Harapan dari Ujung Kaledupa

Diposting pada
Penayangan Film Edukatif di SMP Desa Pajam
Penayangan Film Edukatif di SMP Desa Pajam
Penggunaan Alat Peraga bersama Anak SD Desa Pajam
Penggunaan Alat Peraga bersama Anak SD Desa Pajam

Desa Pajam yang merupakan wilayah dengan warisan budaya tenun terbesar se-Kaledupa saat ini sudah memiliki Pusat Kerajinan Tenun yang dibangun oleh pemerintah setempat sebagai upaya pelestarian kain tenun khas Pajam, karena seiring berkembangnya zaman para penenun di desa Pajam semakin berkurang. Dari sinilah kami melihat bahwa diperlukan upaya untuk mengenalkan budaya tenun-menenun dari Pajam kepada masyarakat yang lebih luas, sehingga kami merancang sebuah acara yang bertajuk “Festival Tenun Pajam”. Kami mengundang berbagai pihak mulai dari masyarakat hingga pemerintah daerah untuk turut hadir dan berpartisipasi. Hasilnya tidak mengecewakan, bahkan acara yang kami mulai di waktu siang hari, baru bisa benar-benar berakhir di malam hari karena tingginya antusias dari masyarakat. Harapan kami, melalui acara-acara seperti ini masyarakat mampu menyadari pentingnya upaya pelestarian budaya tenun yang secara turun-temurun diwariskan oleh orang-orang Pajam terdahulu.

Budaya Tenun Khas Pajam
Budaya Tenun Khas Pajam

Tidak hanya dari masyarakat,  dari acara ini kami berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian yang lebih dan membuka peluang bagi para investor untuk membangun dan mengenalkan budaya tenun khas Pajam. Sebagai sebuah daerah yang termasuk kedalam wilayah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal), tentunya hal ini akan menjadi sebuah tantangan yang besar. Namun, hal tersebut bukan tidak mungkin untuk dilakukan.

KORINDO menjadi salah satu contoh sukses dalam membangun jaringan investasi di daerah 3T yang minim fasilitas seperti Boven Digoel dan Merauke, Papua. Melalui tajuk “Bangun perbatasan jadi terasnya Indonesia”, KORINDO hadir membawa harapan bagi pembangunan Desa Pajam ke depan. KORINDO mampu memberikan pemahaman bahwa wilayah perbatasan dan seluruh wilayah 3T adalah sebuah teras atau beranda bagi kita untuk menyambut tamu yang entah datang dari negeri seberang ataupun dari negeri sendiri. Ia dipandang bukan lagi menjadi sebuah dapur yang secara terus menerus dimasak sumberdayanya untuk kemudian disajikan kepada para pelaku usaha di ibu kota, melainkan disajikan untuk masyarakat asli di sekitarnya.

Desa Pajam yang terletak jauh di pelosok Sulawesi memang menyimpan berbagai potensi besar yang belum dikelola dengan baik.  Pengabdian yang kami laksanakan selama hampir 2 bulan merupakan salah satu upaya kecil dalam membangun Pajam, dan akan menjadi kenangan yang akan terus menjadi semangat kami menuju pengabdian selanjutnya. Berbagai tantangan yang kami dapati, mulai dari kekurangan air, kesusahan memasak nasi karena kompor yang tersedia hanya kompor minyak, program yang tidak terlaksana secara optimal karena tidak hadirnya masyarakat dan banyak lainnya merupakan tembok yang secara perlahan harus kami panjat untuk menuju pintu yang nantinya akan mengantarkan kami dan masyarakat Pajam berkembang menjadi lebih baik lagi.

Dari Pajam kami belajar, bahwa memberikan perubahan untuk Indonesia yang lebih baik dapat dilakukan melalui langkah kecil. Kita yang lahir dari lingkungan nyaman dengan berbagai fasilitas yang ada tentunya tidak perlu dipersulit oleh padamnya listrik ketika ingin belajar, jauhnya jarak sekolah yang harus kita tempuh, dan minimnya fasilitas yang kita miliki. Oleh karena itulah, kita harus bisa berbuat untuk Indonesia sekecil apapun dan bagaimanapun itu, entah melalui tulisan, entah melalui pengabdian, atau melalui hal-hal lain yang dapat menjadi celah kita dalam membangun pondasi bagi kemajuan Indonesia di masa depan.