Burung Rangkong, Burung Suci Suku Dayak

Diposting pada
Paruh Khas Rangkong (instagram.com)
Paruh Khas Rangkong (instagram.com)

Selain pemakan buah-buahan, burung ini juga termasuk pemakan serangga. Serangga yang biasanya menjadi makanan burung ini adalah semut, belalang, ulat, kroto, jangkrik, larva kumbang, laba-laba, kumbang, dan masih banyak lagi.

Ketika di alam sulit ditemukan buah-buahan maka burung langka ini akan mencari serangga sebagai pengganti buah-buahan tersebut. Apalagi ketika burung ini sudah masuk ke fase perkembangbiakan, satwa ini akan lebih sering lagi mencari serangga untuk makanannya.

5. Habitat dan Wilayah Jelajah

Habitat Burung Rangkong umumnya di hutan dataran rendah dengan ketinggian 0-1000 mdpl. Hutan tropis pun banyak ditemukan burung langka ini. Daerah jelajah burung ini dapat mencapai 100 km2, hal tersebut artinya Burung Rangkong dapat menebar biji seluas 100 km2.

Keadaan hutan sangat mempengaruhi populasi dari burung langka ini di alam liar. Saat kondisi hutan masih bagus dan belum mengalami deforestasi hutan, di situ pasti masih banyak ditemukan Burung Rangkong. Hal ini karena burung ini yang hidup di virgin forest pasti masih sangat bebas untuk mencari makan maupun mencari sarang untuk tempat mengarami telur.

Ketika kondisi hutan sudah rusak, hal tersebut dapat menyebabkan penurunan populasi Burung Rangkong karena burung ini memang secara alami bersarang di lubang pohon. Apalagi saat jumlah pohon berdiameter besar sudah berkurang. Hal tersebut akan menyulitkan Burung Rangkong dalam mencari sarang.

6. Sebaran

Sebaran Burung Rangkong mulai dari Afrika, Asia, Indonesia, dan Papua Nugini. Di Indonesia sendiri Burung Rangkong banyak ditemukan di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Papua, dan Sumba. Burung ini paling banyak ditemukan di Pulau Sumatera yaitu ditemukan sekitar 9 jenis Rangkong.

7. Perilaku

Perilaku satwa ini yang merupakan keunikan burung ini adalah bersarang di dalam lubang pohon. Burung Rangkong betina yang mengerami telur akan bersarang di lubang pohon dan ditutupi dengan lumpur, tanah ataupun sisa makanan untuk melindungi dari pemangsa.

Suara dari burung ini pun sangat besar dan unik seperti mengatakan “Calling”.

8. Perkembangbiakan

Burung Rangkong bersarang di lubang pohon yang tinggi yang dibuat oleh burung jantan. Sang jantan biasanya memilih pohon dengan diameter yang besar lebih dari 45 cm pada ketinggian 20-50 m di atas permukaan tanah. Selama betina bertelur, sang jantan akan memberi makan betina melalui lubang kecil.

Pemberian makan tersebut berlangsung sampai anak-anak tersebut tumbuh dewasa dan sudah siap dilepaskan. Anak-anak burung yang sudah besar bahkan membantu Sang Ayah dalam mencari makan. Burung betina akan menggugurkan bulunya untuk menghangatkan telur yang dieraminya.

Masa pengeraman telur burung ini bervariasi antara 25 hari sampai 150 hari. Masa pengeraman tersebut berbeda-beda tergantung dengan spesies, wilayah, dan ukuran dari spesies tersebut. Semakin besar ukuran Burung Rangkong maka semakin lama pula masa pengeramannya.

Rangkong Julang Emas memiliki waktu pengeraman 40 hari, Rangkong Badak mengerami sekitar 37-46 hari dan yang paling lama adalah Rangkong Gading selama 150 hari.

Menurut Poonswad (1993) terdapat lima tahapan bersarang Burung Rangkong, yaitu :

  • Pre-nesting: proses perkawinan dan proses menemukan sarang untuk mengerami telur.
  • Pre-laying: proses peletakan telur pertama dan betina mulai mengurung diri.
  • Egg incubation: masa pengeraman telur yang memakan waktu hingga 4-6 minggu.
  • Nesting: masa betina keluar dari sarang untuk mencari makan.
  • Fledging: masa di mana anakan siap keluar dari sarang dan masa pemecahan sarang yang telah dibuat.

9. Status Kelangkaan

Status kelangkaan dari Burung Rangkong yang terdapat di Indonesia adalah sudah mulai terancam punah dan populasi di alam liar sudah berkurang. Populasi Burung Rangkong sangat berkurang dengan cepat beberapa tahun belakangan ini.

Menurut Red list IUCN, Burung Rangkong Gading termasuk ke dalam kategori kelangkaan spesies Critically Endangered (CR) artinya terancam punah. Jenis lainnya ada yang termasuk ke dalam Vulnerable (VU), Near Threatened (NT), dan ada yang termasuk ke dalam status Least Concerned (LC).

Penyebab kelangkaan burung ini  yaitu tinggi nya perburuan oleh masyarakat, perdagangan serta kondisi hutan yang semakin memburuk. Burung ini banyak diburu karena keunikan yang dimilikinya sehingga banyak orang tertarik. Keunikan paruh burung ini itulah yang menyebabkan para kolektor ingin mengoleksinya, sehingga perdagangan satwa liar secara illegal pun meningkat.

Gambar Gravatar
Mahasiswi Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB angkatan 53, a travel enthusiast.