Istilah ekosistem pertama kali diusulkan oleh seorang ahli ekologi berkebangsaan Inggris bernama A. G. Tansley pada tahun 1935, meskipun tentu saja konsep itu sama sekali bukan merupakan konsep yang baru. Pada tahun 1877, seorang ahli ekologi berkebangsaan Jerman bernama Karl Mobius telah menulis tentang komunitas organisme dalam batu karang, dan menggunakan istilah yang mempunyai makna dengan ekosistem, yaitu biocoenosis (biokoenosis). Selain biokoenosis masih ada istilah-istilah serupa, seperti geobiokoenosis, holocoen, biosystem, dan bioenert, tetapi ekosistem pada saat ini lebih umum digunakan.

Arti Ekosistem (Definition of Ecosystem)

Beberapa definisi mengenai ekosistem dapat diuraikan sebagai berikut.

  1. Ecosystem yaitu suatu unit ekologi yang di dalamnya terdapat struktur dan fungsi (A G Tansley 1935 dalam Setiadi 1983). Struktur yang dimaksudkan dalam definisi ekosistem tersebut adalah berhubungan dengan keanekaragaman spesies (species diversity). Pada ekosistem yang strukturnya kompleks maka akan memiliki keanekararagaman spesies yang tinggi. Adapun kata fungsi yang dimaksudkan dalam definisi ekosistem menurut A G Tansley adalah berhubungan dengan siklus materi dan arus energi melalui komponen-komponen ekosistem.
  2. Ecosystem yaitu tatanan kesatuan secara kompleks di dalamnya terdapat habitat, tumbuhan, dan binatang yang dipertimbangkan sebagai unit kesatuan secara utuh sehingga semuanya akan menjadi bagian mata rantai siklus materi dan aliran energi (Woodbury 1954 dalam Setiadi 1983).
  3. Ecosystem menurut Odum (1993), yaitu unit fungsional dasar dalam ekologi yang di dalamnya tercakup organisme dan lingkungannya (lingkungan biotik dan abiotik) dan di antara keduanya saling memengaruhi. Ekosistem dikatakan sebagai suatu unit fungsional dasar dalam ekologi karena merupakan satuan terkecil yang memiliki komponen secara lengkap, memiliki relung ekologi secara lengkap, serta terdapat proses ekologi secara lengkap sehingga di dalam unit ini siklus materi dan arus energi terjadi sesuai dengan kondisi ekosistemnya.
  4. Ecosystem, yaitu tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkunga hidup yang saling memengaruhi (Undang-Undang Lingkungan Hidup Tahun 1997). Unsur-unsur lingkungan hidup baik unsur biotik maupun abiotik, baik makhluk hidup maupun benda mati, semuanya tersusun sebagai satu kesatuan dalam ekosistem yang masing-masing tidak bisa berdiri sendiri, tidak bisa hidup sendiri, melainkan saling berhubungan, saling mempengaruhi, saling berinteraksi, sehingga tidak dapat dipisahkan.
  5. Ecosystem menurut Soemarwoto (1983), adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Tingkatan organisasi ini dikatakan sebagai suatu sistem karena memiliki komponen-komponen dengan fungsi berbeda yang terkoordinasi secara baik sehingga masing-masing komponen terjadi hubungan timbal balik. Hubungan timbal balik terwujudkan dalam rantai makanan dan jaring makanan yang pada setiap proses ini terjadi aliran energi dan siklus materi.

Siklus Materi dan Aliran Energi Ekosistem

Siklus Materi dan Aliran Energi Ekosistem

Komponen Ekosistem (Ecosystem Component)

Semua ecosystem, baik ecosystem terestrial (daratan) maupun ecosystem aquatik (perairan) terdiri atas komponen-komponen yang dapat dikelompokkan berdasarkan segi trofik atau nutrisi dan segi struktur dasar ecosystem (Odum 1993).

Berdasarkan atas segi struktur dasar ekosistem maka komponen ecosystem terdiri atas dua jenis sebagai berikut (Gopal dan Bhardwaj 11979 dalam Setiadi 1983):

  1. Komponen biotik (komponen makhluk hidup), misalnya binatang, tetumbuhan, dan mikroba.
  2. Komponen abiotik (komponen benda mati), misalnya air, udara, tanah, dan energi.

Berdasarkan segi trofik atau nutrisi, maka komponen biotik dalam ecosystem terdiri atas dua jenis:

  1. Komponen autotrofik (autotrophic). Komponen autotrofik yaitu organisme yang mampu menyediakan atau mensintesis maknanannya sendiri berupa bahan organik yang berasal dari bahan-bahan anorganik dengan bantuan klorofil dan energi utama berupa radiasi matahari.
  2. Komponen heterotrofik (heterotrophic). Komponen heterotrofik yaitu organisme yang hidupnya selalu memanfaatkan bahan organik sebagai bahan makanannya, sedangkan bahan organik yang dimanfaatkan itu disediakan oleh organisme lain.

Odum (1993) mengemukakan bahwa semua ecosystem apabila ditinjau dari struktur dasarnya terdiri atas empat komponen. Pernyataan yang serupa juga dikemukakan oleh Resosoedarmo et al. (1986), bahwa ecosystem ditinjau dari segi penyusunnya terdiri atas empat komponen, yaitu komponen abiotik, komponen biotik yang mencakup produsen, konsumen, dan pengurai.

  1. Komponen abiotik (benda mati atau non hayati), yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri atas tanah, air, udara, sinar matahari, dan lain sebagainya yang berupa medium atai substrat untuk berlangsungnya kehidupan.
  2. Komponen produsen, yaitu organisme autotrofik yang pada umumnya berupa tumbuhan hijau.
  3. Komponen konsumen, yaitu organisme heterotrofik misalnya binatang dan manusia yang memakan organisme lain.
  4. Komponen pengurai, yaitu mikroorganisme yang hidupnya bergantung kepada bahan organik dari organisme mati (binatang, tumbuhan, dan manusia yang telah mati).

Pada semua ecosystem dengan tingkat organisasi yang berbeda-beda di dalamnya selalu terdapat empat komponen utama yang saling berinteraksi. Perbedaan antar ecosystem yang tingkat organisasinya berbeda itu hanya terletak pada beberapa hal antara lain:

  1. Jumlah spesies organisme produsen yang menjadi komponen ekosistem
  2. Jumlah spesies organisme konsumen yang menjadi komponen ekosistem
  3. Jumlah spesies organisme pengurai yang menjadi komponen ekosistem
  4. Jumlah dan jenis komponen abiotik yang terdapat dalam ekosistem
  5. Kompleksitas atau kerumitan interaksi antar komponen dalam ekosistem
  6. Tiap-tiap proses ekologi yang berjalan dalam ekosistem

Sumber: Redaksi Forester Act !

Referensi:

Indriyanto. 2012. Ekologi Hutan. Jakarta (ID): Bumi Aksara.