Kompos: Pengertian, Jenis, Manfaat, Bahan, Kualitas, dan Pembuatan

Diposting pada

5. Proses Pengomposan

Pengomposan merupakan peruraian bahan-bahan organik secara biologi dalam suhu tinggi dengan produk akhir pupuk yang menguntungkan bagi tanah dan lingkungan.

Proses pengomposan meliputi proses biologis karena selama proses pengomposan berlangsung, mikroogranisme seperti bakteri dan fungi berperan aktif (Unus 2002).

Proses pengomposan terjadi secara alami dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

Pembuatannya dapat memerlukan waktu 1-1,5 bulan, 2-3 bulan, bahkan ada yang 6-12 bulan sesuai dengan bahan pembuatannya.

Proses pengomposan terdiri dari pengomposan konvensional dan pengomposan dipercepat.

Pengomposan konvensional berlangsung selama 2-3 bulan, sedangkan pengomposan dipercepat hanya memakan waktu 3-5 minggu saja dalam proses pembuatannya.

Proses pembuatannya meliputi pengumpulan bahan-bahan organik, pengadukan bahan-bahan tersebut agar menjadi satu kesatuan, penggunaan suhu 50-70 0C selama 2-3 hari yang bertujuan untuk mematikan mikroorganisme patogen dan penguraian bahan organik oleh mikroorganisme.

Proses penguraian atau dekomposisi bahan organik terdiri dari tiga tahap yaitu:

  1. Tahap dekomposisi dan sanitasi, pada tahap awal ini dekomposisi berlangsung intensif, dihasilkan suhu tinggi dalam waktu yang relatif singkat, dan terjadi perubahan bahan organik yang mudah terdekomposisi menjadi senyawa lainnya;
  2. Tahap konversi, pada tahap pematangan utama ini akan terbentuk ikatan kompleks dari bahan yang sukar terdekomposisi menjadi lempung dan humus; serta
  3. Tahap sintetik, tahap ini merupakan pasca pematangan bahan yang akan menghasilkan pupuk matang.

6. Faktor yang Mempengaruhi Proses Pengomposan

Berikut adalah beberapa faktor yang memengaruhi proses pengomposan.

6.1 Rasion C/N

Mikroorganisme pengurai bahan organik memerlukan karbon dan nitrogen sebagai sumber energi pertumbuhannya dan pembentukan protein.

Untuk proses pengomposan nilai optimum adalah rasio C/N sebesar 20 : 1 hingga 35 : 1.

Nilai C/N bahan organik harus mendekati atau sama dengan nilai C/N tanah sehingga pupuk dapat digunakan atau diserap tanaman.

Prinsip pengomposan yaitu menurunkan nilai C/N bahan organik sampai sama dengan nilai C/N tanah (<20) karena pada umumnya bahan organik memiliki C/N yang tinggi.

Semakin tinggi nilai C/N maka proses pengomposan akan semakin lama.

6.2 Ukuran Partikel

Semakin kecil dan homogen ukuran partikel, semakin cepat pula proses pengomposan.

Bentuk bahan yang lebih kecil dan homogen mempunyai luas permukaan yang relatif lebih luas dibandingkan ukuran partikel yang besar.

Hal ini dapat dijadikan substrat aktivitas mikroorganisme dekomposer untuk menghancurkan bahan-bahan organik tersebut.

Ukuran partikel yang sesuai untuk pengomposan yaitu 5-10 cm.

6.3 Aerasi

Aerasi atau suplai oksigen yang baik sangat diperlukan dalam proses dekomposisi agar pengomposan berjalan dengan baik.

Aktivitas mikroba aerob memerlukan sirkulasi oksigen selama proses penguraian berlangsung.

Diperlukan pembalikan timbunan bahan organik pada saat proses penguraian agar pasokan oksigen dapat menjangkau ke semua bahan dan aktivitas mikroba berjalan dengan baik.

6.4 Porositas

Porositas mempengaruhi proses pengomposan, di mana pasokan oksigen akan mengalir jika volume rongga dalam tumpukan pupuk tidak jenuh air.

Proses pengomposan akan terhambat jika rongga-rongga terisi oleh air.

6.5 Kelembaban

Proses pengomposan harus memperhatikan kelembaban dari bahan organik.

Timbunan pupuk tersebut harus selalu lembab agar mikroba selalu beraktivitas.

Kandungan lengas yang biasa digunakan yaitu 50-60% karena kelembaban harus sesuai dan tidak boleh terjadi kelebihan atau kekurangan air.

Kelebihan air akan menimbulkan volume udara yang berkurang sehingga aerasi terganggu dan kekurangan air akan menghentikan aktivitas mikroba.