Konservasi Tanah dan Air

Diposting pada

4.1.1 Pertanaman Lorong

Pertanaman lorong (alley cropping) adalah konservasi tanah dan air dengan sistem bercocok tanam barisan tanaman perdu leguminosa ditanam rapat (jarak 10-25 cm) mengikuti garis kontur (nyabuk gunung) sebagai tempat pagar. Menerapkan teknik ini pada lahan yang miring jauh lebih murah biayanya daripada membuat teras bangku.

Teknik ini pun cukup efektif dalam menahan erosi. Setelah 3-4 tahun setelah pembuatan tanaman lorong maka akan tercipta teras dengan sendirinya, hal ini pulalah yang menyebabkan metode ini disebut teras kredit.

4.1.2 Sistem Silvopastura

Sistem silvopastura merupakan salah satu bentuk dari sistem tumpangsari. Prinsip dari sistem ini adalah menanam pakan di bawah tegakan pohon. Pakan ternak ini dapat berupa rumput gajah, setaria, dan lain-lain.

Di Indonesia sendiri dikenal beberapa macam teknik silvopastura, di antaranya adalah (1) tanaman pakan di hutan tanaman industri, (2) tanaman pakan di hutan sekunder, (3) tanaman pohon-pohonan sebagai tanaman penghasil pakan, dan (4) tanaman pakan sebagai pagar hidup.

4.1.3 Pemberian Mulsa

Pemberian mulsa bermaksud untuk menutupi permukaan tanah agar terhindar dari pukulan butiran hujan. Pemberian mulsa merupakan salah satu cara yang paling efektif dalam mencegah erosi, terutama jenis erosi percik.

Mulsa yang berasal dari bahan organik memiliki fungsi lain, yaitu memberikan bahan-bahan organik pada tanah. Bahan organik yang dapat dijadikan mulsa dapat berasal dari sisa tanaman, hasil pangkasan tanaman pagar dari sistem penanaman lorong, hasil pangkasan tanaman penutup tanah, atau didatangkan dari luar lahan pertanian.

4.2 Metode Mekanik

Metode makanik adalah semua perlakuan fisik mekanik yang diberikan tanah dan pembuatan bangunan untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi, dan meningkatkan kemampuan penggunaan tanah.

Metode mekanik dalam KTA dapat berupa:

  1. Pengolahan tanah
  2. Guludan (pematang tanah yang dibuat sejajar garis kontur)
  3. Teras
  4. Penghambat (cek dam)
  5. Waduk
  6. Rorak (saluran air buntu untuk menangkap sedimen dan mengurangi laju aliran air)
  7. Perbaikan drainase
  8. Irigasi
  9. Sumur resapan
  10. Lubang resapan

4.3 Metode Kimia

Metode KTA secara kimia adalah usaha pencegahan erosi yaitu dengan pemanfaatan soil conditioner atau bahan pemantap tanah dalam hal memperbaiki struktur tanah sehingga akan tahan terhadap erosi.

 

5. Ruang Lingkup Konservasi Tanah dan Air

Ruang lingkup konservasi tanah dan air sangat kompleks dan sangat membutuhkan disiplin ilmu yang lainnya, seperti ilmu biologi, hidrologi, dan teknik konservasi tanah. Secara garis besar dapat diketahui bahwa ruang lingkup KTA meliputi:

  1. Erosi
  2. Siklus air
  3. Faktor-faktor yang mempengaruhi erosi
  4. Metode konservasi tanah dan air
  5. Tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman, dan wanatani (agroforestri)
  6. Klasifikasi pengolahan lahan

 

6. Perencanaan Konservasi Tanah dan Air Partisipatif

Perencanaan konservasi tanah dan air dapat dilakukan dengan pendekatan kemasyarakatan. Pelibatan masyarakat dalam hal ini sangat penting karena masyarakat memiliki andil yang sangat besar dalam usaha konservasi tanah dan air.

Keunggulan dari adanya sistem KTA partisipatif ini adalah:

  1. Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan
  2. Masyarakat mau dan percaya diri dalam membuat perencanaan konservasi tanah dan air di lingkungannya
  3. Masyarakat merasa dihargai karena karyanya menjadi perhatian semua pihak
  4. Menciptakan kerja sama yang sinergis antar stakeholder (pemerintah, swasta, dan masyarakat)

Namun, sistem ini juga tidak sepenuhnya baik. Masih ada beberapa kelemahan yang perlu untuk diwaspadai apabila melakukan sistem KTA partisipatif. Beberapa kelemahan dari sistem ini adalah:

  1. Perlunya sosialisasi untuk menggugah kesadaran masyarakat
  2. Perlunya pendampingan dalam proses kemandirian dan mengakses sumber daya
  3. Pendampingan kurang efektif apabila tenaga pendamping berganti-ganti dari tahun ke tahun
  4. Membutuhkan waktu yang lama untuk menciptakan kerja sama yang sinergis

Sosialisasi mengenai konservasi merupakan langkah awal penting yang wajib dilaksanakan karena kegiatan ini bertujuan untuk membentuk pemahaman mengenai kegiatan konservasi tanah dan air. Kegiatan sosialisasi dibedakan menjadi dua berdasarkan sasarannya, yaitu sosialisasi di lingkungan pemerintah daerah dan sosialisasi kepada masyarakat yang dilaksanakan setelah berkoordinasi dengan kecamatan dan kelurahan atau desa.

Sosialisasi di lingkungan pemerintah daerah diharapkan mampu meningkatkan pemahaman tentang KTA sendiri, hal ini berguna untuk memudahkan mensinergikan program KTA partisipatif dengan berbagai program pemda yang sudah ada.

Sosialisasi kepada masyarakat menerangkan tentang masalah-masalah yang mungkin terjadi dalam jangka panjang maupun jangka pendek terhadap pengelolaan tanah dan air. Setelah menjelaskan mengenai berbagai masalah yang sekiranya akan muncul, barulah dijelaskan mengenai pentingnya melakukan konservasi tanah dan air. Selain itu, dijelaskan juga mengenai peran penting masyarakat dalam melakukan KTA di daerahnya sendiri.

Perlu diingat juga dalam menentukan strategi konservasi harus ada beberapa pilihan model-model konservasi agar nantinya masyarakat memilih model KTA yang disukai dan menguntungkan mereka. Biasanya masyarakat menginginkan metode KTA vegetatif karena mereka masih dapat memanfaatkan lahan yang ada secara optimal.

Itulah berbagai hal yang berkaitan dengan KTA (Konservasi Tanah dan Air). Semoga informasi ini bermanfaat dan menggugah kita untuk terus mencintai lingkungan yang akan kita wariskan kepada anak cucu.