Lahan Gambut: Pengertian, Jenis, dan Manfaat

Diposting pada

5. Manfaat

Lahan ini memiliki segudang manfaat bahkan selalu menjadi perbincangan hangat di dunia kehutanan dan lingkungan. Manfaat dari ekosistem gambut sendiri misalnya sebagai habitat bagi spesies flora dan fauna yang tergolong langka. Selain itu, dapat menjadi penyangga hidrologi bagi daerah sekelilingnya karena kemampuannya yang tinggi dalam menahan air. Selain itu, manfaat yang paling utama adalah sebagai penyimpan karbon dalam jumlah yang besar.

Lahan gambut juga memiliki kontribusi dalam pengurangan gas rumah kaca di atmosfer dengan proses penambatan sebesar 0,3 mm gambut per tahun. Lahan ini juga memiliki potensi untuk tempat mengelola tanaman semusim atau pertanian dengan penanaman dilakukan di lahan gambut dangkal. Hal ini karena tingkat kesuburan yang tinggi serta resiko kerusakan lingkungan yang terjadi juga rendah.

Contoh tanaman semusim yang dapat beradaptasi dengan lahan ini yaitu jagung, ubi kayu, kedelai, kacang panjang hingga padi.

Tidak hanya untuk tanaman semusim, tetapi juga tanaman tahunan seperti karet, kelapa, kelapa sawit, kakao, bahkan kopi. Namun, tanaman tersebut harus ditanam pada gambut dengan ketebalan lebih dari 3 meter.

Selain tidak diperbolehkan oleh peraturan karena merupakan kawasan konservasi dengan kondisi lahan dalam yang rapuh, jika ditanam pada ketebalan dibawah 3 meter juga harus menambahkan atau menyisipkan lapisan tanah atau lumpur mineral.

Selain itu, lahan gambut mampu menyimpan hingga 550 gigaton karbon walaupun luasnya hanya 3% dari total luas daratan dunia. Hal itu setara dengan 2 kali simpanan karbon pada seluruh hutan yang ada di dunia.

Pada daerah tropis, ekosistem gambut mampu menyimpan karbon 10 kali lebih banyak daripada tanah dan tanaman di tanah mineral. Sehingga lahan gambut juga berperan dalam pengurangan gas rumah kaca.

6. Pembentukan Gambut

Terbentuknya gambut terdiri dari beberapa proses. Gambut sendiri diduga terbentuk pada masa Holosin yaitu sekitar 10.000 hingga 5000 tahun SM, sedangkan di Indonesia terjadi pada tahun 6.800 sampai 4.200 SM. Bahkan di Kalimantan Tengah umur gambutnya mencapai 6,239 tahun di kedalaman 100 cm dan 8.260 tahun di kedalaman 5 m jika ditelusuri menggunakan teknik radio isotop atau carbon dating.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa untuk gambut terbentuk memerlukan waktu yang sangat panjang. Kecepatan pembentukan gambut adalah sekitar 0,3 mm/tahun.

Pada awalnya merupakan danau dangkal yang kemudian ditumbuhi oleh vegetasi lahan basah serta tanaman air lainnya secara perlahan.

Kemudian, vegetasi yang tumbuh sebelumnya mati dan mengalami proses pelapukan secara bertahap. Proses pelapukan tersebut membentuk lapisan transisi dengan lapisan di bawahnya atau lapisan substratum berupa tanah mineral. Kemudian, tumbuh lagi tanaman berikutnya di bagian yang lebih tengah dari danau dangkal dan membentuk lapisan-lapisan gambut lainnya hingga memenuhi danau tersebut.

Bagian yang mengisi danau dangkal dikenal dengan nama gambut topogen. Gambut topogen memiliki proses pembentukan akibat topografi yaitu berupa daerah cekungan dan tergolong eutrofik sehingga termasuk tanah yang subur karena adanya pengaruh dari tanah mineral. Jika terjadi banjir besar akan meningkatkan mineral di dalamnya. Penambahan mineral juga turut dalam meningkatkan kesuburan tanahnya.

Di atas jenis gambut topogen masih dapat ditumbuhi dengan subur oleh tanaman tertentu. Kemudian terbentuklah lapisan gambut yang baru dari hasil pelapukannya sehingga semakin banyak pelapukan membentuk permukaan yang cembung yang disebut sebagai kubah gambut.

Di atas jenis gambut topogen muncul kembali jenis gambut yang disebut dengan jenis gambut ombrogen dan dipengaruhi oleh air hujan dalam proses pembentukannya.

Kesuburan dari jenis gambut ombrogen lebih rendah apabila dibandingkan dengan gambut topogen. Hal ini dapat terjadi karena pada jenis gambut ombrogen tidak mengalami penambahan mineral.

Gambar Gravatar
Mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Departemen Manajemen Hutan angkatan 2016. Kelahiran Jakarta, Juni 1999. Tempat tinggal Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat