Curah Hujan: Pengertian, Klasifikasi, Pengukuran, dan Alat Ukur

Diposting pada

4. Penghitungan Curah Hujan yang Hilang

Seringkali data hujan tidak lengkap di suatu stasiun penakar hujan, oleh sebab itu diperlukan cara-cara untuk membangun data agar data yang ada lengkap dan bisa digunakan.

Perhitungan curah hujan yang hilang dapat dilakukan dengan Metode Normal Ratio dan Inversed Square Distance.

Metode Normal Ratio adalah salah satu metode yang digunakan untuk mencari data hujan yang hilang. Metode perhitungan yang digunakan cukup sederhana yakni dengan memperhitungkan besarnya hujan di stasiun hujan yang berdekatan untuk mencari data curah hujan yang hilang di stasiun tersebut. Variabel yang diperhitungkan pada metode ini adalah daily rainfall (CH Harian) di stasiun lain dan jumlah curah hujan satu tahun pada stasiun lain tersebut.

Adapun Metode Inversed Square Distance adalah salah satu metode yang digunakan untuk mencari data yang hilang. Metode perhitungan yang digunakan hampir sama dengan Metode Normal Ratio, yakni memperhitungkan stasiun yang berdekatan untuk mencari data curah hujan yang hilang di stasiun tersebut. Jika pada Metode Normal Ratio yang digunakan adalah jumlah curah hujan dalam 1 tahun, pada metode ini variabel yang digunakan adalah jarak stasiun terdekat dengan stasiun yang akan dicari data CH yang hilang.

Metode normal ratio termasuk metode yang menghasilkan data yang teliti, namun terdapat syarat yang harus dipenuhi ketika menggunakan metode ini, yaitu apabila hujan tahunan normalnya pada masing-masing stasiun pembanding lebih besar dari 10% terhadap stasiun yang hilang datanya (Ashruri 2015).

5. Proses Terjadinya Hujan

Proses pembentukan hujan ini termasuk ke dalam siklus hidrologi di mana air sebagai material utama yang mengalami siklus. Sedangkan suhu, cahaya matahari, dan angin merupakan unsur yang berpengaruh dalam proses pembentukan hujan. Hujan terjadi melalui proses yang tidak sederhana. Berikut merupakan sekilas mengenai proses pembentukan hujan.

5.1 Proses Penguapan (Evapotranspirasi)

Matahari merupakan sumber energi terbesar yang menyinari bumi secara terus menerus. Efek dari energi matahari yang besar tersebut menjadi awal mula terjadinya hujan di permukaan bumi. Panas yang ditimbulkan dari pancaran matahari menyebabkan semua benda yang mengandung air, kandungan airnya menguap ke udara.

Penguapan bisa terjadi dari badan air (laut, danau, sungai dan lainnya), daratan, serta makhluk hidup seperti tumbuhan maupun hewan. Proses perubahan wujud dari zat cair menjadi gas disebut dengan proses penguapan.

5.2 Pembentukan Awan

Uap air yang tercipta dari proses penguapan akan terus naik ke atmosfer hingga ketinggian tertentu dan mengalami kondensasi. Kondensasi merupakan perubahan wujud dari uap menjadi cair.

Udara yang berkondensasi akan membentuk butiran air dalam ukuran tertentu. Peristiwa kondensasi ini terjadi ketika suhu di sekitar uap air lebih rendah dari pada titik embun uap air. Suhu yang rendah menyebabkan uap air berubah menjadi embun. Embun terbentuk karena udara menjadi dingin dan udara sudah tidak dapat menampung semua uap air yang ada, maka uap air tersebut akan berubah manjadi embun.