Kalajengking: Taksonomi, Habitat, Cara Hidup, dan Bahaya

Diposting pada

4. Status Kelangkaan

Data dari IUCN menyatakan bahwa status kelangkaan kalajengking adalah Least Concern (LN) yang berarti kepunahannya masih berisiko rendah.

5. Perilaku dan Cara Hidup

Mereka merupakan jenis hewan karnivora atau pemakan daging yang akan memakan mangsanya dengan menggunakan sengatan berbisanya di ujung ekor.

Cara hidup hewan yang satu ini adalah solitary atau hidup sendiri bukan berkelompok.

Sebagian besar spesies kalajengking merupakan hewan berperilaku nokturnal atau hewan yang menghabiskan waktunya di sarangnya saaat siang dan keluar dari sarang saat hari telah malam.

Mereka menjadi aktif setelah hari gelap dan kemudian menghentikan aktivitasnya beberapa saat sebelum fajar.

Hal ini dikarenakan kalajengking berpendar di bawah sinar ultraviolet.

Hewan yang satu ini merupakan hewan yang memakan laba-laba, serangga, kelabang, dan lain-lain.

Kalajengking yang ukurannya lebih besar biasanya memakan tikus, ular, dan kadal.

Mangsa akan terdeteksi melalui sensor vibrasi organ pektin.

Pedipalsnya memiliki susunan rambut sensor halus yang bisa merasakan adanya vibrasi dari udara.

Ujung-ujung yang ada pada tungkainya memiliki organ kecil yang bisa mendeteksi vibrasi di tanah.

Sebagian besar dari mereka merupakan predator yang akan menyerang dan mendeteksi mangsa saat sudah datang mendekat.

Hewan ini dilengkapi dengan venom atau racun yang digunakan untuk mendapatkan mangsa dan sebagai pertahanan.

Namun mereka sendiri juga seringkali jatuh sebagai mangsa bagi hewan lain misalnya seperti tarantula, kelabang, ular, kadal pemakan serangga, unggas (burung hantu), dan mamalia (bajing, kelelawar, tikus pemakan serangga).

Sama seperti predator lainnya, hewan yang satu ini juga cenderung mencari makanannya di wilayah teritori yang terpisah dan jelas serta akan kembali lagi ke tempat yang sama pada setiap malam.

6. Perkembangbiakan

Perkembangbiakan hewan yang satu ini biasanya terjadi selama bulan hangat mulai dari akhir musim semi sampai awal musim gugur.

Proses perkembangbiakannya akan dimulai ketika kalajengking jantan melakukan perjalanan hingga ratusan meter hanya untuk menemukan betina yang mau menerimanya.

Jika sudah menemukannya maka perkawinan akan diawali dengan jantan yang menghadap betina dan kemudian melakukan gerakan mirip tarian atau juga disebut sebagai promenade à deux.

Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menemukan permukaan halus agar jantan bisa mengeluarkan sekresi kelenjar yang membentuk tangkai.

Jika jantan masih ada di dekat betina saat setelah perkawinan maka biasanya ia akan dibunuh dan dimakan.

Umumnya betina akan kawin beberapa kali dengan pasangan yang berbeda, tetapi ada juga spesies yang diketahui bisa menghasilkan keturunan tanpa melakukan kawin sama sekali atau parthenogenesis.

Tidak seperti serangga, kalajengking bukanlah hewan yang sistem reproduksinya bertelur atau ovipar tetapi kalajengking termasuk ovovivipar.

Kalajengking bertahan di punggung induk
Kalajengking bertahan di punggung induk

Sesuai dengan namanya, ovovivipar adalah gabungan dari ovipar (bertelur) dan vivipar (melahirkan).

Sang induk menyimpan sel telur di dalam tubuhnya dan kemudian dilahirkan dengan bentuk bayi bukan telur.

Betina akan melahirkan bayi dengan jumlah 4 sampai 9 bayi dalam satu kali melahirkan.

Proses melahirkan ini bisa berlangsung selama beberapa jam bahkan juga hingga beberapa hari.

Saat lahir bayi kalajengking mempunyai warna kulit putih dan diselimuti oleh selaput atau korion.

Bayi atau anak yang tidak berhasil berganti kulit biasanya akan mati.

Setelah bebas, bayi kalajengking akan merangkak ke punggung sang induk dan bertahan dalam jangka waktu 1 sampai 50 hari.

Selama masih belum mempunyai banyak energi, bayi akan memanfaatkan cadangan makanan yang ada di dalam tubuh mereka sembari menerima air yang diberikan sang induk melalui kutikula.