Kalajengking: Taksonomi, Habitat, Cara Hidup, dan Bahaya

Diposting pada

2.4 Kepala

Pada bagian kepala kalajengking terdapat mulut, sepasang pedipapls atau penjepit, dan mata.

Hewan ini mempunyai beberapa mata yaitu dua mata ada di bagian atas prosoma (kepala) dan dua sampai lima mata lagi ada di kedua sisi depan.

Walaupun mempunyai banyak mata, kalajengking tidak mempunyai visibilitas yang baik dan mereka sangat sensitif terhadap cahaya.

Jadi, beberapa mata ini hanya berfungsi untuk membedakan antara gelap dan terang.

2.5 Abdomen

Hewan yang satu ini mempunyai abdomen yang terdiri atas 12 ruas dengan bagian ruang 5 terakhir menghasilkan bentuk ruas metasoma sehingga kebanyakan orang menyebutnya sebagai ekor.

Ujung abdomennya berbentuk bulat dan mengandung racun (venom) atau disebut sebagai telson.

Alat penyengatnya berbentuk lancip dan bisa mengeluarkan venom atau racun.

2.6 Ekor

Ekor kalajengking juga disebut sebagai metasoma.

Ekor ini mempunyai lima bagian dan telson atau organ mirip vesikel dengan fungus untuk menyimpan kelenjar beracun.

Bagian inilah yang digunakan untuk menyuntikkan racun ke tubuh korban atau mangsa.

2.7 Kaki

Hewan yang satu ini merupakan hewan yang mempunyai 4 pasang kaki atau berjumlah 8 kaki.

Masing-masing dari kakinya terdiri atas 7 segmen yakni coxa, trochanter, femur, patella, tibia, basitarsus, dan telotarsus.

Pada ujung tarsus dinamai apotele yang berisi cakar atau ungues.

Segmen coxa merupakan kaki yang ukuran lebih besar dibandingkan kaki yang lain dan berguna untuk melindungi permukaan ventral prosoma.

2.8 Penjepit

Kalajengking juga dikenal sebagai salah satu hewan yang mempunyai penjepit di bagian depan atau pedipalps.

Penjepit ini sendiri biasanya digunakan untuk menangkap mangsa, melakukan perkawinan, dan menggali liang.

3. Habitat dan Sebaran

Habitat kelajengking ada di padang rumput, gurun kering, padang pasir, hutan tropis, dan sabana.

Habitat kalajengking di gurun pasir
Habitat kalajengking di gurun pasir

Kalajengking yang hidup di padang pasir memiliki bulu sikat yang bisa bergerak membentuk sisir pada kaki sehingga meningkatkan luas permukaan serta memungkinkannya untuk berjalan di atas pasir tanpa tenggelam.

Adapun kalajengking yang hidup di bebatuan yaitu kalajengking batu Afrika Selatan.

Mereka mempunyai setae yang kokoh seperti spinelike yang bekerjasama dengan cakar sangat melengkung guna memberikan cengkraman yang kuat saat berada di permukaan batu.

Sebagian besar kalajengking senang bersembunyi atau membuat sarang di bawah batu, kayu, papan, dan barang-barang berantakan.

Ada spesies bark scorpion yang tinggal di semak, pohon, dan dinding.

Terdapat beberapa spesies pula yang memilih untuk menghabiskan waktu istirahat siang harinya di liang.

Liang atau lubang yang nyaman menurut mereka adalah lubang yang digali hingga berada di kedalaman yang suhu dan kelembapannya sesuai.

Beberapa dari mereka akan beristirahat sembari menunggu mangsanya datang.

Spesies Anuroctonus phaiodactylus bahkan hanya akan menunggu mangsanya untuk masuk ke dalam sarang.

Kalajengking jantan dewasa akan pergi meninggalkan liang dalam waktu yang cukup lama untuk berkelana mencari calon pasangan.

Sementara untuk sebarannya, bisa dikatakan hewan yang satu ini dapat ditemui di seluruh benua kecuali Antartika dan Greenland.

Di Amerika Serikat sendiri, hewan ini banyak hidup di wilayah gurun barat daya khusunya di New Meksiko, Arizona, dan sebagian California.

Di seluruh belahan dunia, mereka seringkali ditemui di Afrika Utara, Asia, India, Amerika Utara, Amerika Selatan, Timur Tengah, Meksiko, Oceania, Eurasia, Eropa, dan Amerika Tengah.

Contoh spesies kalajengking yang banyak ditemukan di Asia termasuk Indonesia adalah Asian forest scorpion atau Heterometrus spinifer.