Anoa: Taksonomi, Status Kelangkaan, dan Morfologi

Diposting pada

4. Makanan

Anoa merupakan hewan herbivora seperti kerabat-kerabatnya. Di habitat aslinya, satwa ini memakan makanan yang mengandung air seperti beberapa jenis rumput-rumputan, semak, herba, bagian-bagian tumbuhan seperti daun muda (pucuk), pakis-pakisan, buah-buahan jatuh, tunas pohon, dan juga beberapa umbi-umbian.

Satwa ini merupakan jenis memamah biak atau ruminansia.

Satwa langka asal Pulau Sulawesi ini memerlukan garam yang diperoleh di alam dengan cara menjilat batu yang mengandung garam dan mineral bagi yang berasal dari pegunungan. Anoa dataran rendah biasanya memenuhi kebutuhan garam mineral dengan cara meminum air laut.

Di penangkaran, jenis makanan yang sering diberikan berupa bayam, kangkung, ubi jalar, daun kumis kucing, daun ketela pohon, buah kedondong, buah manga muda, kulit pisang, daun cabe, daun nangka, dan beberapa jenis rerumputan.

Sebagai hewan herbivora, Anoa lebih bersifat sebagai pemakan daun atau semak (browser) dibandingkan sebagai pemakan rumput (grazer). Perilaku hewan ini dibuktikan dari pengamatan satwa di Kebun Binatang Ragunan yang memperlihatkan hewan langka ini lebih menyukai makanan campuran daripada makanan tunggal.

5. Habitat dan Wilayah Jelajah

Sebagaimana kita ketahui, terdapat dua jenis Anoa yaitu Anoa dataran rendah dan Anoa pegunungan. Anoa dataran rendah biasanya menempati hutan hujan tropis, pesisir pantai, lembah-lembah, padang rumput di dataran rendah, dan terkadang di rawa-rawa dengan ketinggian 1000 mdpl.

Advertisement nature photography

Anoa pegunungan biasanya ditemukan di wilayah pegunungan Sulawesi yang terdapat tutupan hutannya hingga di ketinggian 2300 mdpl.

Anoa umumnya berada pada hutan yang belum terjamah (virgin forest) dengan kisaran suhu rata-rata harian 22 – 27 derajat celcius. Jenis satwa ini menyukai tempat yang berdekatan dengan aliran sungai dan hutan bambu serta menempati wilayah dengan kelerengan dan ketinggian yang bervariasi.

Pulau Sulawesi merupakan tempat yang cocok bagi kedua jenis hewan langka ini karena memiliki banyak gunung dan pegunungan sehingga tanah tergolong subur. Tanah Sulawesi memiliki beragam jenis tanaman yang cocok bagi hewan herbivora endemik tersebut.

6. Sebaran Anoa

Sebaran Anoa sangat terbatas di seluruh dunia karena merupakan hewan endemik yang hanya ditemukan di Pulau Sulawesi. Hewan langka ini ditemukan di Pulau Utama Sulawesi dan Pulau Buton di lepas pantai tenggara, belum terdapat laporan hewan ini ditemukan di pulau-pulau di sekitar Sulawesi (Burton et al. 2005).

Menurut Groves (1969), Anoa pegunungan juga di temukan di semenanjung utara dan sebagian semenanjung tenggara Pulau Sulawesi.

Menurut Gunawan (1996) anoa juga dapat ditemukan di Pulau Sulawesi yang meliputi Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara.

Berdasarkan peta sebarannya dan fakta populasinya di alam, distribusi satwa ini mengalami laju penurunan yang begitu cepat di Sulawesi bagian utara. Hal ini dibuktikan di beberapa kawasan konservasi keberadaan hewan langka ini di Sulawesi Utara seperti Cagar Alam Gunung Ambang, Cagar Alam Tangkoko Batuangus, dan Cagar Alam Manembo-nembo yang telah mengalami kepunahan secara lokal.

Beberapa tempat yang dilaporkan masih terdapat satwa langka ini adalah Cagar Alam Gunung Lambusango, Taman Nasional Lore Lindu, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Suaka Margasatwa Nantu, Pegunungan Takolekaju, Pegunungan Latimojong, Pegunungan Quarles, hutan lindung di sekitar Danau Towuti dan Danau Matano, hutan Tanjung Peropa, hutan di Kolaka, Pegunungan Abuki dan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.

Populasi hewan eksotik ini pun sangat terbatas dan mendiami hutan-hutan yang belum terjamah oleh manusia (virgin forest).

Gambar Gravatar
Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB berasal dari Bogor yang ingin belajar menulis dan berpetualang mencari sesuatu. Aktif di Himpunan Mahasiswa Manajemen Hutan FMSC sebagai Staff Scientific Development dan menjadi Asisten Praktikum di beberapa mata kuliah divisi perencanaan hutan.