Elang Jawa, Sang Penguasa Langit Jawa

Diposting pada

3. Cara Hidup dan Reproduksi

Elang Jawa biasanya berburu untuk mendapatkan mangsanya dengan memanfaatkan pengelihatan tajam dan kepekaan tinggi yang dapat mempermudah satwa ini dalam mencari mangsanya. Satwa ini biasanya bertengger di pohon – pohon tinggi untuk mengintai mangsanya.  Ia dapat memangsa dengan cepat bahkan sebelum mangsanya sempat melarikan diri.

Seperti dijelaskan di atas bahwa satwa ini termasuk ke dalam kelompok karnivora yaitu pemakan daging, maka mangsanya terdiri dari beberapa jenis reptil, burung, tupai sampai ayam kampung. Elang ini memiliki cengkraman yang kuat sehingga ia mampu mengambil dan mencabik mangsanya dengan kedua kakinya.

Musim kawin Elang Jawa sepanjang tahun dengan periode Februari hingga Mei dengan rata – rata selang kawin dua tahun sekali. Satwa ini termasuk burung yang melakukan monogami yaitu setia pada pasangan hingga salah satu pasangannya mati.

Umumnya satwa ini bereproduksi dengan cara bertelur dengan setiap periodenya antara bulan Januari hingga Juni hanya dapat memproduksi 2 jumlah telur. Uniknya jika telur menetas adalah anak betina maka saudaranya akan membunuh saudara yang lebih muda dan induknya pun membiarkan hal ini terjadi. Biasanya ukuran bayi betina lebih kecil daripada ukuran bayi jantan.

Induk membuat sarang dari daun dan ranting yang disusun tinggi untuk meletakkan telurnya. Sarang tersebut berada pada ketinggian 20 – 30 meter di atas permukaan tanah.

Penetasan telur yang dihasilkan dari induk diinkubasi selama kurang lebih 47 hari. Anak elang akan tetap tinggal di sarang setelah menetas. Induk elang akan bekerjasama merawat dan menjaga anaknya secara bergilir.

Ketika anak elang mencapai umur 10 minggu, anakan elang sudah memiliki bulu yang lengkap dan kemampuan untuk terbang. Ia akan meninggalkan sarangnya ketika berumur 100 hari namun akan kembali ke sarangnya.

4. Tingkat Kepunahan Elang Jawa

Populasi Elang Jawa saat ini hanya tertinggal antara 300 sampai 500 ekor. Keberadaan burung pemangsa sangat penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem karena posisinya sebagai pemangsa puncak atau urutan teratas dalam rantai dan piramida makanan.

Jika urutan teratas dalam rantai makanan terganggu, akan terganggu pula rantai makanan tersebut secara langsung maupun tidak langsung.

Elang Jawa Sudah Terancam Punah (pinterest.com)
Elang Jawa Sudah Terancam Punah (pinterest.com)

Satwa jenis ini termasuk ke dalam prioritas konservasi yang tertera dalam Permenhut No 57 Tahun 2008 dan Keputusan Dirjen PHKA No 132 Tahun 2011 dan No 109 Tahun 2012 yang mengatakan bahwa satwa ini masuk ke dalam 14 spesies prioritas utama.

Kategori kelangkaan spesies Elang Jawa ini masuk ke dalam daftar satwa endangered situs IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) redlist 2015. Namun, berdasarkan CITES (Conservation on International Trade in Endangered) masih termasuk ke dalam Apendix I. Hal ini disebabkan oleh hutan rusak yang merupakan habitat asli dan adanya perburuan telur yang kemudian diperdagangkan liar.

Ada beberapa organisasi yang concern atau peduli terhadap Elang Jawa yaitu RAIN (Raptor Indonesia) yaitu sebuah jaringan riset dan konservasi burung pemangsa elang di Indonesia yang sebelumnya bernama Kelompok Kerja Pelestari Elang Jawa (KPPEJ), Raptor Conservation Society yaitu pengembangan masyarakat untuk perlindungan Elang Jawa dan Elang lainnya di Jawa Barat, dan Suaka Elang yaitu tempat rehabilitasi , release dan sanctuary sebagai bentuk public awareness masyarakat sekitar.