Hutan Hujan Tropis: Pengertian, Ciri, Sebaran, Manfaat, dan Keadaannya

Diposting pada

5.2 Wilayah Tengah

Wilayah tengah disebut juga sebagai wilayah peralihan yang meliputi Sulawesi, Nusa Tengara, dan Maluku. Hutan hujan tropis pada kawasan ini memiliki bentuk biodiversitas dengan perpaduan antara wilayah barat dan timur.

Flora dan fauna di wilayah tengah ini memiliki ciri unik atau biasa disebut sebagai spesies endemik. Salah satu contoh fauna endemik di Sulawesi adalah anoa (Bubalus quarlesi). Hewan ini menurut IUCN masuk dalam kategori red list hewan yang terancam punah. Populasinya hanya mencapai 2500 di alam. Menurut CITES Anoa masuk ke dalam daftar apendiks I yang status konservasinya masih dalam pengawasan penuh.

Jenis hutan yang ada di wilayah tengah merupakan hutan musim, memiliki curah hujan relatif rendah, dan didominasi oleh tumbuhan palma, cemara dan pinus. Tak banyak dilirik, pohon torem (Manilkara kanosiensis) termasuk flora endemik kawasan ini khususnya daerah Maluku. Tumbuhan ini menurut IUCN termasuk dalam kategori Red list Endangered A1. Namun dari data IUCN belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai jumlah populasinya di alam secara pasti.

Pada tahun 2017 yang lalu, di Saumaluki para anggota TNI AD berhasil mengembangbiakan bibit torem. Hal tersebut menunjukkan bentuk kontribusi masyarakat dalam pelestarian flora. Kayu pohon torem sangat berkualitas tingi. Keunggulan kayunya tidak mudah terserang rayap, kuat, dan mempunyai corak dekoratif yang unik.

5.3 Wilayah Timur

Wilayah persebaran hujan tropis yang terakhir adalah wilayah timur. Wilayah ini meliputi kawasan Maluku hingga Papua. Tipe biodiversitas wilayah ini sering disebut sebagai tipe australis karena letaknya berbatasan dengan Australia. Karakteristik dari satwa wilayah timur adalah berukuran kecil, ditemukan hewan berkantung dan memiliki sayap yang indah. Satwa yang termasuk dalam wilayah ini banyak dari jenis burung.

Salah satu burung yang menjadi primadona di tanah Papua adalah burung cenderawasih. Burung ini memiliki keunikan tersendiri yang ada pada bulunya yang indah. Tak salah jika burung ini dijadikan maskot Papua.

Konon bulu indahnya dijadikan bahan hiasan yang sering digunakan dalam bidang fashion. Permintaan pasar yang naik, membuat burung ini banyak diburu orang, hingga spesiesnya sampai saat ini terus menurun.

Flora yang ada di wilayah ini antara lain sagu, cokelat, jambu mete, cengkeh, kayu manis, dan wijen. Umumnya, masyarakat timur memanfaatkan tanaman tersebut untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sehari-hari.

6. Keadaan Hutan Hujan Tropis Saat Ini

Ilustrasi Hilangnya Pepohonan Akibat Deforestasi
Ilustrasi Hilangnya Pepohonan Akibat Deforestasi

Keberadaan hutan hujan tropis hingga saat ini semakin terancam. Pembalakan liar, perubahan tata fungsi hutan, dan pemanfaatan yang tak bertanggung jawab membuat kerusakan hutan hujan tropis saat ini kian meningkat. Bahkan lebih miris lagi ketika kita melihat penampakan bentang luas hutan yang telah gundul karena deforestasi. Keadaan tersebut membuat Indonesia menjadi sorotan dunia internasional karena dianggap negara penyumbang kerusakan hutan di tiap tahunnya.

Menurut data World Resources Institut, disebutkan bahwa laju deforestasi meningkat dalam 10 tahun terakhir. Laju deforestasi hutan primer di Indonesia mencapai 3400 km2 pada tahun 2018. Angka tersebut naik dibandingkan tahun sebelumnya.

Keadaan hutan hujan tropis yang semakin terancam tak hanya di Indonesia saja. Namun juga negara-negara lain, seperti halnya negara yang ada kawasan Asia Tenggara. Salah satu contohnya adalah Malaysia yang menuyumbang tingkat kerusakan hutan yang tinggi di tahun 2018.

Hampir sepertiga kerusakan hutan hujan tropis terjadi menyebar di berbagai negara. Seperempat dari tutpan hutan tropis yang rusak pada tahun 2018 terjadi di Brazil dengan tingkat kehancuran 13.500 km2.

Kemudian ada Republik Demokratik Kongo yang menyumbang kerusakan sebesar 4.800 km2.

Disusul oleh Kolombia sebesar 1.800 km2 dan Bolivia sebesar 1.500 km2.

Akibat dari itu semua, keseimbangan alam menjadi terganggu, satwa kehilangan habitatnya, serta menurunya fungsi hutan.

Berdsarkan uraian di atas, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sebaran hutan tropis dengan biodiversitas tinggi. Tingkat adapatasi, kemampuan hidup, ketersediaan sumber pakan, dan ekosistem hutan hujan tropis mendukung berbagai flora dan fauna yang ada.

Fauna turut andil dalam kesinambungan siklus ekosistem yang kompleks dalam hutan hujan tropis. Tanpa adanya fauna tersebut hutan seakan tidak hidup bukan? Begitu halnya flora yang seakan tumbuh dengan cantiknya semerbak menghiasi atmosfer hutan. Membawa banyak manfaat bagi sekitarnya.

Sebagai negara yang mempunyai hutan terluas ketiga di dunia, kita seharusnya bangga dan turut serta ambil bagian untuk melestarikan alam. Namun dengan luasnya hutan kita, masalah yang timbul justru semakin besar. Antara ego untuk kepuasan manusia dan ekonomi yang harus dicukupi, rela merusak biodiversitas tersebut tanpa adanya rasa peduli.

Kita sebagai makhluk yang memiliki akal seharusnya sadarakan hal tersebut. Hutan dan alam haruslah dijaga karena mereka adalah jiwa di setiap makhluk hidup yang akan membawa kehidupan di dalamnya.

Semuanya akan menjadi lebih indah bila mereka semua tetap ada bukan? Memanfaatkan sumber daya hutan secara lebih berhati-hati dan bertanggung jawab atas segala kerusakan yang diakibatkannya merupakan suatu pilihan yang tepat dalam pengusahaan hutan lestari. Hutan yang ada saat ini bukan hanya milik kita, namun juga milik generasi mendatang.