Anoa: Taksonomi, Status Kelangkaan, dan Morfologi

Diposting pada

7. Perilaku

Perilaku satwa langka ini biasanya hidup secara soliter atau semisoliter, dan jarang sekali ditemukan dalam kawanan besar. Jika ditemukan dalam kawanan, tak jarang hanya berjumlah dua sampai lima ekor saja. Kawanan tersebut biasanya terdiri dari sepasangan individu, Anoa yang sedang mengandung, atau pun sang induk yang bersama anaknya.

Hewan unik ini umumnya hidup di hutan-hutan yang lebat, dekat aliran sungai, rawa-rawa, danau, dan sumber air panas yang mengandung mineral garam di beberapa pesisir pantai Sulawesi.

Perilaku unik lain dari hewan ini adalah memerlukan mineral berupa garam alam. Anoa pegunungan biasanya menjilati batu yang mengandung garam mineral, sedangkan anoa dataran rendah memenuhi kebutuhan mineralnya dengan cara meminum air laut.

Hewan jantan memiliki perilaku unik yang terlihat sering menandai batang pohon dengan tanduknya, setelah itu sang jantan akan kencing dan menggaruk tanah di sekitar pohon tersebut. Perilaku tersebut dilakukan sang jantan untuk menunjukkan wilayah kekuasaannya.

Anoa akan sangat agresif ketika sedang dalam masa birahi, terluka, sedang mengandung, dan bersama anaknya.

8. Perkembangbiakan

Indukan rata-rata melahirkan satu bayi Anoa saja dan jarang sekali melahirkan dua bayi. Masa kehamilan atau hewan ini mengandung sekitar 275 sampai 315 hari.

Advertisement nature photography

Saat dilahirkan bayi Anoa memiliki warna bulu cokelat kekuningan atau keemasan dengan bulu yang sangat tebal. Warnanya perlahan akan menjadi gelap seiring bertambahnya usia.

"<yoastmark

Antara enam bulan sampai sembilan bulan anak Anoa akan bersama induknya, dan akan memisahkan diri ketika dewasa.

Anoa memiliki usia harapan hidup sampai berumur 20 tahun hingga 30 tahun dan sudah mampu berkembang biak pada umur 2 tahun atau umur 3 tahun.

9. Upaya Konservasi

Populasi Anoa di alam liar diperkirakan kurang dari 2500 individu dewasa dari masing-masing kedua spesies dengan laju penurunan populasi selama kurang lebih 14 – 18 tahun terakhir ini sekitar 20%. Kondisi ini dipicu oleh pesatnya pertumbuhan penduduk saat ini di Pulau Sulawesi.

Faktor utama penyebab tajamnya penurunan populasi satwa khas Sulawesi ini adalah manusia. Maraknya pembukaan hutan untuk perkebunan, pertambangan, pertanian, dan permukiman membuat wilayah jelajah Anoa terfragmentasi sehingga menempati tempat-tempat yang kecil di seluruh tempat di Sulawesi.

Perlu diketahui bahwa Anoa tidak memiliki predator alami di alam. Satu-satunya predator atau musuh satwa langka ini adalah manusia itu sendiri. Perburuan anoa sampai saat ini masih sering terjadi yang dilakukan masyarakat sekitar untuk dikonsumsi dagingnya.

Sekitar 275 individu dewasa berkurang setiap tahunnya karena perburuan. Dilansir dari KOMPAS (01/10/2016) daging hewan ini masih marak diperjualbelikan dengan harga Rp30.000,00 per kilogramnya.

Harga daging yang lebih murah dibandingkan daging sapi menjadi alternatif lain bagi masyarakat yang ingin mengonsumsi daging. Perdagangan ini masih dijumpai di Kecamatan Dengilo, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Para pemburu adalah masyarakat lokal setempat.

Sejak tahun 1986 anoa telah masuk ke dalam hewan terancam punah oleh International Union for Conservation Of Nature (IUCN) sehingga populasinya sedang berisiko tinggi terancam mengalami kepunahan di alam.

Sedangkan menurut Covention of International Trade of Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES) hewan ini termasuk ke dalam Appendix I yang artinya tidak boleh diperjualbelikan atau bebas dari perdagangan.

Upaya-upaya konservasi yang dilakukan untuk menjaga Anoa agar tetap eksis sudah sejak lama dilakukan. Sejak tahun 1936 telah diterbitkan peraturan Ordinasi Perlindungan Binatang Liar yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda kala itu. Peraturan tersebut menyatakan bahwa anoa wajib dilindungi karena sebarannnya yang sangat terbatas di alam.

Fauna asal Sulawesi ini dilindungi secara hukum oleh pemerintah Indonesia dalam Peraturan Undang-undang No. 5 Tahun 1999 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Upaya perlindungan satwa ini mengalami perkembangan dengan dikeluarkannya Peraturan Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) No. 54 Tahun 2013 yang mengatur tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) anoa Tahun 2013 – 2022.

Dikeluarkannya peraturan KLHK ini ditengarai oleh program pembangunan yang harus selaras dengan konservasi satwa langka dan habitatnya. KLHK sendiri memiliki tugas dan dibebani untuk meningkatkan populasi spesies yang terancam punah sebesar 10% sehingga harus gencar melakukan upaya konservasi.

Selain upaya konservasi yang dipayungi hukum, penangkaran merupakan pilihan lain sebagai upaya dalam menyukseskan upaya perlindungan satwa ini. Upaya konservasi secara ex-situ ini memiliki tujuan utama memperbanyak populasi dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Penangkaran anoa sudah banyak dilakukan oleh lembaga-lembaga terkait di beberapa Taman Nasional (TN) di Sulawesi.

Penangkaran satwa langka ini yang terkenal adalah Anoa Breeding Center (ABC) di Manado. ABC Manado diresmikan pada tahun 2015 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang terdiri dari 5 ekor jantan dan 2 ekor betina.

Anoa Breeding Center (ABC) merupakan bentuk kesadaran masyarakat dalam upaya menyelamatkan Anoa dari ambang kepunahan yaitu dengan menyerahkan hewan endemik ini ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara dan dipelihara oleh BPK Manado.

Kendati upaya penangkaran yang terus berkembang, masih diperlukan berbagai banyak penelitian terkait pola reproduksi Anoa yang masih memiliki keterbatasan informasi. Penelitian dari berbagai pihak seperti badan penelitian di Indonesia dan mahasiswa harus bekerja sama dalam hal ini. Dukungan dari pemerintah pusat terkait anggaran juga sangat diperlukan agar upaya konservasi berjalan dengan lancar.

Anoa merupakan salah satu dari banyaknya hewan unik di Indonesia yang terancam punah di alam. Berbagai upaya harus dilakukan untuk menjaga hewan unik asal Sulawesi ini agar ekosistem hutan seimbang dan terjaga. Kerjasama dari berbagai elemen masyarakat perlu dikuatkan agar maskot Provinsi Sulawesi Tenggara ini tidak menjadi dongeng semata di masa depan.

 

Editor:
Mega Dinda Larasati

Gambar Gravatar
Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB berasal dari Bogor yang ingin belajar menulis dan berpetualang mencari sesuatu. Aktif di Himpunan Mahasiswa Manajemen Hutan FMSC sebagai Staff Scientific Development dan menjadi Asisten Praktikum di beberapa mata kuliah divisi perencanaan hutan.