Bambu: Pengertian, Morfologi, dan Potensi

Diposting pada

5. Habitat dan Sebaran Bambu

Habitat bambu umumnya ditemukan di daerah-daerah dengan berbagai jenis iklim, mulai dari daerah beriklim tropis panas hingga daerah yang memiliki iklim dingin pegunungan.

Sebaran tanaman ini di dunia umumnya ditemukan di sepanjang Asia Timur tepatnya pada 50o Lintang Utara di daerah Sakhalian hingga Australia bagian utara, dan di Sub Sahara Afrika, India bagian barat hingga Himalaya, dan juga di Amerika dari Amerika bagian Utara (pertengahan Atlantik) hingga Amerika bagian Selatan (Chili dan Argentina), hingga mencapai titik paling selatan tepatnya pada 470 Lintang Selatan.

Di Benua Eropa tidak ditemukan spesies bambu endemik. Sementara di Indonesia, habitatnya ditemukan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Indonesia memiliki spesies bambu endemik, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

6. Jenis-jenis Bambu di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki biodiversitas yang tinggi. Tak heran jika sekitar 159 spesies dari total 1.250 spesies bambu di dunia bertengger dengan subur di wilayah Indonesia. 88 spesies dari 159 spesies yang ada di Indonesia merupakan spesies endemik Indonesia.

Dendrocalamus asper atau Bambu Betung (instagram.com)
Dendrocalamus asper atau Bambu Betung (instagram.com)

Dilansir dari Tribun Jabar, salah satu pendiri organisasi Perkumpulan Pelaku Usaha Bambu Indonesia (Perpubi) mengatakan bahwa di daerah Jawa Barat terdapat 40 jenis dan jenis yang paling dikenal adalah bambu betung, haur, gombong, dan tali.

Berikut jenis-jenis yang ditemukan berhasil tumbuh dengan subur di Indonesia.

Advertisement nature photography
  • Arundinaria japanica di Pulau Jawa
  • Bambusa arundinacea yang sering disebut pring ori di Pulau Sulawesi dan Pulau Jawa.
  • B. balcooa di Pulau Jawa
  • B. atra di wilayah Maluku
  • B. horsfieldii yang sering disebut bambu embong di Pulau Jawa
  • B. blumeana yang sering disebut bambu duri di wilayah Nusa Tenggara, Jawa, dan Sulawesi
  • B. maculata yang sering disebut bambu tutul atau pring tutul di Pulau Bali
  • B. glaucescens yang sering disebut cendani atau bambu pagar di Pulau Jawa
  • B. tulda di Pulau Jawa
  • B. multiplex yang sering disebut mrengenani atau bambu cendani di Pulau Jawa
  • B. tuldoides yang sering disebut haur hejo di Pulau Jawa
  • B. polymorpha di Pulau Jawa
  • vulgaris yang sering disebut haur kuneng, pring kuning, haur hejo, atau awi ampel di Pulau Sumatera, Pulau Jawa, dan Maluku
  • Dendrocalamus strictur yang sering disebut bambu batu di Pulau Jawa
  • Dendrocalamus asper yang sering disebut bambu petung di Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Bali, Pulau Kalimantan, dan Pulau Sulawesi.
  • Dinochloa scandens yang sering disebut bambu cangkoreh atau kadalan di Pulau Jawa
  • Dendrocalamus giganteus yang sering disebut bambu sembilang di Pulau Jawa
  • Gigantochloa apus yang sering disebut bambu tali atau bambu apus di Pulau Jawa
  • Gigantochloa atter yang sering disebut bambu ater, Jawa benel, awi kekes, bambu legi, buluh, atau awi ater di Pulau Jawa
  • Gigantochloa atroviolacea yang sering disebut bambu wulung, gombong, atau bambu hitam di Pulau Jawa
  • Gigantochloa kuring yang sering disebut awi belang di Pulau Jawa
  • Gigantochloa achmadii yang sering disebut buluh apus di Pulau Sumatera
  • Gigantochloa levis yang sering disebut bambu suluk di Pulau Kalimantan
  • Gigantochloa hasskarliana yang sering disebut bambu lengkang tali di Pulau Jawa, Pulau Bali, dan Pulau Sumatera
  • Gigantochloa pruriens yang sering disebut buluh rengen di Pulau Sumatera
  • Gigantochloa manggong yang sering disebut bambu manggong di Pulau Jawa
  • Gigantochloa psedoarundinaceae yang sering disebut gambang surat, bambu andong, atau peri di Pulau Jawa
  • Gigantochloa nigrocillata yang sering disebut bambu bubat, bambu lengka, atau bambu terung di Pulau Jawa
  • Gigantochloa ridleyi yang sering disebut tiang kaas di Pulau Bali
  • Gigantochloa verticillata yang sering disebut bambu hitam
  • Gigantochloa robusta yang sering disebut temen serit atau bambu mayan di Pulau Bali, Pulau Jawa, dan Pulau Sumatera
  • Melocanna bacifera yang ditemukan di Pulau Jawa
  • Gigantochloa waryi yang sering disebut buluh dabo di Pulau Sumatera
  • Phyllostachys aurea yang sering disebut bambu buluh kecil atau bambu uncea di Pulau Jawa
  • Nastus elegantissimus yang sering disebut bambu eul-eul di Pulau Jawa
  • Schizotachyum blunei yang sering disebut bambu tamiang atau bambu wuluh di wilayah Nusa Tenggara Timur, Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Pulau Maluku, Pulau Sulawesi, dan Pulau Kalimantan
  • Schizotachyum candatum yang sering disebut buluh bungkok di Pulau Sumatera
  • Schizotachyum brachycladum yang sering disebut buluh nehe, bambu buluh besar, ute watat, tomula, atau awi buluh di Pulau Jawa, Maluku, Pulau Sumatera, dan Pulau Sulawesi.
  • Schizotachyum zollingeri yang sering disebut bambu lampar, bambu jala, atau cakeutreuk di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera
  • Schizotachyum lima yang sering disebut bambu toi di Pulau Sulawesi, Pulau Jawa, Pulau Maluku, dan Papua
  • Schizotachyum longispiculata yang sering disebut bambu jalur di Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, dan Pulau Sumatera
  • Thryrsostachys siamensis yang sering disebut bambu Jepang di Pulau Jawa

Jenis-jenis di atas adalah jenis-jenis yang ditemukan pernah tumbuh di Indonesia. Namun saat ini tidak semua jenis tersebut masih memiliki jumlah yang cukup di Indonesia. Artinya, saat ini beberapa jenis telah mengalami kelangkaan dan sudah mulai sulit ditemukan keberadaannya.