Lahan Gambut: Pengertian, Jenis, dan Manfaat

Diposting pada

3. Jenis-Jenis Lahan Gambut

Lahan ini juga terbagi berdasarkan klasifikasi menjadi beberapa macam. Klasifikasinya dapat terbagi berdasarkan kedalaman, posisi pembentukan, lingkungan pembentukan, kesuburan, hingga tingkat kematangannya.

3.1 Berdasarkan Kedalamannya

Lahan ini terbagi menjadi 4 jenis berdasarkan kedalamannya yaitu:

  • Dangkal (Kedalaman 50 cm sampai 100 cm)
  • Sedang (Kedalamannya 100 cm hingga 200 cm)
  • Dalam (Kedalaman antara 200 cm sampai 300 cm)
  • Sangat dalam (Kedalaman yang lebih dari 300cm)

3.2 Berdasarkan Posisi Pembentukannya

Jika dilihat dari posisi pembentukannya maka terbagi menjadi 3 jenis yaitu:

  • Gambut pedalaman yang terbentuk pada daerah yang tidak dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
  • Gambut pantai dengan lokasi pembentukannya dekat pantai laut dan dipengaruhi oleh mineral air laut.
  • Gambut transisi dengan posisi pembentukan antara gambut pedalaman dan gambut pantai serta mendapat pengaruh secara tidak langsung oleh air pasang laut.

3.3 Berdasarkan Lingkungan Pembentukan

Jenis ini membagi menjadi 2 jenis lahan. Salah satunya adalah ombrogen yang mendapat pengaruh hanya dari air hujan serta topogen yang terbentuk pada lingkungan dengan pengaruh air pasang. Hal tersebut menyebabkan jenis topogen lebih subur dan kaya mineral apabila dibandingkan dengan jenis ombrogen.

3.4 Berdasarkan Kesuburan

Lahan ini terbagi ke dalam 3 jenis lahan.

  • Eutrofik
    Eutrofik kaya mineral dan basa-basa juga unsur hara lainnya sehingga tergolong subur dan termasuk dalam gambut yang tipis serta mendapat pengayaan oleh air laut atau air sungai.
  • Mesotrofik
    Jenis ini memiliki tingkat kesuburan agak subur dengan kandungan basa serta mineralnya tergolong sedang.
  • Oligotrofik
    Jenis yang tidak tergolong subur dan miskin mineral serta senyawa basa lainnya biasanya memiliki ciri-ciri kubah gambut yang tebal dan tidak mendapat pengaruh dari air laut atau lumpur sungai.

3.5 Berdasarkan Tingkat Kematangannya

Berdasarkan tingkat kematangannya, lahan gambut juga dibagi menjadi 3 yaitu:

  • Matang atau Saprik
    Jenis gambut yang telah melapuk lanjut serta tidak dikenali lagi bahan asalnya dengan ciri-ciri warna cokelat tua hingga hitam dan kandungan seratnya apabila diremas kurang dari 15%.
  • Setengah Matang atau Hemik
    Jenis ini mengalami setengah pelapukan dengan warna cokelat dan masih bisa dikenali bahan asalnya dan kandungan serat apabila diremas adalah 15 sampai 75%.
  • Jenis mentah atau Fibrik
    Jenis yang bahan asalnya masih lebih bisa dikenali daripada jenis hemik dan belum mengalami pelapukan sehingga kandungan seratnya apabila diremas masih tersisa lebih dari 75%. Ciri-ciri lainnya yaitu memiliki warna cokelat yang lebih muda.

4. Sebaran Lahan Gambut di Dunia

Lahan gambut tersebar di berbagai penjuru dunia. Namun, tidak semua negara memiliki lahan gambut di dalamnya. Salah satu yang pasti memiliki lahan gambut adalah Indonesia yang berdasarkan Global Wetlands pada tahun 2019 memiliki luas 22,5 juta hektare.

Penyebarannya paling banyak adalah di Kalimantan dengan total luas 6,6 juta hektare tersebar di setiap provinsinya. Lalu di Papua sebesar 6,3 juta hektare dan Papua Barat sebesar 1,3 juta hektare. Di Pulau Sumatera sebesar 4,5 juta hektare dengan wilayah penyebaran di provinsi Riau, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara. Sisanya tersebar di wilayah lain.

Pada tahun 2008, salah satu sebaran terluasnya berada di Rusia. Namun, terjadi konversi lahan menjadi penggunaan lain secara besar-besaran di dunia dan 37% dari 3,83 juta hektare terjadi di Rusia. Tidak hanya konversi, tetapi juga mengalami pengurangan sebesar 26% dari luas 6,5 juta hektare dari tahun 1990 hingga 2008 di Rusia. Berbanding terbalik dengan Rusia, lahan gambut di Asia mengalami penambahan seluas 7,8 juta hektare.

Sedangkan di wilayah Eropa negara terluas yang memiliki lahan gambut adalah Belarusia dan Finlandia. Tetapi sama halnya di Rusia, daerah ini juga mengalami pengurangan lahan gambut selama periode 1990 hingga 2008 dari total pengurangan lahan akibat konversi sebesar 33% dari luas total pengurangan sebesar 3,83 juta hektare.