Bunga Bangkai: Taksonomi, Habitat, dan Sebaran

Diposting pada

6. Habitat dan Sebaran

Bunga Bangkai (Amorphophallus titanum) merupakan tanaman asli yang berasal dari hutan hujan khatulistiwa di Sumatera terutama tersebar di daerah Bengkulu dan Lampung.

Sebagai tumbuhan endemik Pulau Sumatera, maka keberadaan tumbuhan ini sangatlah dicari-cari.

Walaupun termasuk dalam kategori tumbuhan endemik, Bunga Bangkai jenis Amorphophallus titanum masih dapat dibudidayakan di luar Pulau Sumatera dengan kondisi yang tentunya harus sesuai juga untuk pertumbuhannya.

Tanah berkapur merupakan habitat alami penyebaran Bunga Bangkai dan secara alami Bunga Bangkai tumbuh sebagai tumbuhan bawah kanopi.

Bunga Bangkai dapat tumbuh di daerah beriklim tropis dan sub tropis karena merupakan tumbuhan khas dataran rendah.

Tanah yang lembab serta tempat yang terbuka juga disukai oleh Bunga Bangkai.

Bunga Bangkai ini juga ditemukan tumbuh di kawasan Afrika barat sampai ke Kepulauan Pasifik.

Bunga Bangkai biasa tumbuh pada daerah dengan ketinggian 120-135 mdpl.

Selain itu Bunga Bangkai juga dapat tumbuh di hutan sekunder, ladang-ladang penduduk, pinggir sungai atau di tepi-tepi hutan.

Saat ini habitat alami dari Bunga Bangkai sendiri terus mengalami penurunan sehingga populasi dari Bunga Bangkai sendiri kian berkurang.

Kelestarian dari Bunga Bangkai dapat dijaga dengan salah satunya pembentukan populasi pemuliaan yaitu habitat yang mirip dengan ekositem asli.

Saat ini lokasi yang berhasil digunakan sebagai habitat dari Bunga Bangkai sendiri yaitu yang terletak di ketinggian 1500 kaki dan merupakan lereng barat daya dengan surah hujan sekitar 100 inci per tahun.

7. Perkembangbiakan

Amorphophallus titanum merupakan tanaman yang mempunyai 2 fase kehidupan, yaitu fase generatif dan fase vegetatif.

Kedua fase tersebut juga mempengaruhi perkembangbiakan pada tanaman tersebut.

Fase vegetatif adalah fase di mana tumbuh batang tunggal dan daun di atas umbi yang sekilas mirip dengan pohon pepaya.

Waktu yang dibutuhkan dalam fase vegetatif hingga mekarnya bunga sekitar 2-3 tahun.

Biji Amorphophallus titanum (instagram.com)
Biji Amorphophallus titanum (instagram.com)

Ketika terjadi pembuahan saat fase vegetatif maka buah berwarna merah dengan biji akan terbentuk pada bagian bekas pangkal bunga.

Burung Rangkong memakan biji tersebut hingga tercerna dalam pencernaan burung rangkong tersebut.

Ketika Burung Rangkong membuang kotoran, biji tersebut akan ikut terbuang dalam feses yang dikeluarkan dan bisa menjadi tumbuhan baru.

Fase generatif adalah fase di mana ratusan bunga pada tanaman Amorphophallus titanum mekar.

Bunga pada Amorphophallus titanum terbagi menjadi 3 bagian yaitu bunga appendiks, bunga jantan, dan bunga betina.

Bunga appendiks adalah bunga yang steril atau bunga yang tidak memiliki jenis kelamin letaknya berada di atas bunga jantan dan betina.

Bunga jantan terletak diantara bunga betina dan bunga appendiks.

Bunga majemuk tersebut tumbuh di atas tongkol dan dilindungi seludang.

Selain perkembangbiakan pada fase generatif dan fase vegetatif, para peneliti juga meneliti beberapa alternatif perkembangbiakan Bunga Bangkai.

Salah satu perkembangbiakan buatan adalah dengan melakukan stek.

BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) bekerja sama dengan The Royal Botanic Gardens Sydney, Australia pada tahun 2000 hingga tahun 2001 berhasil melakukan penelitian perbanyakan tumbuhan dengan stek dan memakai hormon pertumbuhan.

Penyerbukan buatan juga berhasil dilakukan oleh Kebun Raya Bogor untuk menghasilkan buah di luar habitat.

Secara alami, biji Bunga Bangkai membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk dapat berbunga, yakni berkisar antara 20 hingga 40 tahun.

Sangat tidak sebanding dengan lamanya bunga tersebut mekar yaitu hanya dalam hitungan beberapa hari.

Ini juga yang menjadikan Bunga Bangkai ini sangat menjadi primadona bagi para peneliti baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.