Kopi Arabika, Biji Hitam Berharga dari Tanah Afrika

Diposting pada

4. Harga

Kopi ini dikenal sebagai jenis kopi yang paling mahal di pasaran.

Tak mengherankan, karena banyak pecinta kopi yang memburu olahan kopi yang penuh cita rasa ini.

Arabika dijual dalam dua macam, green bean dan roasted baik yang semi wash maupun full wash.

Masing-masing memiliki harga yang berbeda, dengan produk yang telah melalui tahap roasting memiliki harga yang lebih mahal.

Hal ini karena produk roasted melalui satu tahap tambahan sebelum dijual.

Di Indonesia, harga green bean Arabika dijual di kisaran harga 55 ribu hingga 150 ribu, tergantung jenis dan daerah asal kopi tersebut.

Sedangkan produk yang telah di roasting dihargai 150 ribu sampai 350 ribu, baik produk yang masih berbentuk biji atau sudah menjadi bubuk.

5. Kandungan Kafein

Kopi yang dikenal memiliki cita rasa yang sedap ini memiliki kandungan kafein sebesar 0,8% sampai 1,5% dari berat totalnya.

Jumlah kafein yang ada di kopi ini masih lebih rendah dibanding saudaranya Robusta yang ada di angka 1,8% sampai 4%.

Untuk kopi satu gelas dengan ukuran 225 ml misalnya, dibutuhkan paling tidak 15 gram kopi.

Jika dihitung berdasar prosentase tersebut, maka dalam satu gelas berisikan 0,225 gram kafein.

Anda bisa minum 2 gelas kopi murni per hari, dengan batas maksimal konsumsi kafein yang berada di angka 0,4 gram.

6. Varian Produk

Kopi ini ternyata tak hanya diolah untuk dijadikan minuman saja.

Biji kopi bisa diolah untuk menjadi berbagai varian lain, mulai dari makanan, selai, hingga produk kecantikan.

Beberapa tahun terakhir sedang marak adanya produk kecantikan baik untuk pria maupun wanita yang menggunakan kopi sebagai bahan dasar.

Aroma kopi yang khas akan memberikan sensasi khusus bagi pemakai atau orang yang menciumnya. Oleh karena itu produk semacam sabun, masker, dan parfum dengan wangi kopi.

Kopi juga bisa dijadikan pelengkap untuk beberapa makanan. Di beberapa daerah, ada yang membuat kopi menjadi bahan tambahan untuk ayam goreng dan nasi goreng.

Di daerah lainnya kopi digunakan dalam puding, dan yoghurt, bahkan sambal.

7. Bentuk Biji Kopi Arabika

Kopi Arabika memiliki bentuk yang khas.

Kopi ini memiliki ukuran yang lebih besar dibanding kopi Robusta.

Selain itu, bijinya lebih pipih dan memanjang dengan tekstur yang lebih halus.

Saat masih berupa buah, kopi ini berwarna hijau tua ketika muda, kemudian menjadi hijau muda dan kuning, dan merah terang saat akan matang.

Saat inilah buah kopi sangat rawan rontok.

Oleh karenanya perlu perlakuan dan perhatian khusus saat akan panen.

Karena jika buah rontok akan sangat mempengaruhi cita rasa kopi.

8. Negara Penghasil Kopi Arabika

Kopi Arabika sudah terkenal sejak abad ke-7 sebagai minuman penyegar dengan cita rasa enak dan khas.

Meski begitu, usaha menjadikannya komoditi untuk dibudidayakan baru dimulai pada abad ke-16.

Adalah bangsa Eropa, melalui seorang asal Belanda yang mengeluarkannya dari jaringan perdagangan di Yaman.

Mereka membawa dua macam kultivar, yaitu Typica dan Bourbon.

Kultivar Typica dibawa ke pulau Jawa, sedangkan Bourbon dibawa ke Brazil melalui La Reunion.

Kultivar Typica kemudian disebarkan ke beberapa negara jajahan lainnya di Asia Selatan dan Amerika Tengah.

Tak lama berselang, bangsa Eropa berhasil menjadi pemain utama dalam perdagangan kopi.

Belanda menjadi negara yang paling banyak menjual kopi.

Selepas merdeka, negara itu tak lantas memusnahkan tanaman kopi ini.

Namun, mereka melihat ada nilai yang bisa didapat dari kopi.

Negara-negara tersebut masih terus menjadikan kopi Arabika sebagai salah satu komoditi pertanian mereka.

Sejak saat itu, negara-negara di Amerika Selatan dan Tengah, serta beberapa negara Asia menjadi negara penghasil kopi Arabika terbesar di dunia, selain asalnya di Afrika.

Brazil menjadi negara terbesar penghasil kopi dunia dengan menghasilkan 30% dari total perdagangan kopi.

Di Brazil, kopi Arabika menjadi biji kopi yang paling banyak ditanam, dimana 80% dari total keseluruhan kebun kopi adalah perkebunan kopi ini.

Hal ini berimbas pada produksi kopi yang sangat besar.

Tahun 2016, negara sepak bola ini menghasilkan 2,5 juta ton kopi bercita rasa khas ini, jauh melebihi negara lainnya yang menghasilkan tidak lebih dari 2 juta ton.

Mayoritas perkebunan kopi yang ada di Brazil terletak di tiga negara bagian, yaitu Sao Paulo, Minas Gerais dan Parana.

Ketiga negara bagian tersebut memiliki suhu daerah dan iklim yang sangat cocok untuk perkembang biakan tanaman ini.

Setelah Brazil, berjajar beberapa nama dari negara Amerika Selatan lainnya, yaitu Kolombia (2), dan Peru (5).

Negara asal kopi Arabika, Ethiopia ada di peringkat 4 dan Honduras menjadi negara ke 3 sekaligus menjadi negara Amerika Tengah yang paling banyak memproduksi kopi ini.

Di Asia Tenggara, ada 2 negara dengan produksi terbesar, yaitu Vietnam dan Indonesia.

Kedua negara ini sebenarnya lebih fokus pada perkebunan kopi Robusta.

Namun Arabika masih menemukan tempat di beberapa daerah.

Di Indonesia sendiri, hasil produksi kopi manis ini tak lebih dari 20%, dibanding kopi Robusta yang mencapai 65%.

Sisanya, dengan jumlah yang tak terlalu banyak kopi Liberika dan Excelsa.

Indonesia sempat menjadi salah satu pemasok terbesar kopi di dunia pada masa-masa awal dibawanya kopi oleh bangsa Eropa.

Namun, pada tahun 1878, hampir seluruh perkebunan kopi Arabika terkena wabah karat daun.

Penyakit yang juga dikenal dengan Hemileia vastatrix ini menyebabkan kerusakan yang berujung pada digantinya tanaman kopi tersebut dengan kopi Liberika.

Kemudian, beberapa tahun kemudian, kopi Liberika tersebut diganti kembali dengan Robusta, dikarenakan penyakit yang sama.

Sejak digantinya jenis tanaman tersebut, produksi kopi Arabika menurun drastis.

Tetapi, di beberapa daerah, tanaman asli benua Afrika ini masih tumbuh dan menghasilkan produk yang berkualitas.

Seperti di Aceh, Lampung, Bandung, Banyuwangi, dan Wamena.