Bambu: Pengertian, Morfologi, dan Potensi

Diposting pada

7. Manfaat dan Kegunaan Bambu

Bambu merupakan salah satu tanaman yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Di pedesaan, kehidupan masyarakat umumnya tidak dapat dipisahkan dengan tanaman ini. Bagaimana tidak, hampir semua kebutuhan masyarakat desa memanfaatkannya sebagai bahan utama atau pun sebagai bahan alternatif.

Bahkan ketika ada bayi di desa yang baru lahir, tanaman ini sudah menjadi kebutuhannya untuk memotong pusar dan khitan atau sunatan bagi anak laki-laki. Ketika meninggal dunia pun, tanaman ini masih menjadi kebutuhan bagi masyarakat desa untuk melakukan kremasi jenazah.

Masyarakat juga memanfaatkan tanaman ini dalam kehidupan sehari-hari, seperti untuk diolah menjadi bahan makanan dengan memanfaatkan rebung.

Selain itu bambu dibuat menjadi sapu lidi, konstruksi (untuk membangun rumah, jembatan, tiang, atap, dinding, dan sebagainya), peralatan rumah tangga, dan diolah menjadi berbagai jenis kerajinan.

Bambu juga seringkali digunakan sebagai bahan bakar upacara adat.

Pemanfaatan Bambu (pinterest.com)
Pemanfaatan Bambu (pinterest.com)

Selain itu, tanaman ini juga bermanfaat sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti hasil hutan kayu.

Advertisement nature photography

Tidak hanya itu, tanaman ini memiliki kegunaan lainnya antara lain kegunaan ekologis. Tanaman ini diyakini mampu memperbaiki daerah tangkapan air sehingga aliran bawah tanah mengalami peningkatan. Tak heran jika beberapa negara di Asia seperti Tiongkok menjadikannya sebagai tanaman utama konservasi alam.

Hal serupa juga dilakukan oleh masyarakat Desa Pakraman Angseri, Provinsi Bali. Mereka memanfaatkan tanaman ini sebagai tanaman utama hutan rakyat seluas 12 hektare yang mereka bangun.

Ternyata penanaman bambu di hutan rakyat tersebut berhasil memperbaiki dan memulihkan sumber mata air melalui aliran bawah tanah serta pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) sebagai kerajinan dan juga sebagai tempat wisata mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

8. Budidaya

Budidaya bambu dapat dilakukan di lahan basah maupun lahan kering. Tanaman ini merupakan jenis tanaman yang cepat tumbuh dan mudah untuk dibudidayakan. Tumbuhan ini bisa hidup di lahan yang tidak pernah tergenang maupun yang sesekali tergenang air.

Jenis-jenis bambu yang dapat ditanam di lahan kering antara lain kelompok Gigantochloa dan Dendrocalamus. Sedangkan jenis yang dapat dibudidayakan di lahan basah adalah kelompok Bambusa.

Budidaya bambu juga harus mempertimbangkan kondisi iklim. Semakin kering iklim maka semakin sedikit jenis-jenisnya yang dapat dibudidayakan dan sebaliknya semakin basah iklim maka semakin banyak jenis-jenisnya yang dapat dibudidayakan.

Sebelum melakukan budidaya, seperti budidaya tanaman pada umumnya budidaya tanaman ini juga memerlukan persiapan penanaman yang meliputi pembukaan lahan, penentuan jarak tanam, pemasangan ajir, menyiapkan pupuk organik, dan pembuatan lubang tanam.

Sebelum melakukan penanaman, lahan perlu dibersihkan dari semak belukar, alang-alang, maupun jenis-jenis pohon yang tumbuh di lahan tersebut sebelumnya. Pembersihan lahan biasanya dilakukan menjelang musim hujan. Sisa-sisa tanaman yang telah dibersihkan dari lahan tersebut selanjutnya dikumpulkan untuk dijadikan sebagai pupuk hijau

 Jarak tanam yang digunakan untuk budidaya tanaman ini adalah 8×8 atau 8×6 meter. Jika lahan yang digunakan adalah lahan miring maka jarak tanam dibuat searah kontur dengan jarak tanam di dalam satu kontur 8 meter dan jarak antar kontur lebih dari 2 meter.

Ajir dibuat berukuran panjang minimal 150 cm dengan tebal minimal 2 cm. Kemudian ajir ditancapkan pada titik-titik tertentu sesuai dengan jarak tanam yang telah ditentukan.

Proses selanjutnya setelah persiapan penanaman adalah penyiapan bibit, penanaman, pemeliharaan (penyulaman, penyiangan, babat semak, pemangkasan, pemupukan, penjarangan, pengaturan struktur dan komposisi batang dalam rumpun, dan pengaturan drainase), kemudian dilanjutkan dengan proses penebangan.

Bibit yang dipilih adalah bibit yang berasal dari stek batang di polybag yang sudah berumur 4 sampai 5 bulan. Jika batang bibit tersebut terlalu tinggi maka dilakukan pemangkasan hingga tinggi batangnya tersebut hanya mencapai 1 meter.

Setelah penyiapan bibit, penentuan waktu penanaman bibit juga sangat penting. Penanaman sebaiknya dilakukan pada musim hujan untuk mengurangi tingkat kematian dalam penanaman.

Sebelum dilakukan penanaman, perlu dilakukan penggalian kembali lubang tanam yang telah dibuat sebelumnya.

Setelah dilakukan penanaman, selanjutnya dilakukan pemeliharaan tanaman. Penyulaman dilakukan ketika ada tanaman yang mati. Penyiangan dilakukan pada saat berumur 1 hingga 2 tahun selama 3 kali di awal, tengah, dan akhir musim hujan.

Pemangkasan biasanya dilakukan pada seluruh batang yang sudah menghasilkan cabang yang tingginya mencapai 2 meter.

Pemupukan pada tanaman ini perlu dilakukan secara intensif. Jenis pupuk yang digunakan dapat berupa TSP dan urea (N) serta dapat juga menggunakan pupuk organik, pupuk kandang, atau pupuk hijau. Dosis pupuk yang diberikan tergantung umur tanaman.

Pupuk diberikan dengan frekuensi 1 kali dalam setahun yaitu menjelang musim hujan. Pemupukan dilakukan dengan membuat parit mengelilingi rumpun dan menaburkan pupuk di dalam parit tersebut dengan kedalaman 10 cm.

Sedangkan pupuk kandang dapat ditaburkan pada bagian tengah rumpun. Kegiatan penjarangan dilakukan dengan cara menghilangkan atau memangkas batang yang rusak atau tidak produktif pada saat  berumur 4 tahun.

Teknik pemanenan batang yang benar adalah dengan melakukan penebangan pada bagian pangkal (5-10 cm) menggunakan kapak atau golok kemudian ditarik dan dilakukan pembersihan atau pemangkasan cabang.

Pemanenan pertama sebaiknya dilakukan pada saat berumur 5 tahun dan bambu yang dipanen adalah batang generasi ketiga. Pemanenan selanjutnya dilakukan setiap tahun dengan menebang batang generasi keempat.