Konservasi: Pengertian, Metode, dan Sejarah

Diposting pada

4.2 Suaka Margasatwa

Sebuah tempat ditetapkan sebagai suaka margasatwa saat tempat tersebut memiliki keunikan berupa jenis satwa liar langka dan dilindungi yang terdapat di dalamnya. Konsentrasi utama berada pada hewan. Kawasan ini ditujukan untuk melindungi satwa dari perburuan liar dan pelestariannya bersama dengan habitat aslinya.

Suaka Marga Satwa (pixabay.com)
Suaka Marga Satwa (pixabay.com)

Tempat ini dapat digunakan untuk kegiatan pendidikan, penelitian, ilmu pengetahuan, hingga rekreasi namun dalam jumlah yang terbatas. Tidak hanya untuk perlindungan satwa, tetapi juga untuk perbanyakan yang merupakan tempat untuk mengembangbiakkan satwa-satwa yang sudah berstatus langka agar tidak mengalami kepunahan beserta perlindungan keseluruhan ekosistemnya.

Luas kawasannya harus sesuai dengan kebutuhan satwa-satwa tersebut. Kerusakan atau kehancuran yang ada tidaklah dalam kondisi yang sangat buruk sehingga dapat berfungsi sebagai rumah atau tempat tinggal asli satwa.

Di dalamnya juga memiliki tingkat keanekaragaman satwa langka yang dilindungi dalam skala tinggi sehingga memungkinkan untuk membentuk suatu kawasan konservasi secara in situ. Kawasan ini juga ditetapkan untuk mempermudah pengawsan terhadap spesies-spesies langka tersebut.

Contoh dari kawasan suaka margasatwa adalah Suaka Margasatwa Sikindur di Sumatera Utara dengan objek utama satwa berupa orangutan, gajah, dan macan.

4.3 Taman Nasional

Ekosistem taman nasional merupakan ekosistem yang masih asli dan pengelolaan yang dilakukan menggunakan sistem berupa zonasi. Kawasan ini juga dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, ilmu pengetahuan, penelitian, hingga rekreasi.

Fungsi utamanya adalah untuk pengawetan alam. Luas wilayahnya haruslah cukup dalam proses ekologinya. Flora dan fauna yang terdapat didalamnya juga unik. Berbeda dengan suaka margasatwa dan cagar alam yang tergolong dalam kawasan suaka alam, taman nasional merupakan jenis dari kawasan pelestarian alam yang termasuk dalam kawasan hutan konservasi.

Lembaga yang mengelola adalah Balai Besar Taman Nasional yang dibawahi langsung oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penetapan kawasan ini ditujukan untuk memelihara flora dan fauna yang mewakili unit utama dalm pelestariannya.

Tempat ini juga dapat digunakan untuk sarana rekreasi di zona yang diperbolehkan saja. Selain itu tempat ini juga digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, penelitian, dan pendidikan. Keindahan pemandangan alamnya juga harus dijaga karena untuk menarik minat para wisatawan lokal maupun asing.

Terdapat pemeliharaan daerah aliran sungai oleh karena itu tidak hanya berfokus pada flora dan fauna yang dilidungi dan langka, melainkan taman nasional juga memiliki tanggung jawab untuk melakukan pengembangan serta pembangunan di desa sekitar kawasan taman nasional termasuk pemanfaatan lahannya.

Pada kawasan taman nasional yang berada di daerah hulu sangat penting dalam pegendalian terhadap erosi juga sedimentasi untuk keamanan dan perlindungan bagi daerah hilir sehingga manfaatnya dirasakan juga hingga ke tingkat hilir.

Terdapat  tiga zona dalam kawasan taman nasional.

Pertama adalah zona inti yang didalamnya disusun oleh komponen botik pembentuk ciri khas dari ekosistem taman nasional dengan keadaan masih asli dan belum terganggu oleh manusia. Berfungsi untuk melindungi flora dan fauna khas didalamnya yang sangat sensitif apabila mengalami gangguan dari luar. Juga berperan sebagai sumber plasma nutfah bagi satwa dan tumbuhan.

Zona lainnya adalah zona rimba yang berfungsi untuk tempat mengembangbiakkan satwa langka dan sistem penyangga zona inti serta terdapat satwa migran didalamnya. Selain itu juga untuk area kegiatan pengawetan sumber daya alam.

Terakhir dalah zona pemanfaatan. Di zona inilah terdapat daya tarik wisatawan melalui keindahan alam serta flora dan faunanya sehingga layak untuk menjadi tempat rekreasi. Batas wilayahnya juga tidak dibatasi oleh wilayah administratif melainkan bentang alam, contohnya pada Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang meliputi 3 kabupaten yaitu Bogor, Cianjur, dan Sukabumi.