Adaptasi: Pengertian, Tujuan, Jenis, dan Contoh

Diposting pada

3. Jenis-Jenis Adaptasi

Proses adaptasi makhluk hidup berbeda-beda sesuai dengan kemampuannya. Perbedaan jenis juga memiliki proses adaptasi yang berbeda juga. Proses adaptasi dilihat dari perubahan bentuknya dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu adaptasi bentuk tubuh (morfologi), adaptasi proses metabolisme tubuh (fisiologi), dan adaptasi perilaku.

3.1 Adaptasi Morfologi

Proses adaptasi morfologi adalah penyesuaian bentuk tubuh makhluk hidup terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Bagian-bagian yang biasa diubah seperti bentuk mulut, alat gerak, maupun bentuk tubuh keseluruhan. Adaptasi ini sangat mudah diidentifikasi karena dapat terlihat jelas dengan mata. Penyesuaian ini dilakukan agar dapat mendapat makanan serta bentuk tubuh yang sesuai dengan lingkungan. Contoh adaptasi morfologi antara lain bentuk paruh dan kaki burung yang berbeda-beda, tipe alat mulut serangga, bentuk daun tumbuhan, juga bentuk tubuh secara keseluruhan dari hewan maupun tumbuhan.

3.2 Adaptasi Fisiologi

Proses adaptasi fisiologi adalah penyesuaian proses metabolisme tubuh atau fungsi kerja organ makhluk hidup terhadap kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Adaptasi ini cukup sulit diidentifikasi karena berlangsung di dalam tubuh. Contoh adaptasi fisiologi antara lain meliputi organ sirkulasi darah, organ pernafasan, organ pencernaan, dan organ lainnya. Penyesuaian proses fisiologi pada makhluk hidup tidak hanya pada satu organ saja, namun berkaitan juga dengan organ lainnya.

3.3 Adaptasi Perilaku

Proses adaptasi perilaku adalah penyesuaian tingkah laku makhluk hidup terhadap kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Biasanya adaptasi perilaku selain untuk mendapatkan makanan, juga untuk melindungi diri dari musuh dan predator. Penyesuaian tingkah laku dilakukan paling banyak oleh hewan karena sebagai bentuk respon terhadap rangsangan dari luar. Contoh adaptasi perilaku adalah penyesuaian waktu makhluk hidup dalam berkegiatan, hibernasi, penyamaran warna tubuh, dan lainnya.

3.4 Adaptasi pada Hewan

Adaptasi pada hewan dapat mencakup ketiganya, antara morfologi, fisiologi, dan perilaku. Adaptasi morfologi pada hewan dapat dilihat pada alat mulut serangga yang berbeda dan bentuk paruh serta kaki burung yang berbeda. Lingkungan yang ekstrem memaksa hewan yang hidup di tempat tersebut melakukan adaptasi. Contohnya padang pasir memiliki suhu yang tinggi dan jarang ditemukannya sumber mata air. Unta yang hidup di padang pasir memiliki bentuk tubuh yang mampu menyimpan air. Punuk unta dapat berfungsi sebagai penyimpan lemak sehingga ia dapat bertahan lama tanpa meminum air.

Contoh adaptasi fisiologi pada hewan adalah cara ikan untuk menyeimbangkan kadar garam dalam tubuhnya. Air laut memiliki kadar garam yang lebih tinggi daripada air tawar sehingga memaksa ikan yang berada di laut memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kondisi tersebut. Cara ikan untuk beradaptasi pada kondisi lingkungan dengan kadar garam tinggi adalah dengan mengeluarkan urin yang pekat. Hal tersebut dapat diartikan bahwa ikan air laut mengeluarkan urin lebih pekat daripada ikan air tawar untuk menyeimbangkan kadar garam dalam tubuhnya.

Hewan juga melakukan adaptasi perilaku yang sebagian besar digunakan untuk menghindari dari musuh atau predator. Contohnya bunglon melakukan penyesuaian dengan mengubah warna tubuh yang menyerupai tempatnya untuk menghindari musuh dan mempermudah dalam mencari makanan. Adaptasi itu disebut dengan mimikri.

3.5 Adaptasi pada Tumbuhan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah tempat tumbuh itu sendiri, meliputi lingkungan serta tanahnya. Tumbuhan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang menghambat ia untuk berkembang.

Kaktus melakukan penyesuaian bentuk tubuh dengan memodifikasi daun menjadi lebih ramping seperti duri dan menyimpan banyak air pada batangnya. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi penguapan akibat kondisi lingkungan gurun yang ekstrem.

Tumbuhan juga dapat menghasilkan zat kimia yang dapat menghambat pertumbuhan jenis tumbuhan lain di sekitarnya. Zat kimia tersebut disebut dengan zat alelopati. Pohon pinus menghasilkan zat alelopati untuk menghambat pertumbuhan tanaman lain. Contoh lainnya adalah tumbuhan yang penyerbukkannya dibantu oleh serangga akan mengeluarkan aroma wangi agar menarik serangga datang.

Jati akan menggugurkan daunnya pada waktu tertentu untuk mengurangi penguapan yang berlebihan dari daun. Hal ini terjadi karena daun jati lebar dan besar sehingga mudah mengalami penguapan jika tidak digugurkan. Proses ini termasuk ke dalam penyesuaian tingkah laku.