Beruang Madu (Helarctos malayanus): Taksonomi, Status Kelangkaan, Morfologi, dan Konservasi

Diposting pada

7. Perilaku

Beruang madu dikenal sebagai binatang yang aktif di malam hari atau yang biasa kita kenal sebagai binatang nocturnal.

Perilaku satwa jenis ini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memanjat pepohonan dan berada di tanah. Memanjat pepohonan dilakukan oleh mereka untuk mencari makanan.

Biasanya beruang madu berkoloni atau soliter, namun untuk betina yang sedang memiliki anak, biasanya mereka bersifat soliter.

Induk beruang akan tetap menjaga bayinya dari serangan hewan buas. Pada masa tersebut induk beruang dapat kehilangan banyak sekali bobot tubuhnya. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, binatang jenis ini tidak seperti beruang lain yang memiliki waktu hibernasi sangat lama. Hal tersebut disebabkan oleh tersedianya sumber makanan dalam jumlah banyak sepanjang tahun.

Perilaku lain yang lekat pada beruang madu yaitu mereka dapat berjalan hingga sejauh 8 km untuk mencari sumber makanan. Saat mereka menemukan makanan pada sebuah pohon hidup berdiri, perilaku mereka yakni menggali serta membongkar pohon tersebut. Perilaku ini memiliki peran penting dalam membantu mempercepat penguraian (daur ulang) bagi hutan, baik hutan hujan tropis, hutan primer, ataupun hutan sekunder.

Binatang jenis ini juga terkenal sangat pemalu, aktif di siang hari, penyendiri, serta pemanjat pohon yang handal.

Di alam liar, spesies ini tergolong sebagai satwa buas yang memiliki kebiasaan menyerang manusia secara mendadak tanpa peringatan. Sifat ini membuatnya sangat ditakuti oleh masyarakat yang tinggal dekat dengan hutan, bahkan lebih ditakuti dibandingkan dengan hewan buas lainnya seperti harimau.

8. Perkembangbiakan

Perkembangbiakan merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh berbagai macam binatang untuk mempertahankan keturunannya dan sebagai penyeimbang ekosistem.

Beruang madu pada umumnya tidak memiliki musim kawin yang khusus. Mereka akan melakukan perkembangbiakan sewaktu-waktu, terutama saat betina telah siap kawin (dibuahi).

Namun ada penelitian yang menyatakan bahwa beruang jenis ini memiliki musim kawin pada musim hujan. Pada musim kering dengan temperature yang tinggi akan mempengaruhi kualitas sperma dan konsentrasi testosterone rendah pada beruang madu jantan, sedangkan pada betina terjadi penurunan tingkat gonadotropin dan pertumbuhan follicular. Sehingga hal tersebut akan mengakibatkan tingginya presentasi sel telur yang abnormal dan kematian pada embrio.

Pada periode mengandung, binatang jenis ini akan menghabiskan waktu untuk mengandung berbeda dengan binatang jenis lain. Mereka akan mengandung bayi mereka kurang lebih 95-96 hari. Jumlah anak yang dilahirkan oleh beruang madu betina biasanya berjumlah dua ekor. Bayi beruang madu membutuhkan susu induknya selama 18 bulan sampai ia dapat mencari makan sendiri.

Berdasarkan berbagai penelitian, sebagian besar beruang madu terlihat hanya menggendong satu bayi dan sangat jarang terlihat menggendong dua bayi setelah masa kehamilannya.

Hal tersebut dapat dikatakan bahwa binatang jenis ini dapat menunda perkawinan serta kehamilannya agar bayi yang dilahirkan dalam keadaan baik dan memiliki berat badan cukup. Bayi beruang madu dapat mencari makanan sendiri serta hidup mandiri setelah berumur kurang lebih 2 tahun.

9. Faktor yang Mengancam

Perburuan terhadap binatang langka ini terus dilakukan. Sangat marak black market yang menjual satwa liar tanda adanya tindakan tegas terhadap para oknum penjual tersebut. Harga yang didapatkan dari satu ekor penjualan beruang madu sangatlah tinggi sehingga pemburu berlomba-lomba untuk memburu satwa liar yang unik ini.

Bagian tubuh yang sering diburu adalah kantung empedu serta cairan yang berada di dalamnya. Beberapa masyarakat yakin bahwa kantung empedu serta cairan yang dihasilkan dari binatang ini dapat digunakan sebagai obat trasisional. Obat tradisional yang dimaksud adalah obat kuat yang dikonsumsi oleh kuli angkut atau para pekerja berat.

Konflik antara manusia dengan binatang terkait dengan perebutan daerah yang meliputi wilayah pertanian merupakan ancaman bagi beruang jenis ini. Bencana alam seperti kebakaran hutan juga dapat menyebabkan rusaknya habitat beruang madu serta mempengaruhi kelangsungan hidupnya. Binatang pemangsa lain seperti ular piton juga dapat mengancam hidup bagi beruang jenis ini selain karena faktor alam.