Karakteristik Taman Nasional Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) merupakan kawasan taman nasional yang memiliki keindahan yang luar biasa. Berbagai zona terdapat di TNUK, yaitu zona khusus, tradisional, inti, rimba, perlindungan bahari, pemanfaatan, rehabilitasi, religi, dan khusus. Desa yang berbatasan langsung dengan TNUK adalah desa Ujung Jaya, Taman Jaya, Cigorondong, Tanggul Jaya, Kertamukti, Kertajaya, Sumberjaya, Tangkil Sari, Cimanggu, Padasuka, Mangkualam, Keramatjaya, Tugu, Cibadak, dan Rancapinang.

Zonasi Taman Nasional Ujung Kulon

Resort yang terdapat di TNUK pun cukup banyak yaitu resort katapang, kopi, taman jaya, cibadak, legon pakis, cegog, kalejaten, karang ranjang, pulau handeuleum, dan pulau peucang. Berbagai resort tersebut tersebar di Pulau Jawa,  Panaitan, Handeuleum, karang Bayang, Peucang, dan Wetan.

Keanekaragaman Satwa di Taman Nasional Ujung Kulon

Satwa yang hidup di Taman Nasional Ujung Kulon merupakan satwa-satwa yang jarang ditemukan di daerah lain, di antaranya adalah Oa Jawa, Banteng, Badak Jawa, Monyet, Ajag (Anjing Hutan), Babi Hutan, Penyu Hijau, dan Macan Tutul. Kekayaan satwa ini selalu mengundang rasa keingintahuan para peneliti untuk meneliti di TNUK khususnya penelitian yang bergerak dalam bidang konservasi sumber daya alam hayati.

Maskot utama dari TNUK adalah Badak Jawa. Populasi Badak Jawa saat ini hanya ada di TNUK dan tidak ada lagi Badak bercula satu di dunia ini kecuali hanya di Taman Nasional Ujung Kulon. Maskot TNUK inilah yang seringkali menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan mancanegara, meskipun untuk menemui badak ini harus melakukan usaha yang keras karena habitatnya yang cukup jauh dari pemukiman warga.

Mitos di Taman Nasional Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon

Taman nasional merupakan tempat yang dilindungi keaslian dan kealamiannya sehingga makhluk hidup tumbuh dan berkembang secara alami. Taman nasional identik sekali dengan hutan yang sangat lebat, begitu pula dengan keadaan hutan di Taman Nasional Ujung Kulon. Hutan seringkali dianggap keramat oleh beberapa kalangan masyarakat, di Taman Nasional Ujung Kulon pun demikian. Banyak masyarakat yang seringkali mengunjungi Ujung Kulon hanya untuk mencari wangsit atau ilmu-ilmu hitam.

Menurut salah satu kepala seksi Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Bapak Agus, Pulau Jawa menurut mitos adalah seekor ular naga, Ujung Kulon merupakan kepala dari ular naga dan ekor dari ular naga ini berada di Alas Purwo. Konon apabila seseorang telah bertapa di bagian kepala, tengah, dan ekor ular naga ini maka akan mendapat kekuatan dari alam. Bagian tengah ular naga ini menurut kabar yang beredar berada di Yogyakarta. Hal tersebutlah yang mendorong banyak orang untuk bertapa di Ujung Kulon.

Permasalahan di Taman Nasional Ujung Kulon

Permasalahan utama di Taman Nasional Ujung Kulon adalah masalah perambahan terhadap kawasan taman nasional. Perambahan ini terjadi karena perilaku masyarakat yang masih bergantung pada sumber daya hutan. Sumber daya hutan yang biasa diambil adalah sumber daya lahan, ikan, kayu, dan buah-buahan yang berasal dari hutan.

Salah satu permasalahan yang sering menjadi benih konflik adalah permasalahan dalam hal perbatasan lahan. Pal batas TNUK seringkali dirusak atau dipindahkan oleh masyarakat untuk kepentingan perluasan lahan. Konflik ini berawal dari perluasan kawasan TNUK yang diperluas oleh negara sehingga mengambil sebagian luas lahan yang dimiliki oleh masyarakat.

Pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) merupakan solusi yang saat ini dilakukan oleh pihak Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Pengelolaan TNUK saat ini sudah melibatkan masyarakat dengan dibentuknya Rhino Monitoring Unit (RMU), Rhino Protecting Unit (RPU), dan masyarakat mitra polhut (MMP). Sistem pengelolaan seperti ini dilakukan agar masyarakat sekitar merasakan manfaat dari adanya TNUK.

Selain permasalahan dalam hal konflik antara masyarakat dan balai taman nasional, permasalahan dalam hal akses pun menjadi masalah utama. Jalan raya menuju TNUK rusak parah dan sangat menyulitkan masyarakat, terutama di desa Taman Jaya dan Ujung Jaya. Akses yang sangat sulit ini membuat harga pangan yang berada di desa tersebut sangat tinggi sehingga tingkat perekonomian masyarakat di sana sulit untuk berkembang.

Sumber: Redaksi Forester Act !