoni juga dapat dilakukan dengan cara okulasi atau cangkokan. Pengadaan benih secara generatif memang lebih baik dari pada okulasi atau cangkokan karena akar tanaman yang dihasilkan secara generatif akan lebih kuat.

7.2 Penaburan Benih dan Penyapihan

Biji pohon ini dapat diambil dari buah pohon mahoni yang sudah matang. Sebelum dikecambahkan, biji mahoni dipotong sayapnya. Biji kemudian ditaburkan pada bedeng tabur dengan media semai yang sesuai dan tunggu hingga tumbuh kecambah. Media semai yang digunakan harus steril atau bebas dari hama dan penyakit.

Setelah kecambah tubuh dan siap disapih, maka media tumbuh perlu dipersiapkan. Media semai yang baik berupa campuran antara tanah dan kompos. Penyapihan harus dilakukan secara berhati-hati untuk mencegah kerusakan kecambah mahoni.

7.3 Pemeliharaan Bibit

Bibit Pohon Mahoni

Pemeliharaan bibit mahoni perlu dilakukan agar bibit tumbuh dengan baik dan nantinya siap ditanam di lapangan. Penyiraman bibit dilakukan secara teratur dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Namun, setelah bibit tumbuh, penyiraman dapat dilakukan satu bulan sekali.

Pemupukkan juga harus dilakukan agar kebutuhan nutrisi bibit mahoni terpenuhi. Pemupukkan dilakukan dengan menggunakan Urea, KCl, dan SP18 dengan takaran setengah sendok untuk setiap bibit.

Penyulaman juga perlu dilakukan jika terdapat bibit yang mati. Penyulaman dilakukan agar jumlah bibit yang tersedia sesuai dengan kebutuhan bibit yang diperlukan untuk penanaman. Penyiangan dilakukan pada bibit yang terserang tanaman pengganggu. Penyiangan ini dilakukan agar bibit mahoni dapat tumbuh dengan baik.

Bibit mahoni siap ditanam setelah berumur 3-4 bulan dengan tinggi rata-rata 30-40 cm.

7.4 Penanaman

Penanaman mahoni dapat dilakukan dalam bentuk tegakan monokultur atau homogen maupun hutan rakyat campuran. Jenis tanaman ini juga dapat ditanam sebagai tanaman peneduh jalan.

Sebelum penanaman, persiapan lahan harus dilakukan terlebih dahulu. Persiapan lahan yang dapat dilakukan berupa pemberian pupuk kandang ke dalam lubang tanam. Pemupukkan ini dilakukan untuk memberikan nutrisi awal. Pemupukan ini dilakukan 2 atau 3 minggu sebelum penanaman bibit.

Bibit mahoni sebaiknya ditanam dengan kedalaman kurang lebih 50 cm. Jarak tanam bibit mahoni yang dianjurkan 5 m x 5 m. Setelah bibit mahoni ditanam sebaiknya dilakukan pemasangan ajir sebagai penanda lokasi penanaman bibit mahoni.

Setelah bibit ditanam, siram bibit mahoni dengan menggunakan air agar kelembabannya terjaga.

7.5 Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman mahoni juga perlu dilakukan agar tanaman mahoni dapat tumbuh dengan baik. Beberapa tahapan pemeliharaan yang wajib dilakukan meliputi penyiraman, penyiangan, pemberantasan hama/ penyakit, dan pemupukkan.

Penyiraman dilakukan pada saat tanaman mahoni masih dalam masa awal hingga tanaman mahoni dapat tumbuh dengan baik. Penyiangan dilakukan pada saat gulma atau tanaman pengganggu lainnya muncul mengganggu pertumbuhan tanaman mahoni.

Pemberantasan hama dan penyakit dilakukan menggunakan pestisida sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Sebaiknya pestisida yang digunakan berupa pestisida alami agar lebih ramah lingkungan.

Pemupukkan dilakukan untuk mencegah denutrisi tanaman mahoni. Pupuk yang dapat digunakan berupa urea, KCl, dan phospat.

 

8. Manfaat

Pohon Mahoni memang dikenal sebagai pohon yang memiliki banyak manfaat. Berikut ini beberapa manfaat dari pohon mahoni.

8.1 Pohon Mahoni sebagai Pohon Peneduh

Pohon Mahoni

Pohon mahoni memang dikenal sebagai pohon peneduh. Hal ini disebabkan karena daun-daun pohon mahoni mampu menyerap polutan-polutan di sekitarnya. Pohon ini bahkan mampu mengurangi polusi udara sekitar 47%-69%. Pohon mahoni juga berfungsi sebagai penahan air pada daerah tangkapan air. Akar pohon mahoni yang kuat akan mengikat air yang meresap ke dalam tanah.

Pohon mahoni digunakan sebagai pohon peneduh jalan sejak masa pemerintahan Gubernur Hindia Belanda di Indonesia, Jendral Herman Willem Daendels. Jalan yang dibangun dari Anyer hingga Panarukan oleh Daendels menggunakan pohon mahoni dan pohon asem sebagai pohon penghias sekaligus pohon peneduh di sepanjang pinggir jalan.

Sampai saat ini pohon mahoni masih digunakan sebagai peneduh pohon di daerah Pulau Jawa, Pulau Bali, dan Pulau Lombok. Pohon mahoni yang tidak mudah terkena hama/ penyakit dan struktur kayunya yang kuat membuat tanaman ini sangat cocok digunakan sebagai pohon peneduh.

Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah terdapat jalan setapak dengan pohon mahoni sebagai peneduh di kanan dan kiri jalan. Pohon mahoni yang tumbuh besar dan rindang membuat jalan ini terlihat teduh dan menyejukkan. Lokasi ini disebut sebagai “Lorong Mahoni” dan sering dijadikan lokasi swafoto para remaja. Keindahan lorong mahoni juga membuat lokasi ini sering dijadikan lokasi foto prawedding oleh beberapa orang.