Hutan mangrove berada di zona pasang surut seperti rawa-rawa, laguna, muara sungai, dan pantai di daerah pesisir tropis maupun subtropis yang relatif terlindungi. Kandungan yang dimiliki berupa endapan dan lereng endapan dengan kapasitas 0,25%-0,50% tersusun dari pohon dan semak yang toleran terhadap garam.

Tipe hutan ini memiliki kandungan karbon yang berada di wilayah iklim tropis. Lahan hutan mampu menyimpan tiga kali rata-rata karbon per hektar hutan tropis daratan. Namun, hutan mangrove di Indonesia memiliki keunikan tersendiri yaitu mampu menyimpan lima kali rata-rata karbon per hektar dibandingkan dengan hutan tropis dataran tinggi.

Hutan Mangrove

 

1. Pengertian

Hutan mangrove atau seringkali disebut juga hutan bakau merupakan jenis hutan dengan ekosistem hutan daerah pantai dan terdapat pepohonan yang mampu berdaptasi dengan kadar garam tinggi. Ciri-ciri pohon di ekosistem mangrove memiliki akar yang mencuat ke permukaan dan perawakan pohon seperti semak belukar yang dapat menjadi pembatas antara daratan dan lautan.

Hutan ini terdiri dari tumbuhan berkayu yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis maupun subtropis yang memiliki bentuk berupa lahan pantai dengan jenis tanah kaya akan karbon.

 

2. Perbedaan Hutan Mangrove dan Hutan Bakau

Hutan mangrove dan hutan bakau memiliki perbedaan yang signifikan tetapi kedua istilah hutan ini sering dirujuk dalam satu arti. Hutan mangrove merupakan hutan yang mengacu pada sekelompok tanaman yang mampu tumbuh di sepanjang garis pantai dan mampu berdaptasi dengan kadar garam tinggi.

Sedangkan hutan bakau mengacu pada sekelompok tanaman yang sebagian besar termasuk genus Rhizophora, misalnya Rhizophora apiculata dan masih banyak lagi. Jenis tanaman bakau merupakan salah satu pohon yang mampu hidup pada ekosistem hutan mangrove.

 

3. Hutan Mangrove di Indonesia

Ekosistem Hutan Mangrove

Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia dengan luas sekitar 3,2 juta ha yang merupakan 22,6% dari total hutan mangrove dunia. Namun dalam kurun waktu 2 sampai 3 dekade, 50% hutan mangrove di Indonesia telah hilang. Hutan tipe ini semula memiliki luas kurang lebih 6,7 juta ha kini hanya tersisa 3,2 juta ha.

Pulau Jawa dan Bali merupakan pulau dengan kerusakan paling besar pada tipe hutan ini yaitu sekitar 88%. Sebelumnya pulau ini memiliki kawasan hutan mangrove seluas 171.500 ha, namun saat ini hanya tersisa kurang lebih 19.577 ha.

Mangrove yang tumbuh di Indonesia yaitu jenis mangrove di atas tanah lumpur aluvial di daerah pantai atau muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Jenis-jenis mangrove yang tumbuh di Indonesia meliputi Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Brugeria, Ceriops, Lumnitzera, Excoecaria, Xylocarpus, Aegiceras, Scyphyphora, dan Nypa.

 

4. Fungsi

Sistem Perakaran Pohon di Hutan Bakau

Hutan mangrove memiliki fungsi ekologis yang berperan sangat penting bagi manusia. Sudah sejak lama hutan tipe ini menjadi tumpuan hidup bagi masyarakat yang hidup di wilayah pesisir. Keindahan dan keunikan tipe hutan ini juga dapat dikembangkan dan berpotensi untuk menjadi kawasan wisata alam yang akan meningkatkan perekonomian masyarakat lokal.

Selain itu, tipe hutan ini juga memiliki peranan penting bagi makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. Hutan ini dapat berfungsi sebagai tempat berkembang biak, tempat berlindung, tempat bersarang, dan tempat mencari makan bagi satwa liar.

Berikut ini beberapa fungsi hutan mangrove secara garis besar:

4.1 Menahan Abrasi

Hutan mangrove berperan sebagai pembatas daratan dan lautan yang keberadaanya dapat menghambat gelombang maupun angin yang datang dari arah laut sehingga tidak langsung membentur daratan (tidak berdampak pada abrasi yang parah).

Keberadaan tipe hutan ini di wilayah pesisir membuat wilayah pesisir tidak pernah mengalami abrasi yang parah. Tipe hutan ini mampu melindungi pemukiman, pertanian, dan fasilitas lain yang terdapat di belakangnya.

4.2 Membentuk Lahan Baru

Mangrove mampu memerangkap sedimen lumpur yang di bawa dari arah daratan. Akar-akarnya mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur sehingga menimbulkan konsilidasi sedimen di kawasan hutan. Sedimen yang memerangkap dihubungkan dengan kemampuan tipe hutan ini yang dapat menciptakan daratan atau lahan baru.

4.3 Mencegah Intrusi Air Laut

Salah satu kemampuan hutan ini adalah mempunyai tingkat salinitas tinggi terhadap air laut. Hal ini disebabkan oleh kelenjar khusus pada daun yang dapat mengeluarkan garam. Bagian hutan terluar atau paling dekat dengan lautan pada umumnya memiliki kemampuan beradaptasi dengan salinitas tinggi untuk mencegah intrusi air laut.

4.5 Penyedia Makanan dan Mineral

Hutan mangrove merupakan salah satu tempat berkembang biak hewan aquatik seperti ikan, udang, kepiting, dan lain sebagainya. Tersedianya makanan dan mineral yang cukup membuat hewan-hewan aquatik sangat melimpah di daerah ini sehingga dapat dimanfaatan masyarakat sebagai bahan pangan maupun bahan dagang.

Selain itu, hutan ini berperan dalam industri kayu karena menghasilkan kayu yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan. Selain kayu, tipe hutan ini juga menghasilkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa tanin yang dapat dimanfaatkan sebagai perekat kayu, penyamak, dan lain sebagainya.

4.6 Sumber Keanekaragaman Hayati

Hutan mangrove juga berperan sebagai penghasil plasma nutfah dan keanekaragaman hayati. Berbagai  jenis satwa juga hidup di sekitar hutan mulai dari satwa yang masih melimpah jumlahnya hingga satwa yang mulai langka.

 

5. Flora dan Fauna di Hutan Mangrove

Berbagai jenis flora dan fauna yang dihidup di hutan mangrove antara lain:

5.1 Flora

Indonesia memang dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragamann flora yang tinggi temasuk di hutan mangrove. Tidak hanya pohon mangrove dan bakau saja melainkan masih banyak jenis lain yang mampu beradaptasi di ekosistem hutan ini.

Jenis tanaman yang mampu beradaptasi di hutan mangrove antara lain Ketapang (Terminalia catappa), Nyamplung (Calophyllum inophyllum), Akasia (Acacia mangium), Nipah (Nypa fruticans), dan Lamtoro (Leucaena leucocephala).

5.2 Fauna

Hutan sebagai rumah bagi fauna yang hidup di alam liar, tetapi tidak semua jenis hutan dapat disinggahi oleh semua jenis fauna. Terdapat beberapa jenis binatang tertentu yang mampu beradaptasi dengan ekosistem tipe hutan ini di antaranya kepiting laga, kepiting oranye, kepiting ungu pemanjat, kepiting semapor, kelomang darat, kelomang mangrove, udang pistol, dan ikan glodok.

Baca juga:  Prasetyo: Internalisasi untuk Bekal Membangun Kehutanan Indonesia yang Lebih Baik

Selain jenis fauna di atas, masih ada jenis binatang lainnya yang mampu beradaptasi di tipe hutan ini, misalnya jenis-jenis burung air dan burung darat.

 

6. Suksesi

Semai di Hutan Mangrove

Suksesi ekologi merupakan proses perubahan komponen spesies atau komunitas selama beberapa selang waktu tertentu dengan terbentuknya formasi baru suatu habitat karena habitat sebelumnya mengalami perubahan komponen atau gangguan yang disebabkan oleh kebakaran hutan, badai, maupun penebangan hutan secara besar-besaran. Proses terbentuknya formasi baru pada umumnya dimulai dari tingkatan yang terkecil hingga tingkatan yang lebih kompleks.

Banyak metode yang dapat dilakukan untuk pemulihan hutan yang mengalami suksesi, misalnya suksesi sekunder, restorasi, rehabilitasi, dan pergantian ekosistem yang terdegradasi oleh ekosistem yang lebih produktif.

Pemulihan kerusakan hutan mangrove secara cepat dapat dilakukan dengan cara restorasi. Restorasi merupakan pengembalian hutan atau komunitas, komponen alami, spesies, atau fungsi alami aslinya. Tujuan konsep restorasi untuk pemulihan struktur, fungsi, keanekaragaman, dan dinamika suatu ekosistem yang dituju. Restorasi suatu ekosistem melalui proses suksesi agar terbentuk ekosistem yang lebih produktif.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk restorasi hutan yang tersuksesi di antaranya:

  1. Mengetahui penyebab kerusakan dengan mencari data dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai sejarah kerusakan lahan hutan serta latar belakang sosial kultur ekonomi yang ada.
  2. Membuat susunan database mengenai keanekaragaman hayati di lokasi tersebut.
  3. Mengidentifikasi aspek ekologi kawasan untuk mendapatkan data mengenai komposisi dan struktur serta persebaran vegetasi sebelumnya dengan plot sampling.
  4. Menyeleksi spesies endemik dengan kunci identifikasi.
  5. Mengidentifikasi penanaman.
  6. Melakukan pendekatan secara regenerasi.
  7. Menyeleksi spesies dengan koleksi biji-bijian.
  8. Penanaman.
  9. Pemeliharaan.
  10. Pemantauan.

 

7. Wisata di Hutan Mangrove

Senja di Hutan Mangrove

Indonesia memiliki banyak hutan mangrove yang terbentuk secara alami. Kawasan hutan ini juga dapat berfungsi sebagai potensi destinasi wisata alam dan sarana edukasi. Di beberapa lokasi, hutan tipe ini dijadikan sebagai destinasi wisata alam di antaranya:

7.1 Hutan Mangrove Muara Angke

Destinasi wisata yang satu ini bertempat di Jakarta atau berada pada bagian utara Pulau Jawa. Meskipun di sepanjang garis pantai Jakarta hutan mangrove dapat tumbuh, tidak semua hutan ini dapat dikunjungi sebagai tempat destinasi wisata.

Salah satu hutan mangrove yang dapat dikunjungi sebagai wisata yaitu Hutan Mangrove Muara Angke. Wisata ini  juga merupakan habitat bagi satwa endemik yaitu monyet. Monyet ini secara tidak disadari membantu penyebaran bibit bakau secara alami.

7.2 Hutan Mangrove Rembang

Destinasi wisata ini berada di Provinsi Jawa Tengah. Lokasi wisata ini sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun asing untuk sekedar bersantai atau menghabiskan waktu liburan dengan menikmati pemandangan. Lokasinya yang mudah dijangkau dari pusat kota menjadi nilai tambah bagi Hutan Mangrove Rembang untuk menarik para wisatwan.

7.3 Hutan Mangrove Tapak Tugurejo

Keindahan yang dimiliki destinasi wisata yang terletak di Kota Semarang, Jawa Tengah ini membuat para wisatawan berdatangan untuk mengunjunginya. Destinasi wisata alam ini menjadi salah satu destinasi wisata favorit yang berada di pesisir utara Semarang.

7.4 Hutan Mangrove Tarakan

Destinasi wisata yang satu ini memiliki areal yang cukup luas yaitu mencapai 21 ha dan terdapat berbagai jenis tanaman bakau. Tempat wisata ini berada di Tarakan, Kalimantan Timur. Selain menjadi paru-paru kota Tarakan, destinasi wisata ini dapat digunakan sebagai penelitian untuk pengamatan ekosistem tanaman mangrove.

7.5 Hutan Mangrove Margomulyo

Destinasi wisata alam yang satu ini terletak di Balikpapan, Kalimantan Timur. Hutan ini termasuk hutan konservasi, oleh karena itu keberadaannya dilindungi oleh pemerintah. Walaupun digunakan sebagai hutan konservasi, hutan ini dapat dikunjungi para wisatawan. Satwa endemik yang terdapat di hutan ini adalah kepiting laut.

7.6 Hutan Mangrove Wanasari

Destnasi wisata ini berlokasi di Pulau Bali. Di tempat wisata ini terdapat pusat informasi mangrove sehingga sering digunakan penelitian untuk menggali informasi tentang mangrove. Hutan ini memiliki keanekaragaman hayati yang cukup banyak dan terdapat berbagai satwa seperti burung. Jika kita ingin melihat seluruh bagian hutan, kamu bisa mendatangi menara pengawas dan menggunakan teropong di atas menara pengawas.

Keberadaan ekosistem hutan mangrove di Indonesia memiliki peranan sangat penting bagi flora dan fauna di sekitar pesisir pantai. Ekosistem mangrove menjadi tempat berkembang biak berbagai satwa. Selain itu, keberadaan tipe hutan ini sangat penting bagi mitigasi perubahan iklim karena mangrove mampu menyerap CO2.

Oleh karena itu, hutan mangrove perlu dijaga keberadaannya mulai saat ini. Jika terjadi kerusakan pada tipe hutan ini, maka akan sangat berdampak bagi seluruh kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Dampak yang akan terjadi seperti meningkatnya perubahan iklim, abrasi, intruksi air laut ke daratan, pencemaran air laut, dan terancamnya kehidupan berbagai makhluk hidup yang tinggal di dalamnya.

Referensi:

Eddy, S., Mulyana, A., dkk. 2015. Dampak Aktivitas Antropogenik terhadap Degradasi Hutan Mangrove di Indonesia. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan. 1(3): 240-254.

Cecep, R. 2018. Jurnal Bumi [Internet] [diakses pada 2018 Juli 25]. Terdapat pada: https://jurnalbumi.com.

Wisata Hutan Mangrove di Indonesia. 2017. [Internet] [diakses pada 2018 Juli 25]. Terdapat pada: https://tempatwisataunik.com.

Yulia, FM. 2012. Suksesi Hutan Mangrove [Internet] [diakses pada 2018 Juli 25]. Terdapat pada: https://yuliafitrimuchtarblog.wordpress.com/.

Ilmu Geografi. 2018. Flora dan Fauna Hutan Mangrove [Internet] [diakses pada 2018 Juli 25]. Terdapat pada: https://ilmugeografi.com.

 

Editor: Mega Dinda Larasati

Hutan Mangrove, Pembatas Daratan dan Lautan
Rating: 5 from 11 votes