Mikrohidro: Pengertian, Prinsip Kerja, Komponen, dan Potensinya

Diposting pada

8. Potensi Mikrohidro di Indonesia

Pembuatan PLTMH di Indonesia
Pembuatan PLTMH di Indonesia

Wilayah di Indonesia juga sesuai untuk penerapan PLTMH karena memiliki potensi pengembangan pembangkit listrik ini. Salah satunya karena kebutuhan pasokan energi listrik sangat besar untuk menunjang kegiatan industri yang saat ini sedang beroperasi. Energi listrik yang disebarkan merupakan energi yang berasal dari bahan baku tidak terbarukan sehingga semakin lama jumlahnya akan terus menipis.

Padahal, jika dimaksimalkan lebih baik lagi, potensi air yang ada di Indonesia dapat menjadi solusi alternatif untuk pemenuhan pasokan energi listrik. Misalnya saja pada Waduk Saguling, Jatiluhur, dan Cirata. Potensi air yang dimilikinya diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Jawa hingga Bali dan tentu saja menggunakan bahan baku yang terbarukan lebih ramah lingkungan.

Jika dihitung kembali, potensi air yang ada di Indonesia untuk dimanfaatkan menjadi energi listrik dapat mencapai kisaran kurang lebih 75.000 MW.

Berdasarkan Pikiran Rakyat (2007), dari 75.000 MW listrik yang potensial dihasilkan dari air, hanya 10% yang sudah dimanfaatkan untuk kegiatan PLTMH yaitu hanya sebesar 7.500 MW. Lalu, berdasarkan Dirjen Ketenagalistrikan Kementrian ESDM (2017) hanya 65,76 MW untuk kapasitasnya terpasang PLTMH yang jumlahnya bahkan kurang dari 9%.

Jumlah penduduk yang semakin banyak dan semakin beragamnya jenis aktivitas menuntut untuk terpenuhinya kebutuhan listrik yang juga terus bertambah sehingga butuh pemerataan dalam pasokan energi listrik ke setiap wilayah di Indonesia. Masalah ini dapat diatasi dengan pemanfaatan PLTMH yang dapat dilakukan pada sepanjang aliran sungai dengan kapaitas aliran tertentu.

Terdapat dua metode yaitu:

  • Turbin Crossflow dengan debit alirannya rata-rata kisaran 25 liter/ detik sampai 1500 liter/ detik serta tinggi air jatuh mulai dari ketinggian 3 m hingga 50 m.
  • Turbin Pico Propeler dengan debit aliran rata-rata kisaran 100 liter/ detik hingga 700 liter/

Jika didasarkan dari metode pemanfaatannya dengan daerah pengaliran yang dilakukan oleh sungai di Indonesia yang lebih dari 100 km2, jumlah total dari 4 pulau di Indonesia adalah 110 sungai. Pulau Jawa dengan jumlah 51 sungai, Sulawesi 38 sungai, Sumatera 11 sungai, dan Kalimantan 10 sungai.

Selain itu, pada PLMTH yang melakukan sistem penyimpanan menggunakan waduk besar mampu menyimpan jumlah tertentu energi listrik dalam jangka waktu lama bahkan beberapa tahun dilengkapi dengan layanan grid dan fleksibilitas.

Bahkan sebenarnya peluang untuk pengembangan potensi PLTMH telah dilihat oleh pemerintah dan menarik perhatian investor dan pihak lainnya yang terkait. Kementrian ESDM juga telah melakukan pencatatan terhadap 47 lokasi dengan total kapasitas 2.605,76 MW untuk dibangun PLTMH.

  • Pulau Jawa berjumlah 2 titik dengan kapasitas 39,4 kW
  • Pulau Kalimantan 4 titik dengan kapasitas 498,9 kW
  • Pulau Sulawesi dengan jumlah 6 titik dan kapasitas 222,7 kW
  • Kepulauan Nusa Tenggara jumlah 10 titik dengan kapasitas 628 kW
  • Papua sebanyak 10 titik dengan kapasitas 812,36 kW
  • Pulau Sumatera dengan jumlah 15 titik dan memiliki kapasitas 404,4 kW.

9. Contoh PLTMH di Indonesia

Sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam khususnya air juga melakukan pemanfaatan air berupa PLTMH. Pembangkit listrik ini tersebar di berbagai pulau. Pulau tersebut di antaranya adalah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Misalnya di Jawa ada PLTMH Wangan Aji yang terletak pada Kabupaten Wonosobo. Pembangkit listrik ini dikelola oleh Pondok Pesantren Roudlotuth Tholibin. Pemanfaatannya memutar dua turbin dengan menggunakan aliran air irigasi dengan kapasitas produksi 140 kW.

Ada juga di Pulau Sumatera yang dibangun pada tahun 2018 yaitu PLTMH Silangkitang Tambiski di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Desa ini merupakan salah satu desa pelosok atau pedalaman yang ada di Sumatera Utara. Pembangkit listriknya berasal dari aliran air sungai dan mampu menerangi 7 dusun dengan jarak terjauh dari power house sekitar 12 km. Daya listriknya menyebar ke 155 kepala keluarga dan 96 titk lampu penerangan jalan dari pukul 17.00 WIB hingga 08.00 WIB. Warga Desa Silangkitang Tambiski tidak lagi memerlukan genset yang membutuhkan biaya besar untuk menerangi rumah mereka.

Selain itu, di Kalimantan ada PLTMH Long Alango di desa Long Alango, Kalimantan Utara. Sebelum dibuat pembangkit listrik, masyarakatnya mengandalkan lampu tembok sebagai alat penerangan serta genset misal untuk menonton televisi.

Sistem iurannya dapat disesuaikan agar warga tersebut dapat tetap menikmati listrik di rumahnya yaitu bagi yang belum mampu membayar iuran, bisa menitipkan barang yang dapat dijual di loket pembayaran kemudian hasil penjualannya akan diberikan untuk iuran bulanan warga.

Itulah artikel mengenai mikrohidro yang perlu Anda ketahui. Semoga artikel ini dapat lebih menyadarkan lagi bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa untuk dikembangkan. Terima kasih sudah membaca.