Kompos: Pengertian, Jenis, Manfaat, Bahan, Kualitas, dan Pembuatan

Diposting pada

6.6 Suhu

Penjagaan suhu sangat penting dalam proses pengomposan agar proses dekomposisi berjalan dengan lancar.

Biasanya timbunan bahan yang mengalami proses dekomposisi akan terjadi peningkatan suhu mencapai 65-70% akibat aktivitas mikroba dalam proses dekomposisi.

Hal yang mempengaruhi besarnya suhu adalah volume timbunan terhadap permukaan sehingga diperlukan penentuan ketinggian timbunan bahan organik agar suhunya dapat terjaga dengan baik.

Semakin tinggi volume timbunan terhadap permukaan maka semakin besar panas terisolasi dan semakin mudah timbunan tersebut panas yang membuat proses pengomposan menjadi lebih cepat.

6.7 Tingkat Keasaman (pH)

Bahan organik dengan pH 3-11 dapat dijadikan kompos, namun pH optimum yang baik dijadikan pupuk ini berkisar antara 5.5-8.

Mikroba umumnya menyukai pH netral sedangkan fungi aktif menyukai pH agak masam.

Selama proses pengomposan, pH akan bervariasi dari mulai tahap awal pengomposan pH asam kemudian pH mulai bergerak sampai netral hingga akhir proses pengomposan.

6.8 Kandungan Hara

Kandungan hara dari bahan organik yang digunakan untuk pembuatan pupuk ini juga berpengaruh terhadap proses pengomposan.

Kandungan hara bahan organik yang banyak akan mempermudah aktivitas mikroba dalam proses dekomposisi dan mempercepat proses dekomposisi tersebut.

Unsur hara inilah yang nantinya akan bermanfaat bagi tanah dan tanaman.

6.9 Kandungan Bahan Berbahaya

Proses pengomposan harus dihindarkan dari kandungan bahan berbahaya.

Bahan-bahan yang sukar dan lambat untuk diuraikan baik dalam berbentuk plastik, batu, logam maupun bahan-bahan yang bersifat toksik/ racun tidak boleh mencemari proses pengomposan.

Hal ini dapat menghambat pertumbuhan mikroba, misalnya residu pestisida.

6.10 Lama Pengomposan

Proses pengomposan juga dipengaruhi oleh waktu yang diperlukan untuk pembuatannya.

Lama pengomposan sendiri tergantung dari jenis bahan yang digunakan untuk pupuk tersebut, proses pengolahannya, dan mikroba yang berperan terhadap proses dekomposisi.

Kompos dengan kematangan yang baik akan memakan waktu prosesnya selama 2-3 bulan dengan memerhatikan sifat-sifat kematangan pupuk ini.

7. Pengomposan Secara Aerobik

Proses pengomposan dapat berlangsung secara aerobik (memerlukan oksigen) dan anaerobik (tanpa memerlukan oksigen).

Energi yang dihasilkan pada proses pengomposan aerob lebih besar daripada proses pengomposan anaerob.

Pengomposan secara aerobik menghasilkan CO2, H2O, unsur hara, dan energi sebesar 484-674 kcal/mol glukosa.

7.1 Tahapan Pengomposan Aerobik

Proses pengomposan aerobik terdiri dari tiga tahapan, yaitu tahap mesofilik, termofilik, dan pendinginan.

Pada tahap mesofilik, suhu naik sebesar 40oC karena adanya pembentukan asam oleh bakteri dan fungi.

Selanjutnya suhu terus naik sampai tahap termofilik sekitar 40 – 70oC, dan pada kondisi ini didominasi oleh bakteri dan fungi termofilik.

Pada sekitar suhu termofilik, proses stabilisasi dan degradasi bahan berlangsung maksimal.

Pada tahap pendinginan aktivitas mikroba menurun, dan terjadi penggantian mikroba termofilik dengan fungi dan bakteri mesofilik.

Selama tahap pendinginan, berlangsung proses penguapan air dari bahan-bahan yang telah dikomposkan, stabilisasi pH, dan penyempurnaan pembentukan asam humat pun terjadi.

Bahan akhir yang terbentuk stabil dan jadilah pupuk organik (Saraswati dan Praptana 2017).

8. Kualitas Kompos yang Baik

Kualitas kompos yang baik ditentukan oleh kematangan kompos.

Sifat-sifat pupuk kompos matang yang sesuai untuk tanaman meliputi:

  1. tidak berbau
  2. remah
  3. berwarna kehitaman (kandungan hara yang relatif tinggi)
  4. pH > 5
  5. C/N rasio rendah < 20
  6. mengandung bahan-bahan toksik yang rendah bagi tanaman
  7. mengandung banyak mikroba yang menguntungkan (bakteri termofilik dan aktinomycetes) yang digunakan sebagai pengendali hayati penyakit tumbuhan.

Selain itu, mutu kompos juga dipengaruhi oleh mutu dari bahan-bahan pembuatnya dan mutu proses pengomposan.

Jika bahan yang digunakan bermutu baik maka mutu dari pupuk itu pun baik dan proses pembuatannya pun mempengaruhi hasil akhir dari pupuk itu sendiri.

Proses pengolahan harus sedapat mungkin tidak tercemar oleh zat-zat logam berat seperti merkuri, seng, kromium, dan kadmium serta bahan kimia seperti pestisida yang dapat mengurangi mutunya.