Lahan Gambut: Pengertian, Jenis, dan Manfaat

Diposting pada

7. Gambut sebagai Sumber Energi

Selain sebagai lahan, gambut juga dapat menjadi energi alternatif yang terbarukan untuk pengganti energi yang saat ini digunakan dengan jumlah yang semakin menipis setiap tahunnya. Salah satu negara yang memanfaatkan gambut sebagai energi alternatif adalah Finlandia. Di Finlandia, gambut dikelola untuk dijadikan sektor energi.

Industri Gambut di Finlandia
Industri Gambut di Finlandia

Gambut dapat menghasilkan panas yang lebih tinggi daripada kayu atau arang yang dibakar. Nilai kalori gambut terbilang cukup tinggi yaitu 4.400 hingga 5.900 kal/g. Selain itu, dipengaruhi oleh komponen organik lainnya seperti asam humat, bitumen, karbohidrat, serta lignin. Komponen-komponen ini berpengaruh dalam intensitas fase pembakaran.

Gambut juga memiliki energi kalor lepas dengan kisaran 10 mJ/kg sampai 20 mJ/kg. Di dalam 1 m3 gambut yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar akan mampu untuk menghasilkan energi sebesar 600 mJ. Energi tersebut dapat diperoleh apabila menggunakan 17 kg batu bara sehingga sangat potensial untuk menjadikan gambut sebagai sumber energi. Contohnya Pembangkit Listrik Tenaga Uap Gambut yang sudah ada di Kalimantan dan telah dinyatakan ramah lingkungan.

Gambut memiliki komponen Fe2O akan menurunkan titik lebur abu juga rendahnya kandungan sulfur sebesar 0,05% sampai 0,20% sehingga akan sangat menguntungkan dari aspek lingkungan. Titik lebur yang dimiliki oleh gambut sendiri adalah kurang dari 3%. Kandungan kalori yang dimilikinya adalah sebesar 1.330 kJ/Nm3 sampai 1.370,6 kJ/Nm3.

Namun, untuk pembuatannya dalam menjadikannya sebagai bahan energi memerlukan sistem pemurnian yang baik. Hal tersebut karena gambut menghasilkan beberapa gas yang tergolong jenis gas berbahaya. Gas tersebut adalah CO2, CH4, dan N2O yang terjadi dari proses pirolisis.

Selain itu, pemanfaatan gambut sebagai energi alternatif merupakan cara untuk mengelola lahan gambut secara baik. Lahan gambut dapat menjadi bencana jika tidak dikelola dengan baik terutama saat musim kemarau. Lahan ini dapat menyimpan titik api yang lama untuk padam karena memiliki titik abu yang rendah sehingga jika terjadi kebakaran akan sulit untuk memadamkannya.

8. Flora dan Fauna di Lahan Gambut

Sama seperti lahan pada lainnya, lahan ini juga merupakan tempat habitat bagi flora dan fauna. Salah satu fungsinya adalah untuk menjaga keanekaragaman spesies hayati yang ada di dalamnya. Penyebaran spesiesnya juga dipengaruhi oleh formasi pada lahan gambut dan pada bagian yang memiliki gambut tebal akan sedikit jenis vegetasinya karena miskin unsur hara.

Menurut Rizali dan Buchori (2015), pada bagian pinggiran kubah memiliki keanekeragaman jenis tumbuhan paling tinggi dan sering disebut sebagai mixed forest dengan berbagai jenis pohon dengan diameter kayu yang besar juga banyak ditumbuhi oleh tumbuhan bawah. Semakin dekat dengan kubah gambut, akan semakin sedikit juga keanekaragaman tumbuhannya dan sering disebut sebagai deap peat forest.

Kubah gambutnya adalah tempat dengan keanekaragaman flora yang sangat sedikit. Tempat ini juga disebut sebagai padang forest karena hanya ditumbuhi pandan, pohon-pohon kerdil, dan semak belukar yang juga memiliki kerapatan yang rendah atau jarang.

Tumbuhan yang sering ditemukan dan merupakan endemik ekosistem ini adalah Jelutung Rawa (Dyera costulata) serta Ramin (Gonystylus bancanus) yang merupakan tumbuhan endemik dan bernilai ekonomis.

Selain itu masih terdapat tumbuhan lainnya yang merupakan endemik pada lahan tersebut seperti punak (Tetramerista glabra), Kempas (Kompassia malaccensis), Pulai Rawa (Alstonia pneumatophora), bintangur (Callophyllum spp.), Nyatoh (Palaquium spp.), Meranti Rawa (Shorea pauciflora), hingga Rengas (Melanorrhoea walichii).

Pada lahan ini juga diemukan banyak fauna yang tergolong dalam fauna akuatik maupun fauna terestrial. Fauna-fauna tersebut merupakan endemik pada ekosistem gambut juga termasuk dalam daftar spesies dilindungi berdasarkan IUCN.