Konservasi: Pengertian, Metode, dan Sejarah

Diposting pada

3. Metode Konservasi Lingkungan

Berikut ini beberapa metode untuk konservasi lingkungan:

3.1 Konservasi In-situ

Metode in-situ merupakan upaya untuk melestarikan keanekaragaman hayati. Pelestariannya dilaksanakan pada habitat asli individu tersebut baik flora maupun fauna.

Metode ini merupakan upaya untuk mencegah kepunahan dari sumber daya alam tersebut yang memiliki habitat dengan karakteristik unik. Kawasan yang termasuk dalam kawasan in-situ adalah cagar alam, suaka margasatwa, dan taman nasional.

Konservasi Satwa (pixabay.com)
Konservasi Satwa (pixabay.com)

Di dalam kawasan tersebut tidak diperbolehkan adanya perburuan satwa dan penebangan. Jika hal tersebut dilakukan, akan dianggap ilegal dan terdapat sanksi sebagai hukumannya.

Pencegahan terjadinya kepunahan hewan atau tumbuhan langka dengan menetapkan kawasan konservasi in-situ berupa taman nasional karena populasinya yang banyak di daerah tersebut tidak memungkinkan adanya pelestarian secara ex-situ.

Selain itu, lingkungannya masih terjaga dan layak untuk dijadikan tempat tinggal satwa tersebut. Penetapannya sebagai kawasan konservasi in situ bertujuan untuk membatasi aktivitas-aktivitas lain dan mengurangi risiko terjadinya kerusakan habitat yang dapat mengganggu satwa tersebut hingga terancam punah.

Orang-orang yang masuk ke kawasan In situ juga memerlukan izin sehingga pengunjung serta kegiatannya dibatasi. Di kawasan ini, populasi tersebut dilepasliarkan di alam bebas.

3.2 Konservasi Ex-situ

Selain in-situ, metode lainnya adalah metode ex-situ. Upaya pelestarian ini dilakukan bukan di habitat aslinya melainkan habitat buatan. Metode ini dilakukan jika habitat asli flora/ fauna telah mengalami kerusakan yang cukup tinggi sehingga tidak layak dan mampu untuk dihuni oleh individu tersebut dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengembalikan fungsinya.

Luas kawasannya tidak luas dan populasinya tidak berada dalam jumlah besar sehingga memungkinkan dibuat habitat buatan. Habitat buatan ini juga disesuaikan dengan habitat aslinya sehingga resiko terancam mati dan punah bagi sumber daya alam hayati tersebut berkurang.

Tidak seperti metode In situ yang melepasliarkan sumber daya alam tersebut secara bebas di alam liar, metode eksitu menempatkannya pada habitat buatan yang dekat dengan manusia.

Penangkaran merupakan salah satu metode konservasi eksitu. Luas wilayahnya juga tidak sama dengan habitat aslinya karena sudah dimodifikasi sebab keterbatasan biaya beserta luas area yang dapat dimanfaatan. Isinya juga kaya atau dapat disebut padat karya sehingga tidak alami seperti metode pada insitu.

Reforestasi juga dilakukan dalam rangka mengembalikan fungsi habitat tersebut untuk mencegah kepunahan. Pengunjungnya juga tidak dibatasi, contohnya pada kebun binatang.

Konservasi ex-situ juga dapat berfungsi sebagai pusat rehabilitasi satwa yang nantinya dilakukan pelepasliaran kembali untuk menjaga populasi di alam liar.

4. Contoh Konservasi Alam

Berikut beberapa contoh konservasi alam yang dapat ditemukan di Indonesia:

4.1 Cagar Alam

Kawasan ini merupakan habitat asli bagi satwa dan tumbuhan yang memiliki karakteristik unik atau khas sesuai dengan lingkungannya. Cagar alam tergolong dalam jenis kawasan suaka alam bersama dengan suaka margasatwa. Perlindungan yang dilakukan mencakup ekosistem yang perkembangannya yang berlangsung secara alami.

Suatu kawasan yang ditetapkan sebagai cagar alam dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, penelitian dan pengembangan, serta ilmu pengetahuan. Selain itu untuk mencegah kepunahan dan terjadinya kerusakan pada daerah cagar alam sampai lingkungan sekitarnya sehingga tetap lestari.

Menjaga tanah agar tetap subur dan kualitas udara yang bersih hingga penataan air tidak hanya di dalam kawasan tetapi hingga luar kawasan atau lingkungan sekitarnya. Tujuan utamanya untuk perbanyakan jenis serta jumlah flora dan fauna juga hasil-hasil hutan lainnya agar tetap lestari.

Cagar alam berisi flora dan fauna yang dilindungi dan memiliki ekosistem yang tidak mengalami kerusakan tinggi sehingga masih alami dan luas wilayah yang susai dengan peraturan pemerintah contohnya adalah Cagar Alam Telaga Patenggang yang terdapat di Jawa Barat dan Cagar Alam Teluk Baro yang berlokasi di Yogyakarta.

Pengelolaannya diatur oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam untuk memantau tidak hanya perkembangan ekosistem saja tetapi hingga perorangan, kelompok, dan perusahaan yang terkait.